Perlawanan Terhadap Mubarak Masih Terus Berlangsung

Aksi protes masih berlangsung di jalan-jalan di kota Kairo dan kota-kota lainnya di Mesir, ahad kemarin (30/1), mendorong rejim Hosni Mubarak dalam krisis politik berkepanjangan dan tidak menentu.

Sementara media setempat melaporkan bahwa Presiden Mubarak mengunjungi barak militer, sekaligus berharap dukungan dan loyalitas militer, instrumen paling kuat dalam kekuasaan negeri ini, meskipun perlawanan rakyat masih terus melakukan penentangan di jalan-jalan.

Mengenai siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertarungan ini, semua pihak masih sebatas menyampaikan “spekulasi”. Akan tetapi, point pentingnya adalah bahwa Presiden Hosni Mubarak harus menjaga loyalitas militer, sementara ekspresi kemarahan massa hanya berlangsung sesaat.

Dan, sebagai buktinya, kini polisi sudah ditarik dari jalanan, lalu kemudian digantikan oleh pasukan militer dan kendaraan lapis baja, melawan demonstran yang jumlahnya terus mengecil.

Mobarak pada sabtu malam baru bertemu dengan pimpinan tertinggi angkatan bersenjata, didampingi oleh kepala intelijen Omar Suleiman (kini diangkat menjadi wapres Husni Mubarak), Menteri pertahanan Mohamad Hussein Tantawi dan pejabat staff-nya Sami Anan.

Pesannya sangat jelas, demikian ditulis Prensa Latina, bahwa militer berada di sekitar Mubarak, sangat bertentangan dengan kejadian di Tunisia beberpa hari lalu, misalnya, dimana militer mengatakan bahwa Presiden Ben Ali harus pergi, dan Ben Ali pun segera melakukannya.

Sementara di organisasi perlawanan belum terlihat siapa pemimpinnya yang jelas, dan banyak organisasi perlawanan, Ikhwanul Muslimin contohnya, terlihat tidak cukup dukungan untuk mengambil-alih kekuasaan.

Mohammed El Baradei, yang baru saja kembali untuk memimpin aksi protes, sedang berada di dalam tahanan rumah dan tidak punya basis politik yang cukup untuk melakukan transisi, jika hal itu benar-benar terjadi.

Sementara itu, Presiden Hosni Mubarak terus menggali dukungan dari berbagai kelompok yang berbeda, termasuk dari Presiden otoritas Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Israel Benyamin Netanyahu.

Perbedaan substansial lainnya dengan Tunisia adalah sikap yang diambil oleh kekuatan-kekuatan utama di barat: Washington sangat berhati-hati dalam mengeluarkan statemen, begitu juga dengan London dan Paris.

Alasan untuk konvergensi yang tidak biasa ini dalam letak geografis Mesir, secara politik sangat signifikan bagi dunia barat dan AS tidak bisa begitu saja melepaskan rejim status quo yang dibangunnya dengan banyak uang, lalu melihat yang lain. Disamping itu, ada sejumlah ketakutan negara republik islam terkait kedekatannya dengan Israel.

Alasan lainnya adalah terusan Suez, telah menjadi mimpi buruk di tahun 1965, yang ketika Gamal Abdul Nasser menasionalisasi terusan tersebut, Inggris dan Perancis segera melakukan agresi militer, didukung oleh Israel, dan Washington memperingatkan Tel Aviv agar menahan diri untuk terlibat dalam perang.

Dan, harus diingat, bahwa hampir semua minyak yang mendorong ekonomi dibarat diperoleh dengan melalui terusan Suez ini, sehingga sangat beresiko untuk menyerahkan Mesir kepada kekuatan politik yang kurang berpengalaman dan belum punya kecenderungan politik yang stabil.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: