Perempuan Namibia Protes Larangan Memakai Rok Mini

Ratusan perempuan Namibia menggelar aksi di kota Windhoek, Ibukota Namibia, untuk memprotes larangan memakai rok-mini. Mereka berkumpul di Zoo Park, sebuah taman publik di pusat kota Windhoek, sambil menggelar poster dan orasi.

“Seseorang yang telah menjadi korban pemerkosaan tidak bisa disalahkan terkait pemerkosaan itu. Ini termasuk pakaian yang mereka pakai saat terjadinya pemerkosaan itu,” ujar Rachel Coomer, seorang pengacara di Lembaga Bantuan Hukum di Namibia.

Beberapa hari lalu, Inspektur Jenderal Polisi Sebastian Ndeitunga membuat pernyataan provokatif soal rok mini di media. Dia bilang, kalau ada peremuan keluar rumah dengan rok mini, dia akan ditangkap.

Komentar Ndeitunga menuai protes. Banyak yang menuding pernyataan Ndeitunga itu melecehkan korban pemerkosaan. Tak hanya itu, petinggi Kepolisian Namibia itu dianggap mengekang kebebasan berekspresi, termasuk hak kaum perempuan mengenakan pakaian yang disukainya.

Lantaran dihujani kritik, Ndeitunga membuat klarifikasi. Ia menyangkal telah mengeluarkan larangan memakai rok mini. Katanya, pernyataan dia telah dipelintir oleh media massa.

“Aku tidak mengatakan akan menangkap mereka yang mengenakan rok mini. Saya bicara soal mereka yang berpakaian tidak senonoh. Soal (rok mini) itu pernyataan wartawan sendiri,” katanya.

Beberapa waktu lalu terjadi insiden Rundu, yakni penangkapan 40-an wanita karena memakai ‘hot pants’. Penggunaan Hot Pants itu dianggap tidak senonoh dan memprovokasi tindakan seksual.

Namun, banyak aktivis yang tidak setuju dengan pengunaan kata “tidak senonoh”. Bagi mereka, penggunaan kata “tidak senonoh” itu masih sangat multi-tafsir.

“Tidak senonoh itu mengacu pada tindakan melecehkan publik dengan mengekspose bagian tubuh yang punya konotasi seksual. Sedangkan mengekspose kaki atau pahan tidak bisa dikategorikan tindakan tidak senonoh,” ujar Ricardo Mukonda, seorang pengacara di Lembaga Bantuan Hukum.

Mukonda juga meminta pengadilan hati-hati menafsirkan defenisi tidak senonoh tersebut. Sebab, seperti kata Mukonda, dalam budaya Afrika, tidak semua tindakan mengekspose tubuh dianggap tidak senonoh. Ia mencontohkan salah satu budaya Afrika, Ovahimba, yang membiarkan perempuan Afrika bertelanjang dada.

Direktur eksekutif Aksi Perempuan untuk Pembangunan (WAD), Veronica de Klerk, mengingatkan negara untuk melindungi kebebasan perempuan untuk mengenakan pakaian, termasuk rok mini dan hot pants. “Tidak ada yang boleh mengatur resep soal pakaian yang pantas bagi perempuan,” ujarnya.

Veronica de Klerk juga meminta pemerintah tidak hanya melihat perempuan terkait tindakan tidak senonoh. “Mereka yang keluar dari mobil dan kencing begitu saja di depan umum juga tindakan tidak senonoh,” ungkapnya.

Menurut banyak aktivis perempuan Namibia, kualitas perempuan tidak bisa diukur dari pakaian yang mereka gunakan, melainkan dari karakter, kepribadian, bakat, integritas, keterampilan, kecerdasan, dan prestasinya.

Namibia memang termasuk negara dengan tingkat kekerasan seksual yang tinggi terhadap perempuan. Pada tahun 2012 saja ada 38 perempuan yang kehilangan nyawa karena serangan seksual dan kriminalitas.

Raymond Samuel 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut