Ratusan Ribu Rakyat Mesir Memprotes Dekrit Otoritarian Mursi

Protes-lapangan-Tahrir

Lapangan Tahrir, simbol dari Revolusi di Mesir, kembali disesaki oleh ratusan ribu rakyat Mesir, Selasa (27/11/2012). Mereka menentang dekrit yang dikeluarkan oleh Presiden Mesir saat ini, Mohamed Mursi, untuk memperluas dan memperkuat kekuasaannya.

Bagi sebagian besar rakyat Mesir, dekrit baru tersebut hanya akan menempatkan Morsi sebagai “Firaun baru” di Mesir. Tak hanya itu, dekrit baru tersebut sangat jelas akan melucuti kemenangan demokrasi yang dicapai oleh revolusi.

Bentrokan meletus di lapangan Tahrir antara penentang dekrit dengan petugas kepolisian. Bentrokan baru itu menyebabkan satu orang tewas dan ratusan orang terluka. Dengan demikian, sudah 4 orang mengorbankan nyawa dalam lima hari terakhir perjuangan menentang kediktatoran baru di Mesir.

Tak hanya itu, kemarahan demonstran juga diluapkan pada partai pendukung Mohamed Mursi, Ikhwanul Muslimin (IM). Kantor IM di Alexandria, kota terbesar kedua di Mesir, diserbu oleh demonstran.

“Kami tidak menginginkan kediktatoran kembali. Husni Mubarak adalah diktator. Kami ingin revolusi demi keadilan dan kebebasan,” kata Ahmed Hussein, seorang demonstran, seperti dikutip kantor berita Reuter.

Menanggapi aksi protes yang terus meluas, IM dan sejumlah kelompok pendukung Presiden Mursi pun mengurungkan niat menggelar aksi tandingan.

Sementara Serikat Hakim Mesir menyerukan pemogokan nasional dan penghentian segala aktivitas pengadilan sebagai bentuk protes terhadap dekrit Mursi.

Kelompok kiri dan liberal telah mengambil peran penting dalam memperluas perlawanan terhadap kediktatoran baru di Mesir. Demonstran juga sudah membangun kemah di lapangan Tahrir, sekaligus pertanda bahwa perlawanan akan berlangsung panjang.

“Kami menolak dekrit baru dan ini harus benar-benar dibatalkan,” kata Sherif Qotb, seorang demonstran, kepada Reuter.

Mona Amer, jurubicara gerakan oposisi Popular Current, menyakinkan bahwa protes akan terus berlanjut hingga dekrit dicabut. “Kami meminta pembatalan dekrit dan itu belum terjadi,” katanya.

Mursi sendiri belum memperlihatkan itikad baik untuk menangguhkan dekrit yang dibuatnya. Sebaliknya, ia berusaha membuka celah dialog dengan kelompok oposisi, khususnya dengan Front Keselamatan Nasional.

Mesir sendiri makin terjerembab dalam krisis ekonomi. Presiden Mursi memilih mengambil kebijakan penghematan sebagai langkah mengendalikan defisit anggaran. Tidak hanya itu, pemimpim Ikhwanul Muslimin ini juga telah membuat kesepakatan baru dengan IMF terkait pinjaman sebesar 4,8 milyar dollar AS.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut