Peringatan Hari Anti-korupsi di Tasikmalaya

Puluhan orang berpartisipasi dalam aksi untuk memperingati Hari Anti-korupsi se-dunia di Tasikmalaya, Jawa Barat. Aksi dimulai di Alun-alun pusat kota dan kemudian bergerak menuju kantor DPRD Tasikmalaya.

Massa membagi-bagikan selebaran dan bunga kepada setiap pengendara dan masyarakat umum yang lalu-lalang di sekitar alun-alun. Pada intinya, mereka menyerukan agar rakyat berpartisipasi aktif dalam perjuangan melawan korupsi.

Selain menyatakan bahwa SBY gagal dalam memberantas korupsi, demonstran juga membeberkan sejumlah kasus korupsi yang terjadi di Tasikmalaya, diantaranya, hilangnya dana bantuan sosial (bansos) dan sarana keagamaan sebesar Rp9 milyar.

Massa juga mempertanyakan soal dana bantuan gempa yang tidak jelas pembagiannya, serta kemungkinan besar adanya praktik penyimpangan dan korupsi.

Setelah berorasi dan membagikan selebaran cukup lama, massa melanjutkan aksinya menuju kantor DPRD Tasikmalaya. Berhubung di ruang sidang DPRD sedang terjadi pertemuan antara Bupati, Kepala Dinas, dan seluruh Kepala Desa se-Tasikmalaya untuk membahas program pengentasan kemiskinan, polisi dan Satpol PP berusaha memblokade pintu masuk kantor DPRD.

Aksi dorongan-dorongan pun tidak dapat dihindarkan, namun berhasil dicegah menjadi bentrokan lebih jauh setelah pihak Bupati dan DPRD bersedia menemui demonstran.

Para pejabat daerah ini dipaksa untuk menyatakan komitmen dan dukungannya terhadap perjuangan melawan korupsi. Sebagai ungkapan terima kasih, perwakilan massa menyematkan pin kejujuran.

Aksi ini ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap oleh pimpinan aksi. Aksi ini mengatasnamakan Gerakan Rakyat Menggungat (GERAM), yang menggabungkan sejumlah organisasi seperti Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Himpunan Pedagang kaki Lima Singaparna (HPKLS), dan Koalisi Mahasiswa dan Rakyat Tasikmalaya (KMRT).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut