Perlunya Kebanggaan Nasional

Ada yang menarik dari fenomena perhelatan olahraga di Sea Games XXVI: rakyat Indonesia seperti haus dengan sebuah kemenangan. Rakyat Indonesia tidak pernah bisa menutupi kegembiraannya ketika atlet-atletnya berhasil menyabet prestasi. Bahkan, sekalipun perjuangan atlet itu kandas di tengah jalan, dukungan rakyat Indonesia tidak serta-merta berbalik menjadi kebencian.

Olahraga memang jalan paling pintas untuk membangkitkan kebanggaan nasional. Di situlah tempatnya rakyat, baik kalangan bawah maupun menengah, bersatu-padu untuk memberikan dukungan kepada negaranya. Di situlah seolah-olah keterpurukan terobati dengan sebuah perasaan yang terkadang dianggap absurd: kita bangsa yang besar. Yah, bagi pemuja globalisasi neoliberal dan segala hal yang berbau barat, hal-hal yang berbau nasonalisme dianggap absurd.

Tetapi, sebagai bangsa yang terjajah selama ratusan tahun, hal-hal absurd semacam itu justru menjadi penting. Bung Karno adalah orang yang paling menyadari betapa pentingnya menjadikan kebanggaan nasional sebagai obat untuk menyembuhkan mental suatu bangsa yang ratusan tahun terjajah. Soekarno mengerti betul, bahwa selain memastikan transformasi politik dan ekonomi, revolusi Indonesia juga harus mentransformasikan jiwa dari perasaan inlander menjadi manusia merdeka.

Sehubungan dengan hal di atas, menarik pula untuk menyimak pernyataan mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, yang mengatakan: “Bangsa ini sungguh luar biasa. Semua orang rela berkorban untuk negeri ini sepanjang bisa diarahkan tentang tujuan besar yang ingin kita capai.” Setidaknya itulah yang dirasakan oleh JK saat memobilisasi antusiasme rakyat Indnesia untuk memberikan dukungan kepada Komodo sebagai bagian dari tujuh keajaiban dunia. Jualannya pun sangat sederhana: kita butuh sebuah kebanggan nasional.

Sekarang kita benar-benar bangsa yang terpuruk, bahkan kembali terperosok menjadi bangsa pariah. Setiap harinya kita disuguhkan dengan kabar-kabar miris dan mengoyak semangat kemanusiaan kita: kemiskinan, pengangguran, kelaparan, bunuh diri, kekerasan, diskriminasi, dan lain sebagainya. Bersamaan dengan itu, kita juga menemukan kesenjangan sosial yang makin lebar; kekayaan semakin terkonsentrasi pada segelintir tangan.

Tetapi neoliberalisme tidak hanya menghancurkan rakyat secara fisik, tetapi ideologi kanan paling reaksioner ini juga menghancurkan ikatan-ikatan solidaritas yang bersifat horizontal dan mengubah masyarakat kita menjadi semacam atom-atom yang terpisah satu sama lain.

Akibat neoliberalisme, sebagian besar rakyat kita tersegmentasi dalam unit-unit produksi kecil-kecilan (sektor informal). Sementara yang bekerja di sektor formal pun mulai diarahkan menjadi pekerja sub-kontrak, outsourcing, atau pekerja lepas. Terkadang, dihadapan pilihan lapangan pekerjaan yang makin sempit, para pekerja pun harus menerima hukum “kompetisi untuk bertahan hidup”.

Sementara itu, pada saat yang bersamaan, jutaan dollar kekayaan kita diangkut oleh perusahaan-perusahaan asing ke luar negeri, dan itu nyaris tanpa protes dan gugatan dari sebagian besar elit politik dan penyelenggara negara kita. Para elit politik dan pennyelenggara negara, khususnya rejim SBY-Budiono, menjadi fasilitator perampokan kekayaan alam itu melalalui serangkain kebijakan neoliberal; liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi, privatisasi, pencabutan subsidi, dan lain-lain.

Sejatinya, saat ini kita murni kembali menjadi bangsa jajajahan. Proses penjajahan itu menggunakan jubah “neoliberalisme”. Sistem ini tidak hanya memfasilitasi perampokan sumber daya alam, praktek tenaga kerja murah, mengubah kita menjadi pasar produk negeri imperialis, dan lahan subur bagi investasi, tetapi sistim ini juga menghancurkan infrastruktur politik kita yang sudah dibangun sejak revolusi Agustus 1945.

Lebih parah lagi, neoliberalisme menghancurkan kapasitas kita sebagai bangsa untuk bangkit melawan: sistim neoliberal mengubah massa rakyat kita menjadi partikel-partikel atom yang mengambang  dan hilir-mudik di tengah disiplin pasar. Mereka menghancurkan ikatan-ikatan solidaritas dan kolektivitas kita: gotong royong, tolerasi, persaudaraan, dan persataun nasional.

Karenanya, di tengah keterpurukan yang sudah sedemikian parah ini, kita butuh sebuah kebanggaan nasional untuk membangkitkan kembali jiwa yang terjajah dan terperintah oleh disiplin pasar. Kita memerlukan kebanggaan nasional itu untuk menyadarkan massa yang sudah terpisah menjadi atom-atom itu, bahwa kita adalah “bangsa yang besar dan kaya-raya”. Kita memerlukan kebanggan nasional untuk merekatkan kembali solidaritas dan semangat gotong-royong kita. Sebab, dengan begitulah, kita kembali punya harapan untuk bangkit mengusir penjajahan dan berjuang keras menuju dunia baru: masyarakat manusia yang sama rata, sama rasa.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut