Perobek Al-Quran Di AS Dituding Gerakan Fasis

WASHINGTON: Setelah kontroversi rencana pembakaran Al-quran tertunda, kelompok Nasrani konservatif lainnya, partai konservatif sayap kanan (Tea Party), menggelar aksi merobek beberapa lembaran Al-quran di depan Gedung Putih, Sabtu (11/9).

Mereka menuding bahwa Al-quran menjadi sumber dari berbagai aksi terorisme, termasuk serangan 11/9, di menara kembar, tahun 2001. “Mengapa kita harus menghormati sebuah buku yang menolak Kristus, menyangkal Trinitas, menyebut kami sebagai kafir, dan menyatakan bahwa tuhan menginginkan Nasrani dan Yahudi dibuang, dipenjara, disalibkan, atau dibunuh?”kata Andrew Beacham, salah satu pemimpin dari kelompok ini, yang juga dikenal aktivis anti-komunis dan anti-aborsi.

Tea Party juga punya tokoh bernama Glenn Beck, yang baru-baru bersama Sarah Palin, dari partai Republik, memobilisasi ratusan ribu orang dan mengutuk Obama sebagai “pengikut marxisme”.

Seorang aktivis lainnya,  Randall Terry mengatakan, “Kami melakukan ini untuk menghentikan propaganda bahwa Islam adalah agama damai, hal ini harus harus segera diakhiri.”

Sebelumnya, Randall Terry baru saja merilis dua makalah yang berkaitan dengan hukum syariah, dan bagaimana kata-kata dan perbuatan Muhammad terhubung dengan aksi terorisme saat ini.

Jangan Terprovokasi Berbuat Serupa

Meskipun tokoh-tokoh agama di Indonesia mengecam tindakan ini, tetapi mereka menganjurkan “cara bijak” untuk menyelesaikan persoalan ini.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganggap aksi perobekan ini tidak terkait dengan kelompok atau agama apapun. “pelaku itu tidak mewakili suatu masyarakat dan agama tertentu”, ujarnya.

Ketua MUI, Amidhan, meminta kepada seluruh masyarakat Muslim agar tidak merespon aksi itu secara berlebihan. Apalagi jika mengarah pada aksi anarkisme. “Kalau anarkis berarti radikal lawan radikal. Itu tidak akan menyelesaikan masalah,” kata dia.

Sementara itu, Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Solahuddin Wahid menyerukan kepada umat islam Indonesia dan dunia untuk tidak terpancing dan melakukan tindakan yang sama buruknya dengan ulah segelintir orang yang merobek al-Qur’an di AS.

“Kita boleh tidak senang. Tapi jangan melakukan tindakan yang sama jeleknya,” katanya.

Demikian pula dengan pernyataan mantan Wakil Presiden, Yusuf Kalla, yang telah meminta masyarakat Indonesia tidak menyikapi kejadian itu secara berlebihan.

“Tapi itu jangan terlalu ditanggapi dengan hebat. Karena itu bisa menimbulkan masalah, tapi tentu itu (perobekan Alquran) salah,” ujar nya.

Tea Party dan fasisme

Di tengah krisis berkepanjangan di AS, Kemunculan Tea Party telah memberikan daya tarik tersendiri bagi golongan konservatif di sana dan orang-orang yang mudah terpukau dengan pidato demagogis.

Akhir Agustus lalu, Tea Party dan Sarah Palin mengumpulkan ratusan ribu orang di pusat kota Washington dan mereka menuding Obama sebagai pengikut dari “marxisme”.

Partai ini dikenal suka melemparkan isu-isu rasialis dan reaksioner, dan menjadi payung bagi berbagai kekuatan sayap kanan konservatif di AS. Mereka sering melancarkan demonstrasi dengan mengangakat isu penentangan terhadap hak aborsi, control penggunaan senjata, dan imigrasi.

Mereka juga menentang kebijakan-kebijakan “berbau sosial” Presiden Obama, seperti jaminan sosial dan kebijakan reformasi kesehatan, yang dituding sebagai manifestasi dari sosialisme.

George Donnelly, seorang libertarian kiri, pernah mengatakan, “Jika fasisme muncul di Amerika, maka pastilah Tea Party yang membawanya ke sini.”

“Tea party bukan gerakan libertarian. Meskipun terkooptasi pesan-pesan libertarian, tetapi kenyataannya adalah gerakan kanan. Mereka pro kepada perang, menentang toleransi, ultra-patriotis, pro-penyiksaan, dan mendukung retorika rasis terhadap kaum imigran tak berdokumen,” ujar George Donnely.

Gerakan Tea Party telah membentuk federasi baru, yang dikenal dengan nama  “National Tea Party Federation”. Dalam pengumuman di websitenya, federasi ini banyak didukung oleh group korporasi—group paling dominan misalnya  Freedom Works and Americans for Prosperity. Dua penyandang dana terbesar dan tidak ada putus-putusnya bagi gerakan ini adalah keluarga super kaya Koch dan perusahaan media-Fox News.

Ada yang mengatakan, kemunculan Tea Party menandai problem krisis yang semakin mendalam dan tidak terselesaikan di amerika. “Jika perdebatan soal krisis telah menyita waktu dan membuat pemerintah tidak populer, maka sebaiknya perdebatan di geser pada persoalan rasisme dan agama. Salah satunya, adalah Islamophobia,” demikian bunyi pendapat itu. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut