Pernyataan JK Dianggap Rasialis

JAKARTA: Pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat menghadiri acara “Kajian Ramadan” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (28/8), mendapat kritik luas di milis, terutama oleh masyarakat Indonesia di luar negeri.

Saat itu, JK mengatakan, titik lemah Indonesia saat ini adalah terletak di bidang ekonomi yang belum mampu menyejahterakan masyarakat secara luas dan merata. Akibatnya, tegas Jufuf Kalla, perekonomian Indonesia sampai sekarang masih didominasi oleh kaum non-Muslim terutama etnis Tionghoa (China).

Pernyataan itu, menurut sejumlah penghuni milis gelora 45, dianggap berbau rasialis karena telah menempatkan salah satu etnis sebagai biang kerok titik lemah perekonomian nasional, tanpa bercermin pada aspek-aspek yang lebih luas.

“Tak bisa sebab kebobrokan ekonomi Indonesia dilemparkan ke salah satu suku atau golongan, tetapi sistem keseluruhanlah yang menjadi sebab, sistem politik yang ada dan moral yang diakibatkannya” ujar seorang penghuni milis yang bernama Iramardi.

Sebaliknya, Iramardi menganggap bahwa titik lemah yang lebih pokok di Republik Indonesia dewasa ini adalah di bidang moral dan politik. “Bila moral rendah sudah menjadi patokan untuk hidup, maka semua bidang akan hancur. Bukan hanya ekonomi, tetapi politik, dan kebudayaan juga menyurut menjadi gembos,” katanya.

Penghuni milist lainnya, Arif Harsana, menilai,  Setiap sukubangsa di Tanah Air kita yang multiethnis dan multikultural itu memiliki keunggulannya masing-masing. “ Bila keunggulan yang dimiliki oleh setiap komponen bangsa ini bisa dijalin dengan tali persahabatan dan semangat solidaritas yang baik, niscaya kebhinekaan bangsa kita bisa menjadi faktor positip utuk kemajuan bangsa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Arif mengingatkan sejarah fasisme Jerman yang telah membantai etnis tertentu, atau sering disebut “Holocaust”, Jerman mengalami kemunduran besar dalam perkembangan masyarakatnya, karena hilangnya (dibunuhnya) sebagian besar putra-putri terbaiknya dibidang  ilmu dan pengetahuan, juga dibidang seni sastra dan budaya pada umumnya. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Bambang Budiono

    Benar2 sebuah pernyataan yg sangat Kontroversial, dimana pernyataan tersebut terlontar dari mulut seorang Negarawan (ex. Wapres), yang seharusnya paham betul bahwa negara kita adalah negara yang terbentuk dari berbagai suku bangsa, dengan berbagai budaya dan adat istiadatnya. Juga seharusnya paham betul bahwa untuk mencapai Kekuatan dan Kejayaan dari sebuah negara yang multi dimensi ini, DIBUTUHKAN Kesatuan dan Persatuan dari seluruh komponen anak bangsa.

    Jadi janganlah karena sesama pengusaha dan ‘selalu berkompetisi dengan keras’ dalam bidang usaha dengan etnis tertentu lalu persaingan tersebut dibawa kedalam suatu forum massa/ ranah yang bukan merupakan perkumpulan pengusaha.
    Sangatlah tidak etis jika hal tersebut dilakukan oleh seorang mantan negarawan… Harusnya justru melakukan Introspeksi Diri, apa yg dibaktikan kepada bangsa ini selama 5 tahun memegang jabatan. Dukungan dan kemudahan2/ fasilitas2 apa yg telah diberikan kepada kelompok2 pengusaha kecil & menengah agar mampu bersaing dengan pengusaha2 besar dari \etnis yg katanya\ mendominasi tersebut???…

    Hmmmm… gajah dipelupuk mata tidak tampak sedangkan Kuman diseberang lautan tampak, agaknya peribahasa ini memang cocok untuk diberikan kepada \sang penebar bom hijau kemasan 3 kg\… 🙂

  • ali susanto

    jgn karena gagal jadi RI 1 kemudian menyalahkan salah satu etnis ….pendek kali pikiran ex wapres brooo…saya juga pengusaha etnis Tionghoa (China)namun darah tetap indonesia dan mati juga di indonesia gajah dipelupuk mata tidak tampak sedangkan Kuman diseberang lautan tampak, agaknya peribahasa ini memang cocok untuk diberikan kepada sang penebar bom hijau kemasan 3 kg…
    semoga diampuni yg kuasa…..