Peringati Hari-Antikorupsi, Demonstran Anggap SBY Dirikan Monarki Koruptor

Puluhan massa Aliansi Masyarakat untuk Keadilan, yang menggelar aksi anti-korupsi di depan Gedung Agung Jogjakarta, menganggap Presiden SBY sedang mendirikan monarki koruptor di Indonesia.

Sebagai buktinya, demonstran merujuk dari meningkatnya jumlah korupsi di Indonesia akhir-akhir ini dan kekebalan hukum yang dinikmati oleh sejumlah koruptor, diantaranya, Gayus Tambunan, Anggodo Widjoyo, Artalyta Suryani alias Ayin, dan Aulia Pohan.

Disamping itu, menurut Kelik Priyanto, selaku koordinator aksi ini, SBY hanya mengungkap kasus korupsi lawan politik, tetapi justru melindungi koruptor di dalam partai dan jajaran pemerintahannya.

“Partai Demokrat adalah “bungker” perlindungan bagi para koruptor,” teriak para demonstran.

“Kalau ICW menyatakan bahwa 76% pernyataan SBY terkait pemberantasan korupsi itu tidak terbukti, maka kami menyatakan bahwa SBY, dari telapak kaki hingga ujung rambutnya, tidak punya komitmen memberantas korupsi,” kata Kelik Priayanto.

Kelik mencotohkan kasus Anggodo Widjoyo dan Gayus Tambunan, dua orang mafia hukum yang telah mengobrak-abrik hukum di Indonesia.

Aksi juga di sertai dengan pembagian 10.000 kuesioner konsultasi kepada rakyat tentang kinerja kegagalan pemerintah SBY budiono dalam pemberantasan korupsi. Rencananya hasil jajak pendapat akan di publish setelah di analisis dalam waktu dekat.

Aliansi ini merupakan gabungan dari PPMI, LMND, BEM UAD, SeTAM, KAMMI, LBH, ICM, WALHI dan 42 organisasi massa lainnya di yogyakarta. Mereka mnutup aksinya dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan mengobarkan pekik anti-korupsi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut