Perjuangan Untuk Integrasi Regional Di Amerika Latin

AKHIR April 2011 lalu. Sedikitnya 29 negara berkumpul dan menghadiri sebuah pertemuan di hotel Melia, Caracas, Venezuela. Ke-29 negara itu adalah negara-negara Amerika Latin dan Karibia. Lebih hebatnya lagi, untuk pertamakalinya dalam sejarah kawasan ini, sebuah pertemuan luas bisa dilakukan tanpa kehadiran Amerika Serikat dan Kanada.

Oleh karena itu, kita patur memberikan acungan jempol, bukan saja karena karena ketidakhadiran Amerika dan Kanada itu, tetapi karena peran historis dan strategis pertemuan ini akan mengubah geopolitik kawasan Amerika-latin dan Karibia.

Dalam pertemuan yang berlangsung beberapa jam itu, 29 negara dari 30 negara anggota CELAC (Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia) membahas sejumlah agenda pokok dan baha diskusi untuk pertemuan bulan Juli mendatang.

Dalam bulan Juli mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Venezuela, akan diadakan pertemuan puncak anggota CELAC. Beberapa isu yang akan dibahas, antara lain: pengakuan piagam HAM dan pendanaan untuk penghapusan kemiskinan. Agenda lainnya yang akan dibahas meliputi ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, olahraga, dan teknologi.

Integrasi regional alternatif

Amerika latin dan Karibia bukan saja penting bagi Imperialisme AS karena kawasan itu sering disebut “halaman belakang”, tetapi juga karena kawasan itu punya kekayaan yang luar biasa dan menjadi tempat pertama di dunia dimana neoliberalisme dipraktekkan.

Selama beratus-ratus tahun Imperialisme AS menaklukkan Amerika Latin secara ekonomi, politik, dan budaya, baik melalui rejim demokratis maupun junta militer. Selama itu pula Amerika tidak pernah mentolerir setiap upaya untuk memerdekaan atau membuat salah satu negara di kawasan ini berdaulat. Berbagai praktek keji imperialisme AS sudah pernah dipratekkan di kawasan ini: invasi, kudeta berdarah, pembunuhan massa, penghilangan, hingga penyebaran penyakit paling mematikan.

Dan, Amerika benar-benar terkaget sontak tatkala revolusi meledak hanya 150 kilometer dari pantainya, yaitu di Kuba. Kemenangan revolusi Kuba, meskipun berkali-kali berusaha digagalkan atau dihentikan, telah menyebar dalam bentuk inspirasi bagi bangsa Amerika latin lainnya untuk bangkit, baik melalui revolusi pembebasan nasional maupun revolusi sosial.

Sekarang, setelah kemenangan Chavez dan sejumlah pemimpin kiri lainnya, arus besar revolusi Amerika latin terus menerus “membelakangi” Amerika. Arus besar itu bukan saja membuat legitimasi dan hegemoni AS semakin berkurang di kawasan ini, tetapi telah turut secara radikal menguhan imbangan kekuatan dan geopolitik di kawasan ini.

Sebelum berdiri CELAC, Venezuela, Kuba dan Bolivia telah menjadi sponsor berdirinya alat integrasi regional bernama ALBA. ALBA beranggotakan beberapa negara, diantaranya: Kuba, Bolivia, Venezuela, Dominika, Ekuador, Nikaragua, Antiqua dan Barbuda, dan Saint Vincent dan Grenadines.

Kelebihan CELAC adalah bahwa konsolidasinya lebih luas, bukan saja negara-negara yang berhaluan progressif, tetapi juga melibatkan negara-negara yang dicap sebagai pendukung atau antek amerika seperti Kolombia, Meksiko, Peru, dan Chile.

Meskipun belum bisa didorong menjadi anti-imperialis, sebagaimana kesuksesan pertemuan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung, tetapi negara-negara CELAC ini bersepakat untuk mengusung nilai-nilai “kesejahteraan sosial”, kesetaraan dan keadilan sosial, dan proses pembangunan yang lebih independen.

Kelompok negara ini juga mempromosikan jalan damai untuk mengatasi krisis di Amerika Latin dan Karibia, dan tidak mentolerir setiap bentuk upaya kudeta atau perang yang dapat merugikan kawasan ini.

Konsolidasi Tandingan

Namun dalam proses menuju integrasi regional itu, Amerika tentu saja tidak akan mengambil sikap diam. Amerika Serikat telah mensponsori kudeta terhadap dua negara pendukung ALBA, yaitu Honduras dan Ekuador, membangun basis militer sebanyak-banyaknya, mencampuri pemilu di berbagai negara dan mengusahakan supaya kaum kiri tidak menang, dan tiba pada jalan yang baru-baru ini: membangun aliansi tandingan.

Pada akhir April lalu, empat negara berhaluan neolibera, yaitu Kolombia, Chile, Peru, dan Meksiko, telah bersetuju untuk membentuk “Aliansi Pasifik”. Berbeda dengan ALBA dan CELAC, Aliansi Pasifik ini justru mempromosikan neoliberalisme dan kerjasama perdagangan bebas bersama dengan Amerika Serikat.

Ada ide dari negara-negara yang bertemu di pertemuan itu untuk memperluas aliansi ini hingga mengcakup kawasan Asia-Fasifik. Jika itu benar-benar terjadi, tentu saja dengan campur-tangan imperialis Amerika di dalamnya, maka integrasi regional akan berusaha dihambat.

Menajamnya Polarisasi?

Neoliberalisme mulai kehilangan legitimasinya di Amerika Latin. Apa yang menarik dari perjuangan massa menentang neoliberalisme di Amerika Latin, adalah keberhasilan gerakan sosial untuk menaklukkan kekuasaan politik.

Dengan penaklukkan kekuasaan politik itu, gerakan rakyat Amerika Latin bukan saja mengubah imbangan kekuatan yang ada, tetapi telah mempolarisasikan pemerintahan atau kekuasaan politik menjadi dua kubu: pemerintahan berhaluan neoliberal dan pemerintahan progressif yang mempromosikan kedaulatan ekonomi, sosial, dan politik.

Tetapi, polarisasi ini tidak akan baik jika terlalu dipaksakan untuk memisahkan mana pemerintahan progressif atau bukan. Sebab, hal itu hanya akan menghalangi integrasi regional yang lebih luas dan sekaligus mengisolasi pemerintahan atau kekuatan politik progressif.

Dengan demikian, sebagaimana dikatakan seorang sayap kanan Chile, Fernando Schmidt: “Kami di sini membangun arsitektur peraturan dasar untuk berfungsinya institusi baru…kami membangun mimpi integrasi sang pembebas (Simon Bolivar) yang meliputi seluruh Amerika Latin dan Karibia.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut