Perjuangan Venezuela Memajukan Industrinya

Venezuela sedang berjuang keras untuk keluar dari keterbelakangan. Salah satunya dengan menggenjot pembangunan industri nasionalnya.

Awal minggu ini, pemerintah Venezuela mengumumkan rencana mengekspor telepon seluler (ponsel) ke berbagai negara, khususnya Amerika Latin. Salah satu pabrik ponsel Venezuela, Orinoquia, di Petare, Caracas, sudah sanggup meningkatkan produksi sebesar 800.000 tahun lalu.

Pabrik ini merupakan hasil dukungan Tiongkok, khususnya dengan perusahaan Telecom dan Huawe. Orinoquia bertekad akan meningkatkan produksi nasionalnya dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Selain itu, proyek ini juga berupaya mengubah relasi sosial-produksi. Untuk anda ketahui, pekerja di pabrik ini hanya bekerja beberapa jam dan itupun sangat fleksibel. Mereka tinggal di komunitas di sekitar pabrik. Selain itu, mereka diperkenalkan dengan sistem demokratis dan sosialis di tempat kerja.

Chavez sendiri mengatakan, pemerintahannya sedang mempertimbangkan untuk membangun pabrik ponsel lainnya di negara bagian barat Falcon.

Kemajuan lain

Minggu ini juga Venezuela mengumumkan pendirian pabrik bola lampu hemat energi di pabrik Falcon. Usaha patungan dengan pemerintah Vietnam ini sudah berproduksi 80.000 bola lampu pertahun. Kabarnya, bola lampu ini menghemat 80% energi dibanding lampu biasa.

“Ini berbeda dengan kapitalisme, sebab kapitalisme itu boros,” kata Chavez.

Pemerintah Venezuela juga membuat kemajuan di sektor produksi yang lain. Khususnya melalui apa yang disebut koperasi dan “Bisnis Produksi Sosial (EPS), sejenis koperasi kecil dimana produksi ditujukan untuk kesejahteraan sosial dan bukan memaksimalkan profit. Para pekerjannya tidak terasing dan tidak dieksploitasi.

Nah, salah satu perusahaan rakyat-negara adalah EPS pertukangan di kota sosialis terbaru di Belen. Perusahaan ini diberi nama “Keajaiban Belen”, yang mempekerjakan 12 orang: 8 pria dan 4 wanita. Perusahaan rakyat ini memproduksi 1500 pintu sebulan dan hasil produksinya langsung dipakai untuk menunjang program perumahan pemerintah.

“Saya menjadi produktif untuk negara dan rakyat. Saya tidak akan meninggalkan komunitas saya,” kata Carla Pacheco, 19 tahun, yang bekerja di EPS.

Pekerja lainnya, Keyla Gonzalez, menambahkan, salah satu aspek positif bekerja di EPS adalah kesempatan yang sama.

“Aku melakukan apa yang aku suka dan tidak ada diskriminasi di sini. Pria dan wanita melakukan hal yang sama,” katanya.

Belajar dari masa lalu

Chavez sadar betul bahwa keluar dari kolonialisme dan imperialisme hanya mungkin jika ekonomi nasional sudah berdaulat. Dan, itu hanya mungkin jika segalanya bisa dilakukan secara mandiri.

Venezuela sebetulnya pernah mengupayakan ini tahun 1958. Saat itu, seperti Soekarno di Indonesia, ada upaya kuat untuk keluar dari kolonialisme dengan pembangunan industri besar-besaran. Ini terjadi setelah penggulingan rezim diktator Jimenez Perez.

Pada tahun 1962, Venezuela mengesahkan UU tentang mobil sebagai jalan pembuka pembangunan industri mobil nasional. Selain itu, Venezuela juga mulai membangun industri traktor. Dua jenis industri ini dianggap sebagai awal untuk menciptakan sebuah masyarakat industri modern Venezuela.

Cita-cita mulia ini kandas di tengah jalan: tidak ada satupun traktor yang tercipta dan tidak ada industri mobil berdiri. Venezuela tetap saja hampir sepenuhnya bergantung kepada impor, yang dibayar dengan minyak.

Evaluasinya, saat itu sistem politik venezuela tidak memungkinkan untuk menopang industrialisasi. Di bawah demokrasi liberal, dengan dua partai yang berkuasa dominan (funtofijismo), kepentingan rakyat Venezuela tidak terwakili. Politik hanya diwarnai perseteruan dua kekuatan politik sayap kanan yang berambisi berkuasa. Tidak ada keseriusan untuk membangun ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat.

Sumber: Venezuela Analysis

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut