Peristiwa Pemberontakan Kapal De Zeven Provincien Diperingati di TMP Kalibata

Sekitar empat puluh orang berdiri berjajar sembari memberi hormat di depan gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mereka berasal dari Ikatan Keluarga Masyarakat NTT yang datang untuk berziarah dan mengenang pemberontakan di atas kapal perang Belanda De Zeven Provincien yang dipimpin oleh Martijn Marseha Paradja, seorang pemuda berusia 23 tahun asal Sabu NTT, pada 4 Februari 1933 atau 83 tahun yang lalu.

Dalam sambutan membuka acara ziarah tersebut, Yoseph Ully, Ketua Ikatan Keluarga Masyarakat NTT di Jakarta, menyampaikan terima kasih kepada Peter Rohi karena telah mengangkat kembali sejarah  Pahlawan asal NTT dan perannya sehingga masyarakat NTT, khususnya generasi muda, dapat mengetahui, memahami dan mencontohi apa yang sudah dikontribusikan para pendahulunya dalam perjuangan kemerdekaan republik Indonesia. Mengakhiri sambutannya  Yoseph Ully berharap dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) NTT bisa memasukan sejarah ini ke dalam bahan pelajaran muatan lokal agar dapat membangkitkan dan memperkuat semangat nasionalisme generasi ke depan.

Dalam kesempatannya, Peter A. Rohi yang menjadi penggagas acara ini menyampaikan terimakasih kepada semua pihak sudah berpartisipasi dan hadir dalam acara ini. Tampak di antara peserta keluarga Kawilarang (salah satu pelaut Kapal De Zeven Provincien) yang datang dari Kepulauan Riau untuk terlibat dalam acara tersebut. Selanjutnya Rohi menghantarkan acara dengan membacakan sejarah singkat dari peristiwa heroik “ Pemberontakan diatas kapal perang Belanda De Zeven Provincien” sebagai berikut :

Pemberontakan di atas kapal perang Belanda De Zeven Provincien

Kedatangan Bung Karno  tahun 1932 sekeluar dari Penjara Sukamiskin dan berpidato di Surabaya, ternyata mampu membakar jiwa nasionalisme pemudapemuda pribumi yang menjadi anggota marine Belanda. Surat kabar Soeara Oemoem milik Dr Soetomo yang memuyat pidato Bung Karno dibredel untuk semntara, sedang pemimpin Redaksinya Joenoes Sjijaranamual ditahan.

Kebangkitan Nasionalisme para marine itu mendapat momentum ketika beberapa bulan kemudian Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan penurunan gaji para pelaut. Demontrasi dilakukan untuk memprotes rencana Pemerintah Belanda itu. Larangan demontrasi dilanggar dan tak dapat dihentikan. Emblem Merah putih bergambar Soekarno dan yel-yel revolusi dikumandangkan. Pemerintah terpaksa mendatangkan KNIL dari Rampal Malang untuk menangkapi mereka.

Kabar penangkapan 500 anggota marine tanggal 27 Januari 1933 di Surabaya  itu bocor ke kapal De Seven Provincien yang sudah berlayar dua bulan melakukan patroli di Aceh. Seorang pelaut Belanda Moud Boshart yang berpihak pada pribumi membocorkan telegram itu sebelum sampai ke tangan Komandan kapal Mayoor Eikenboom.

Tanggal 3 januari 1933, seorang anggota Marine Julian Henderik (Ludji He) memimpin teman-temannya di sebuah gedung bioskop di Ulehle, Kotaradja (sekarang Banda Aceh) dengan izin akan melakukan halal bihalal usai Idul Fitri 29 Januari. Tapi dalam acara itu mereka membicarakan taktik perebutan kapal. Dalam rapat kedua yang lebih rahasia, yang dihadiri perwakilan suku-suku seperti madura, Bugis Makassar, Palembang, Padang, Ambon, Minahasa, Sunda Kecil dll, Jermias Kaliwarang diminta mengomandoi kapal perang itu, sementara pemimpin pergerakan di serahkan pada Martijn Marseha Paradja.

Tanggal 4 Januari 1933 ketika Komandan Eikenboom dan para perwira sedang berpesta dansa di darat, mereka mulai bergerak sesuai tugas-tugas yang di tunjuk. Rumambi, Gozal, Soewarso menawan dan melucuti perwira dan bintara Belanda. Seorang pelaut memanjat cerobong asap untuk memanaskan kapal dengan bahan bakar kayu api. Martijn Paraja membongkar gudang senjata dan membagi-bagikan senjata dan menyiapkan peluru meriam. Jeremias Kawilarang dan Parinusa memotong gembok rantai kemudi untuk menyiapkan kemudi.

Apa yang mereka lakukan selama ini hanya menjadi tugas dan keilmuan maritime dari perwira dan bintara belanda. Karena itu Eikenboom yang dilapori oleh seorang anggota Marine Belanda penghinat hanya ditanggapi dingin, dan menyangka anak buahnya itu sedang mabuk. “ Mana mungkin. Sedang mana kiri dan mana kanan kapal merekapun tak tahu,” katanya. Tetapi sesaat dia melihat kapalnya itu mulai bergerak perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan, ia pun menjadi lemas. Gubernur General Hindia Belanda De Jonge yang mendapat laporan memerintahkan Eiken boom segera menggunakan kapal Aldibaren mengejar De Zeven Provincien yang sudah berada di tangan marine pribumi dan berlayar zigzag menghindari tembakan dari darat. Kapal pernag lain seperti De Java, Soemba pun dikerahkan mengepung de Zeven Provincien. Seruan menyerah mereka abaikan. Martijn Paraja sudah membuka moncong meriam. “jangan mendekat” katanya.

“Kami akan berlayar terus ke Surabaya membebaskan teman-teman yang sudah ditahan itu tujuan kami. Di sana kami akan menyerahkan kembali kapal pada Toean Eikenboom”.  Media massa massa asing yang mencium aksi itu mempermalukan Belanda. Maka vonis pun di jatuhkan De Jonge. Ketika kapal para pemberontak itu berada di Laut Jawa sebuah pesawat donier menjatuhkan bom seberat 50 kg di atas geladak kapal itu. Martijn Paradja, Gozal dan 20 marine lainnya tewas seketika, sedang Rumambi menyusul kemudian. Merekapun dimakamkan satu liang di pulau Kelor, gugusan Pulau Seribu. Sekali lagi Harian soeara Oemoem di Surabaya memuat berita itu  dibredel untuk selamanya, sedang pemimpin redaksi saat itu Tjindarboemi dipenjarakan.

Belanda yang menilai aksi ini mirip perebutan Kapal Potemkin di Wladiwostok 1905 oleh pelaut revolusioner merasa kecolongan. Apalagi dalam sidang di Landraad Surabaya, banyak indikasi mereka sudah terpengaruh ajaran-ajaran Bung Karno, Bung Sjahrir, dan Bung Hatta. Ketiga tokoh ini kemudian ditangkap dan dibuang. Bung Karno dibuang ke Ende, sedang Hatta dan Sjahrir ke Bovendigoel.

“Jadi pemberontakan di atas kapal De Zeven Provincien merupakan salah satu titik penting dalam perjuangan kemerdekaan  dari kolonial Belanda,” demikian Rohi menambahkan. Selanjutnya Rohi juga menyampaikan bahwa perjuangan hari ini adalah perjuangan politik yang harus menyelamatkan kepentingan nasional dari penghisapan kapitalisme. “Saya berharap akan lahir  pejuang-pejuang muda di bidang politik asal NTT yang nantinya berkontribusi besar bagi bangsa dan tanah air. saat ini sebenarnya sudah ada namun belum muncul ke permukaan, salah satunya adalah bung Dominggus Oktavianus yang sudah hadir bersama kita disini” lanjutnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan testimoni, diantaranya sesepuh suku Sabu, Opa Tube, yang menceritakan tentang masa kecil Martijn Paradja. Kemudian Harry Kawilarang, keluarga dari Jermias Kawilarang, sang Nahkoda Pemberontakan De Zeven Provincien.

Dalam testimoninya Harry Kawilarang menyampaikan satu hal yang sangat membanggakan, yaitu dalam pengadilan terhadap Jermias Kawilarang setelah diputuskan bersalah dan dihukum 18 tahun penjara, ketika ditanya apakah ada pendapat Kawilarang, Jermias Kawilarang pun menjawab: “Ada yang mulya, sebagai salah seorang pemimpin pemberontak sudah divonis 18 tahun. Sungguhpun begitu, sekalipun dihukum mati saya akan terima dengan lapang dada yang mulya.” hakim bertanya heran: “kenapa?”, dengan suara lantang Jerimias Kawilarang mengatakan: “karena saya adalah orang pribumi pertama yang dapat menjadi nahkoda pada kapal perang kebanggaan Kerajaan Belanda.” Artinya, dalam pemberontakan tersebut setiap mereka siap menjadi martir bagi kemerdekaan Indonesia.

Acara kemudian ditutup dengan tabur bunga dan foto bersama. Sebelum meninggalkan lokasi TMP Kalibata tampak Peter Rohi yang merupakan mantan anggota Batalyon Tank Amfibi KKO menyempatkan diri menabur bunga pada makam No. 111,  makam dari Letnan Jenderal KKO (purn) Hartono.

Willy Soeharly

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut