Perempuan Pembocor Rahasia Militer Israel Dibebaskan

Anat Kamm, bekas anggota militer Israel yang dituding membocorkan rahasia militer Israel, dibebaskan dari penjara pada hari Minggu (26/1/2014).

Ia menjalani hukuman penjara selama 2 tahun dari 4,5 tahun hukuman yang ditimpakan padanya. Ia mulai mendekam di penjara tanggal 23 November 2011.

“Saya merasa bangga,” kata Kamm, ketika melangkahkan kakinya keluar dari penjara Neve Tirtza. Sejumlah aktivis kanan, yang telah menungguinya di luar penjara, meneriaki Kamm sebagai penghianat negara. Tetapi Kamm tidak peduli.

Anat Kamm, yang baru berusia 26 tahun, adalah salah perempuan Israel yang berani menyingkap kejahatan militer Israel (IDF) terhadap warga sipil, terutama warga Palestina.

Pada tahun 2008 lalu, Kamm, yang saat itu bekerja di sebuah portal media bernama Walla, menyerahkan dokumen yang dibakarnya ke dalam disket saat menjadi anggota IDF, kepada seorang wartawan Haarezt, Uri Blau.

Tak lama kemudian, Uri Blau mempublikasikan sebuah laporan investigasi di majalah liberal Israel, Haaretz, dengan berbasiskan dokumen yang didapatnya dari Kamm.

Laporan itu menyingkap fakta bahwa IDF memerintahkan pembunuhan terhadap tiga pemimpin jihad Islam, yakni Walid Obeid, Ziad Malaisha, Adham Yunis, yang notabene menyalahi prosedur yang keputusan Pengadilan Tinggi Israel.

Laporan itu memicu kegemparan di publik Israel. Pasalnya, dokumen itu menelanjangi kejahatan petinggi militer yang telah membolehkan pembunuhan terhadap mereka yang dianggap ancaman.

Pada September 2009, Shin Bet (agen keamanan Israel) memanggil Blau dan memerintahkan untuk menyerahkan dokumen rahasia yang berada di tangannya. Alasannya, dokumen itu merupakan rahasia negara dan pertimbangan keamanan.

Saat itu, Haarezt menghubungan penasehat hukum dewan keamanan terkait pengembalian dokumen itu. Haarezt meminta agar sumber yang digunakan oleh wartawan dilindungi. Kesepakatan pun tercapai. Ribuan dokumen di tangan Haarezt diserahkan ke Shin Bet. Sebagai imbalannya, Shin Bet berjanji tidak akan mempertanyakan ke wartawan mengenai sumber dokumen dan hal-hal lainnya.

Pada bulan Desember 2009, Shin Bet memanggil Kamm dan mempertanyakan dokumen yang diserahkannya kepada Uri Blau. Hari itu juga Kamm ditetapkan sebagai tahanan rumah. Ini sangat memalukan. Bukannya melakukan penyelidikan terhadap pejabat senior militer yang telah melakukan pelanggaran, pihak keamanan Israel malah menangkap Kamm.

Saat itu hampir tidak ada media israel yang melaporkannya. Hampir semua media Israel bungkam atas penahanan perempuan muda yang telah membocorkan kejahatan militer tersebut. Padahal, Kamm saat itu adalah juga seorang wartawan.

Namun, kendati penangkapan itu ditutup rapat, kabarnya tercium juga oleh banyak orang. Akhirnya, kabar penangkapan Kamm pun mulai terbongkar ke publik, termasuk ke media di luar Israel.

Tetapi pihak keamanan Israel tidak tinggal diam. Mereka mengarang narasi untuk mendiskreditkan Kamm, bahwa Kamm adalah seorang ‘mata-mata’ dan tindakannya telah ‘menguntungkan musuh negara Israel’. Sejak itulah cap “penghianat negara” mulai disematkan kepada Kamm.

Namun, di pengadilan, Kamm membantah tuduhan itu. Menurutnya, pihaknya memang menyerahkan dokumen itu kepada Blau, tetapi sama sekali tidak bermaksud mengganggu keamanan negara.

Tetapi pembelaan itu tidak menyelamatkannya dari hukuman. Pada 30 Oktober 2011, Pengadilan Distrik Tel Aviv menjatuhkan 4,5 tahun penjara kepada Kamm.

Namun, pada 31 Desember 2012, Mahkamah Agung Israel setuju memperpendek hukuman Kamm menjadi 3,5 tahun, termasuk 1,5 tahun hukuman percobaan, sesuai ketentuan hukum Israel.

Kemudian, pada 16 Januari lalu, Dewan Pembebasan Bersyarat Penjara Israel menyetujui pembebasan lebih awal bagi Kamm. Dewan itu memutuskan agar Kamm dibebaskan tanggal 26 Januari 2014.

Kamm pernah bekerja di militer Israel pada tahun 2005. Bulan Juli 2005, ia ditugaskan bekerja sebagai pegawai di kantor seorang komandan di Komando Pusat Militer. Kemudian dipindahkan sebagai asisten Komandan Komando Militer Israel, Mayor Jenderal Yair Naveh.

Usai bekerja di militer, Kamm memutuskan menempuh studi di Fakultas Sejarah dan Filsafat Universitas Tel Aviv. Kemudian, sejak Agustus 2007, ia mulai bekerja sebagai wartawan di portal berita Walla.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut