Perjuangan Revolusioner Merebut “Djawatan Kereta Api”

Sebagian besar pejabat negara kita lupa sejarah. Termasuk Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri Perhubungan dan Direktur PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Tanpa minta ijin rakyat, mereka memprivatisasi layanan kereta api. Akibatnya, kereta api pun makin menjauh dari fungsi sosialnya, yakni melayani rakyat.

Mereka mungkin lupa, atau sengaja tidak mau tahu, bahwa PT.KAI adalah hasil perjuangan rakyat Indonesia. Terutama pemuda revolusioner dan kaum buruh kereta api. Tanpa pengorbanan mereka, Indonesia belum tentu punya perusahaan kereta api seperti sekarang.

Kereta api datang ke Indonesia memang dibawah kolonialisme. Dengan demikian, kepemilikannya pun di tangan penguasa kolonial. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa berkembang pesatnya kereta api tersebut tidak terlepas dari keringat kaum buruh. Sebagian besar diantara mereka adalah rakyat Indonesia.

Pasca proklamasi kemerdekaan, perusahaan-perusahaan milik kolonial itu tidak serta-merta jatuh ke tangan bangsa Indonesia. Bahkan, pada saat itu, tersiar kabar bahwa Djawatan Kereta Api menjadi target pertama yang hendak direbut sekutu.

Belanda sendiri berkeinginan mengembalikan Djawatan Kereta Api (DKA) ke tangan Staats Spoor (SS), perusahaan kereta api Negara Belanda. Dengan demikian, begitu sekutu mendarat di Indonesia, Djawatan Kereta Api menjadi sasaran perebutan.

Bangsa Indonesia tentu tidak mau menyerahkan Djawatan Kereta Api ke tangan penjajah. Begitu pula kaum buruh kereta api, yang tidak mau dijadikan “perkakas hidup” bangsa asing. Meski demikian, pemerintah Republik Indonesia bertindak sangat lamban. Menteri Perhubungan jaman itu, Abikusno Tjokrosujoso, malah setuju apabila DKA dikembalikan ke Belanda.

Pemuda-pemuda revolusioner dan kaum buruh tidak setuju. Pada tanggal 2 September 1945, kelompok pemuda revolusioner, yakni Angkatan Pemuda Indonesia (API), melakukan pertemuan dengan grup revolusioner dari buruh Djawatan Kereta Api. Pertemuan itu berlangsung di Asrama Menteng 31 Jakarta.

API dipimpin oleh pemuda revolusioner bernama Wikana. Sedangkan buruh kereta api dipimpin oleh Legiman Harjono. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan penting: merebut Djawatan Kereta Api. Untuk memulai proses itu, sejumlah tenaga revolusioner dari API, seperti Armansjah, Ukon Effendi, Hassan Gajo, Kusnandar, Sidik Kertapati, dan lain-lain, diperbantukan di Djawatan Kereta Api untuk menyiapkan aksi perebutan.

Malam harinya, sekitar pukul 23.00, pertemuan lanjutan dilakukan di rumah Kepala Stasiun Kereta Api Manggarai. Pertemuan ini lebih luas dan menghadiri pegawai-pegawai DKA. Pertemuan ini mematangkan rencana perebutan seluruh stasiun kereta api dari tangan Jepang.

Besoknya, 3 September 1945, dari pukul 09.30 sampai 12.00, kaum buruh dan pemuda revolusioner mulai melakukan aksi perebutan. Kantor Djawatan Kereta Api Jawa Barat jatuh ke tangan buruh. Di Jakarta, stasiun kereta Manggarai dan Djatinegara merupakan yang pertama direbut. Lalu, menyusul stasiun-stasiun besar lainnya, seperti Gambir, Djakarta Kota, Tanjung Priok, Senen, dan lain-lain. Bengkel dan Depo juga berhasil direbut oleh pemuda dan kaum buruh.

Di semua stasiun yang sudah direbut, pemuda dan kaum buruh memasang tanda merah putih dan disertai tulisan “Milik Republik Indonesia”. Namun, tidak semua aksi perebutan itu berjalan lancar. Di stasiun Jakarta Kota, para pemuda harus berhadapan dengan tentara Jepang yang bersenjata lengkap dengan bayonet.

Begitu Djawatan Kereta Api direbut, kaum buruh kemudian membentuk “Dewan Buruh” di perusahaan itu. Tak hanya itu, seusai aksi perebutan, kaum buruh kereta api membentuk serikat, yakni Serikat Buruh Kereta Api.

Aksi-aksi perebutan serupa juga terjadi di kota lain. Yang paling heroik adalah perebutan kantor Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS)—Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api swasta NIS—di Lawang Sewu, Semarang. Pada tanggal 14 Oktober hingga 19 Oktober 1945, pemuda yang tergabung dalam Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) bertempur mati-matian melawan tentara Jepang. Banyak pemuda AMKA yang gugur dalam pertempuran heroik itu.

Keberhasilan kaum buruh dan pemuda merebut Djawatan Kereta Api segera diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain. Kaum buruh juga berhasil merebut perusahaan Tram Kota, Perusahaan Listrik dan Gas, Djawatan Radio, Percetakan Kolf, Droogdok Maatschappij, dan lain-lain.

Usai direbut oleh kaum buruh, di perusahaan itu dirikanlah serikat buruh, seperti Serikat Buruh Kereta Api, SB Pos dan Telegram, SB pelabuhan dan Pelayaran, dan lain-lain. Serikat buruh itu dalam perjuangannya dikoordinasikan oleh Barisan Buruh Indonesia (BBI). Kelak, BBI ini berubah menjadi Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).

Dengan demikian, teranglah bahwa kehadiran PT.KAI adalah karena perjuangan kaum buruh dan pemuda. Ironisnya, sekarang ini PT.KAI justru diprivatisasi. Harga tiket PT. KAI naik berkali-kali lipat. Selain itu, ide privatisasi itu disertai dengan penggusuran pedagang kaki lima dari stasiun-stasiun. Alhasil, PT.KAI pun makin tidak bisa diakses rakyat banyak. (Mahesa Danu)

Catatan: sebagian besar sumber tulisan diambil dari buku karya Sidik Kertapati, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Semohga artikel ini bisa dibaca langsung Bung Abrianto, cucu Wikana, sang [email protected]:disqus

  • Pemerintah Indonesia tidak pernah berfihak Kereta Api karena adalah kendaraan rakyat dan setelah 68 tahun merdeka baru mampu mengoperasikan 30% dari jaringan Kereta Api semasa zaman Hindia Belanda .Dan itupun dengan kerugian dan kecelakaan yg termasuk tertinggi di dunia.Padahal KA dulu adalah tambang emas bagi kaum kolonial.

    Bahkan Kereta Api Indonesia seolah-olah dimusuhi karena pernah menjadi
    sarang PKI, yg pertama kali memberontak kepada Belanda demi
    NASIONALISME.Sedangkan semua pemberontakan terdahul hanya berdasarlkan
    KEPENTING PRIBADI ( para sultan dsb) dan Agama( Islam).Lain dengan pemerintah Cina yg sangat memihak kepada rakyat dan sekarang malah mempunyai KA tercepat dan jaringan terpanjang di dunia.

  • Joko Mulyono

    Aset PT. KAI di Lumajang habis ludes…des…des… mulai dari bangunan untuk kereta di sepanjang jalan KA, rel, stasiun dll. Bahkan aset yang berupa tanah akhirnya gak jelas urusannya, sudah banyak didirikan gedung-gedung baik oleh masyarakat maupun pemerintah setempat. Rel baja sebesar dan seberat itupun tanpa bekas, ad yang diangkut untuk penguat jembatan oleh masyarakat (yg katanya beli, gak tahu ke siapa?). Malahan ada yang dipasang berdiri menjadi tiang listrik, belum lagi mungkin juga dipotong-potong entah jadi apa? Sepanjang jalan rel KA di wilayah Lumajang lebih kurang 100 km (belum saya ukur) jejak-jejaknyapun gak ada. Bisa dibayangkan, rel sebegitu itu lenyap..nyap…nyap…,nyap…. tanpa bekas sama sekali…li…li…li….apalagi balok kayu ulin penyagga rel, belum lagi batu splitnya (kalau yg ini mungkin di telan kali ya…terus jadi….. tanpa bekas). Sampai hari inipun gak ada tanda-tanda akan diurus atau …..??????? Padahal perombakan manajemen sudah dilakukan sangat totaliter…sayang….sayang…..e..ee..eee…maaaaannnnn. Adakah yang peduli?????????????????????????????????

  • wal suparmo

    Setelah 70 tahun merdeka, Indonesia hanya mampu mengoprasikan 30% jaringan Kereta Api zaman Hindia Belanda dan itu dengan kecelakaan dan kerugian yg besar sekali.Untung sekarang ada IGNATIUS JONAN yg diharapkan bisa memperbaikinya.

    Wal Suparmo Adik ayah saya SOEJOTO telegrafis setasiun Tawang Semarang gugur dalam pertempuran lima hari mempertahankan gedung NIS.Ia dimakamkan di Taman Pahlawan Semarang.