Perjuangan Menghapus Kediktatoran

Perjuangan membinasakan kediktatoran hingga ke akar-akarnya bukanlah perkara yang gampang. Di banyak negeri, termasuk Indonesia, perjuangan anti-kediktatoran justru disabot oleh kaum reformis-liberal.

Sutradara film asal Chile, Pablo Larrain, mengajak kita melihat pengalaman negerinya dalam menumbangkan kediktatoran Pinochet yang berkuasa 17 tahun. Tahun 2012 lalu, Larrain melayarkacakan pengalaman itu melalui film berjudul “NO”.

Film ini mengambil setting di kota Santiago, Chile, tahun 1988. Waktu itu itu suhu anti kediktatoran Pinochet sedang menguat. Nah, untuk mencegah suhu anti-kediktatoran itu meledak menjadi pemberontakan massa, AS dan sekutunya mendesak rezim Pinochet menggelar referendum. Referendum itu meminta persetujuan rakyat Chile, Ya atau Tidak, untuk mempersilahkan Pinochet berkuasa 8 tahun lagi.

Bagi rezim Pinochet, referendum itu juga penting untuk memberi legitimasi demokratis bagi kekuasaanya. Tak mengherankan, banyak sektor sosial di Chile bersikap skeptis terhadap referendum itu. Mereka tidak mau menjadi ‘legitimator’ bagi kediktatoran.

Di sisi lain, koalisi 17 partai politik–dari sayap kiri hingga kiri tengah–berusaha memanfaatkan referendum ini untuk edukasi politik dan penyadaran massa akan watak kediktatoran. Mereka kemudian mengorganisir kampanye “NO” untuk referendum itu. Sebaliknya, para pendukung Pinochet mengusung kampanye “SI (Ya)”.

Yang menarik, 27 hari menjelang hari pemilihan, kedua belah pihak diberi kesempatan untuk beriklan di Televisi Nasional. Masing-masing diberi durasi 15 menit. Inilah fokus utama film NO: bagaimana para pembuat iklan mempengaruhi keputusan rakyat Chile dalam referendum.

Tetapi kesempatan kampanye itu sendiri tidak adil. Kaum oposisi mendapat kesempatan kampanye 15 menit pada tengah malam, ketika sebagian besar rakyat Chile sudah tertidur pulas. Di luar 15 menit itu adalah milik pendukung Pinochet. Maklum, hampir semua media massa di bawah kontrol rezim Pinochet.

Sosok utama di film ini adalah René Saavedra (Gael García Bernal). Ia adalah seorang pembuat iklan di sebuah perusahaan swasta. Karena kehebatannya dalam membuat iklan, seorang aktivis sosialis mengajaknya bergabung dalam kampanye NO.

Awalnya Rene, yang keluarganya pernah mengalami pengasingan oleh rezim Pinochet, menolak tawaran itu. Maklum, sehari-harinya Rene menghabiskan waktu untuk bekerja dan untuk anaknya. Ia sangat jauh dari hingar-bingar politik. Namun, entah karena apa, tiba-tiba ia menerima tawaran itu.

Yang penting diketahui, awalnya kelompok pro-demokrasi dan anti-kediktatoran tidak percaya diri bisa memenangkan referendum tersebut. Mereka yakin, rezim Pinochet sudah mendesain referendum itu sedemikian rupa untuk kemenangan dirinya. Dengan begitu, hasilnya sudah bisa ditebak. “Kurasa kita tak akan menang. Referendum ini sudah kalah sejak kubu fasis mencetuskannya,” kata seorang aktivis perempuan pendukung kampanye NO.

Karena itu, bagi kubu pro-demokrasi, keputusan untuk ambil bagian dalam referendum hanyalah untuk kampanye, penyadaran rakyat, dan mengisi ruang-ruang yang sedikit demi sedikit dibuka oleh rezim Pinochet. Tetapi Rene punya pendapat lain. Baginya, ambil bagian dalam referendum haruslah untuk menang.

Yang menarik juga adalah soal isian propaganda. Sebagian besar aktivis aktivis anti-kediktatoran, terutama yang pernah mengalami represi di bawah rezim Pinochet, mengusulkan isian propaganda yang tidak jauh dari isu pelanggaran HAM: pengasingan, pembunuhan, penyiksaan, penahanan sewenang-wenang, dan penghilangan paksa.

Rene tidak setuju. Menurutnya, propaganda itu terlalu gelap dan menciptakan rasa takut. “Kita tidak bisa memborbardir orang-orang dengan rasa takut,” katanya. Sebaliknya, untuk merangkul calon pemilih yang cenderung golput, Ia mengusulkan isian kampanye yang menawarkan ‘kebahagiaan’. Lahirlah slogan: “Chile, kebahagiaan akan datang.”

Dalam konsep kampanyenya, Rene menggunakan bahasa iklan yang universal, akrab, menarik, dan optimis. Tetapi di susupi dengan konsep dan ide-ide politik di dalamnya. Namun, sebagian kelompok pro-demokrasi, terutama mereka yang menjadi korban represi Pinochet, menolak konsep itu. Bagi mereka, dengan menawarkan iklan berisikan kebahagiaan, kampanye itu telah menutupi kebenaran tentang kejahatan di bawah kediktatoran Pinochet.

Yang menarik juga adalah logo kampanye yang ditawarkan Rene: logo berlambar pelangi. Menurutnya, pelangi itu mewakili warna semua partai yang berkoalisi dalam kampanye NO: merah untuk komunis/sosialis, biru untuk Kristen Demokrat, hijau untuk Sosial-Demokrat, dan oranye untuk kaum humanis.

Sebaliknya, kampanye pendukung Pinochet sangat kaku. Ya, mirip kampanye-kampanye pemerintah di jaman Orba. Yang dijual adalah stabilitas, kemajuan ekonomi, dan nyanyian berisi puja-puji terhadap sang Presiden. Tak pelak lagi, kampanye Pinochet tak ‘menjual’. Alhasil, pelan tapi pasti, kampanye NO mulai memikat massa.

Teror terhadap Rene pun berdatangan. Ia dituduh sebagai ‘penghianat marxis’. Tak hanya itu, ia harus berhadapan dengan bos-nya di perusahaan periklanan, Luis “Lucho” Guzmán (Alfredo Castro), yang juga terlibat dalam kampanye untuk Pinochet.

Tak hanya itu, untuk menakut-nakuti calon pemilih, kampanye pendukung Pinochet mewacanakan bahaya ‘kaum merah’. Mereka kemudian meniru model kampanye pendukung ‘NO’ tetapi membubuhinya dengan ancaman bahaya sosialisme. Sosialisme digambarkan dengan resesi ekonomi dan antrean untuk menunggu roti.

Namun demikian, kendati Pinochet terang-terangan berusaha memanipulasi referendum, kehendak rakyat Chile untuk mengakhiri kediktatoran tidak terbendung lagi. Kampanye “NO” berhasil memenangkan referendum dengan 54,68%. Sedangkan kampanye ‘SI’ hanya mendapat 43,04%.

Kendati demikian, film karya Pablo Larrain ini bukan tanpa kelemahan. Terutama ide di balik film ini: peran dominan iklan dalam menjungkirbalikkan kediktatoran. Seolah-olah pertempuran menentang kediktatoran hanya di layar kaca. Bukan di jalan-jalan, di kampung kumuh, dan pabrik-pabrik. Dengan sendirinya, Pablo Larrain mengabaikan arti penting kerja-kerja gerakan massa, seperti agitasi-propaganda, pengorganisiran dan pengorganisasian, dan mobilisasi massa, sebagai aspek utama yang berkontribusi dalam penggulingan kediktatoran Pinochet. Tak heran, banyak yang menuding film karya Pablo Larrain ini sebagai upaya ‘de-politisasi’ gerakan anti-kediktatoran.

Selain itu, dalam film NO ini Pablo Larrain menggambarkan referendum sebagai hasil tekanan internasional, termasuk AS. Ini mengabaikan fakta bahwa kudeta Pinochet di tahun 1973, terhadap Presiden sosialis Salvador Allende, adalah atas dukungan AS. Selain itu, film ini mengabaikan fakta bahwa referendum adalah hasil dari tekanan gerakan rakyat di jalan-jalan yang menentang kediktatoran. Misalnya, di tahun 1984, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Sedunia, ratusan ribu orang turun ke jalan. Ini demonstrasi besar pertama kalinya di bawah kekuasaan Pinochet kala itu.

Yang lainnya adalah peran sejumlah aktor yang nyaris tidak terjelaskan di film ini. Terutama istrinya Rene, Verónica (Antonia Zegers), yang digambarkan beberapa kali kena tangkap dan keluar-masuk penjara di film ini. Penonton bisa menduga-duga bahwa dia adalah aktivis kiri-radikal. Tetapi Pablo Larrain sendiri tidak cukup menjelaskannya melalui film.

Banyak yang berpendapat, referendum 1988 itu bukan akhir dari kekuasaan Pinochet. Sebab, pasca referendum itu, warisan Pinochet masih dipertahankan. Termasuk Konstitusi tahun 1980, yang dihasilkan oleh rezim Pinochet, sekaligus fondasi bagi kebijakan neoliberalnya.

Sebaliknya, banyak yang menilai, referendum 1988 merupakan ‘peta damai’ damai yang dianjurkan AS untuk mendorong peralihan kekuasaan di Chili, dari tangan militer yang bertangan besi ke tangan sipil yang berwajah demokrasi, tetapi esensinya sama: pro-neoliberal. Fenomena ini, tentu saja, ada kemiripan dengan peristiwa jatuhnya rezim Soeharto di Indonesia pada tahun 1998 dan naiknya rezim sipil-reformis. Kendati berganti wajah [dari rezim tangan besi ke rezim sipil-reformis], karakter kebijakan ekonomi mereka tetap sama: pro modal asing.

Di Chile, pasca lengsernya Pinochet, kekuasaan berpindah ke tampuk koalisi kiri-tengah bernama Concertacion de Partidos por la Democracia (Koalisi Partai untuk Demokrasi), yang melibatkan partai sosialis, kristen demokrat, PPD, sosial demokrat, dll. Namun, ketika berkuasa, Concertacion justru mengadopsi kebijakan neoliberal yang sangat agresif dan memperdalam ketimpangan di Chile.

Namun, kebangkitan gerakan mahasiswa dan kaum muda, terutama sejak Revolusi Penguin di tahun 2006 dan gerakan mahasiswa di tahun 2011, peta politik Chile mulai agak berubah. Sentimen anti-neoliberalisme sangat menguat. Bahkan, sebagai salah satu hasilnya, Michelle Bachelet yang diusung oleh Neuva Mayoria atau Mayoritas Baru–termasuk Partai Komunis di dalamnya–berhasil memenangi pemilu. Salah satu janji kampanye Bachelet adalah melakukan reformasi konstitusi secara radikal untuk menghapuskan warisan Pinochet.

Sisa-sisa kediktatoran belumsepenuhnya ditumpas di Chile. Namun, kebangkitan gerakan rakyat di Chile meniupkan harapan baru, bahwa mereka bukan hanya bertekad melikuidasi sisa-sisa kediktatoran, tetapi juga mengakhiri sistem neoliberalisme yang diperkenalkan pertama kali di era rezim Pinochet.

Rudi Hartono, Pemimpin Redaksi Berdikari Online

NO (2012)
Sutradara: Pablo Larraín
Skenario: merujuk pada El Plebiscito oleh Antonio Skármeta
Durasi: 118 menit
Pemain: Gael García Bernal, Alfredo Castro, Luis Gnecco, Antonia Zegers, dll

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut