Peresmian Pabrik Smelter Diwarnai Pemogokan Buruh Tambang

Acara peresmian pabrik smelter milik PT. Sulawesi Mining Investment (SMI) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, diwarnai aksi pemogokan ratusan buruh tambang, Rabu (12/3/2014).

Aksi mogok itu digelar oleh buruh PT. Bintang Delapan Mineral (BDM) dan PT. Sulawesi Mining Investment (SMI). Mereka bernaung di dalam aliansi Gerakan Buruh Morowali Menggugat (GBMM).

Aksi yang berlangsung di depan pintu perusahaan itu mengusung sejumlah tuntutan terkait nasib pekerja, seperti PHK sepihak terhadap 200-an pekerja PT. BDM, hak pesangon bagi pekerja yang di-PHK, status pekerja yang tidak jelas, dan kasus pelecehan seksual terhadap seorang pekerja perempuan.

Dalam aksinya itu, para buruh menuntut bertemu dengan Gubernur Sulteng, Longki Djanggola, yang turut menghadiri acara peresmian pabrik smelter itu.

Namun, keinginan para buruh itu tidak tercapai. Pihak Gubernur dan Pemda Morowali menolak untuk berdialog dengan buruh. Sebaliknya, aksi massa kaum buruh ini mendapat pengawasan sangat ketat dari aparat keamanan, baik TNI maupun Polri.

Menurut koordinator aksi ini, Serlan, proses PHK terhadap 200an buruh PT. BDM itu sangat sepihak. Ironisnya, kata dia, perusahaan bukannya memberikan hak pesangon sebagaimana diatur oleh Undang-Undang, pihak PT. BDM hanya memberikan uang ‘talih-kasih’.

Serlan juga mempertanyakan status pekerja di perusahaan tersebut yang masih berstatus kontrak. Menurutnya, jika merujuk UU Ketenagakerjaan, para buruh itu seharusnya mendapat status pekerja tetap.

“Masa kerja dari para pekerja itu sebagai pekerja kontrak sudah lewat. Rata-rata mereka sudah bekerja di atas 3 bulan hingga 1 tahun. Artinya, perusahaan mestinya segera mengangkat mereka menjadi pekerja tetap,” ujar Serlan.

Selain itu, para pekerja juga mempertanyakan keberadaan tenaga kerja dari luar negeri, yakni dari Tiongkok, yang berjumlah 400-an orang. Jumlah tenaga kerja asing itu lebih banyak dari jumlah tenaga kerja lokal yang hanya berkisar 200-an orang.

“Jumlah ini kami peroleh dari para buruh yang bekerja diperusahaan tersebut. Namun, setelah kita konfirmasi ke Dinas Ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja asing yang dilaporkan hanya 20 orang,” tegasnya.

Dalam aksi ini, para buruh juga memprotes tindakan pelecehan terhadap seorang buruh perempuan PT. BDM yang bekerja di bagian umum, yakni cleaning servis, untuk membersihkan kantor pimpinan perusahaan PT. BDM.

Menurut Serlan, pihak korban sudah melaporkan kasus pelecehan itu ke pimpinan perusahaan, tetapi tidak mendapat respon. “Dia mengadukan kasusnya ke kami dan meminta pendampingan,” tegasnya.

Hari Kamis (13/3), aksi mogok berlanjut. Aksi mogok sedianya akan melibatkan seluruh divisi di perusahaan yang jumlahnya mencapai 400-an orang. Namun, tenaga kerja asal Tingkok menolak untuk mengikuti seruan mogok itu. Akibatnya, sempat terjadi benturan antara tenaga kerja lokal dengan tenaga kerja asal Tingkok tersebut.

Selain itu, pada saat para buruh dan aktivis sejumlah organisasi menggelar rapat mengenai lanjutan aksi mogok, puluhan preman datang mengepung. Para preman tersebut mencari para tokoh utama yang menggerakkan aksi mogok buruh tersebut.

Rencananya, aksi mogok ini akan berlangsung hingga tanggal 15 Maret 2014. Kemudian, pada hari Senin (17/3) mendatang, para buruh berencana menggelar aksi besar-besaran.

Untuk diketahui, PT. SMI adalah perusahaan patungan yang dibentuk oleh Bintang Delapan Group dari Indonesia dengan Tsingshan Group dari Tiongkok pada September 2009. Pabrik smelter ini akan mengolah biji nikel menjadi feronikel.

Aksi mogok para buruh tambang ini disokong pula oleh sejumlah organisasi gerakan rakyat, yakni Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Partai Rakyat Demokratik (PRD), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Yayasan Tanah Merdeka (YTM), Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Walhi, dan Perhimpunan Bantuan Hukum Rakyat (PBHR).

Eris

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut