Perempuan di Tengah ‘Hujan Kepagian’

Hujan Kepagian melukiskan heroisme Tentara Pelajar dalam membela kemerdekaan Indonesia, 1945-1949. Demi tanah air dan masa depan generasi berikutnya yang lebih baik, para pelajar muda-remaja berumur belasan tahun ini rela berkorban dan pergi selamanya di saat usia masih pagi.

Hujan Kepagian, ditulis oleh Nugroho Notosusanto, partisan perang kemerdekaan yang juga anggota Tentara Pelajar dengan apik, menyentuh dan tajam. Bagaimana Nugroho menggambarkan seorang  tentara pelajar heroik yang terluka, menahan sakit, nyeri dan bagaimana luka-luka digambarkan dengan detail hingga tumbuh kengerian pada pembaca, bisa dibaca pada cerpen “Senyum”, cerpen paling panjang dibanding kelima cerpen lainnya dalam kumpulan ini. Nugroho Notosusanto yang dikemudian hari di masa Orde Baru menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini pun tak ragu menggunakan ungkapan kasar khas rakyat tak terpelajar: Asu! dan sebagainya.

Hujan Kepagian juga punya visi luas terhadap kemanusiaan seperti bagaimana memperlakukan tawanan dalam cerpen “Pembalasan Dendam”(h. 35-47): Con tak jadi menghabisi tentara Belanda yang tertangkap dan memilih “mengembalikan” ke pangkuan ibunya walau hatinya penuh amarah dan dendam pada tentara Belanda karena saudara kembarnya dibunuh dengan cara yang menyakitkan yakni ditusuk dengan pisau bayonet di depan mata kepalanya sendiri. Juga pada cerpen “Bayi”, kemanusiaan didahulukan. Dua Pengintai dari pihak-pihak yang berseberangan menghentikan tembak-menembak dan bersama menolong Mbok Simin dan bayinya.

Di balik heroisme Tentara Pelajar, Hujan Kepagian juga tampak  memberikan gambaran negatif bagi kelaskaran. Barangkali rakyat bersenjata masih terlalu pagi bagi Republik dan bisa membahayakan karena hanya ingin mengambil keuntungan pribadi sebagaimana gerombolan yang dipimpin Jayeng Bledeg dalam cerpen “Pembalasan Dendam”. Pun Hujan Kepagian menganggap  masih terlalu pagi untuk  perempuan bersenjata terlibat dalam perjuangan bersenjata di garis depan. Hujan Kepagian walau menyandang gelar Pelajar akhirnya juga menyerah terhadap dua takhyul yang berkembang selama revolusi fisik. Yang pertama tidak boleh ada dua saudara kembar dalam satu pasukan karena salah satu pasti menemui ajal, seperti dalam cerpen “Pembalasan Dendam”. Yang kedua, sex sebelum nikah di garis depan atau front  adalah konyol dan akan membawa kematian konyol bagi pejuang yang dianggap tidak suci dan tak mampu mengendalikan hawa nafsu sebagaimana dalam cerpen “Konyol”.

Cover Buku
Cover Buku

Bila menengok sejarah perjuangan nasional, kita melihat bagaimana kaum perempuan diundang terlibat 100 persen tanpa diskriminasi dalam melawan penjajahan. Kartini, seorang perempuan pula yang memberanikan diri mengundang seluruh Rakyat untuk turut bekerja agar Habis Gelap Terbitlah Terang dan menjadi Ibu gagasan bagi kaum pergerakan kemerdekaan nasional begitu memasuki abad ke-20 yang gemilang. Di samping itu tidak kurang contoh pemimpin  perempuan berdiri tegak melawan penjajahan di garis depan di abad sebelum Kartini seperti Christina, Cut Nyak Dien, dan Nyi Ageng Serang. Pun banyak organisasi perempuan didirikan untuk melawan kolonialisme dengan sadar.

Karena itu, tidak heran bila pada Pemberontakan Nasional 1926, kaum perempuan pun terlibat. Dari periode ini kita kenal Munasiah dari Jawa Tengah dan Sukaesih dari Jawa Barat yang turut dibuang ke Digul. Dalam suatu kongres perempuan di Semarang tahun 1924, keduanya menyerukan perlunya kaum perempuan berjuang memajukan hak-haknya agar tidak disisihkan. Mereka juga memimpin demonstrasi di Semarang tahun 1926 dengan mengenakan “Caping Kropyak” atau topi bambu menuntut perbaikan kondisi kerja buruh perempuan. Munasiah pun berkata: “Wanita itu menjadi mataharinya rumah tangga, itu dahulu! Tapi sekarang wanita menjadi alat kapitalis. Padahal jaman Majapahit, wanita sudah berjuang. Sekarang, adanya pelacur itu bukan salahnya wanita tapi salahnya kapitalisme dan imperialisme.”

Perjuangan Nasional yang selalu mengundang tanpa membedakan jenis kelamin untuk terlibat membuat UUD Proklamasi 1945 pun tidak  mengkhususkan perempuan dalam pasal-pasalnya. Perempuan sudah turut ambil  bagian dalam revolusi nasional karena itu berhak juga menikmati hasil dan kemenangan revolusi nasional. Revolusi itulah yang membuat Perempuan setara dengan lelaki. Karena itu pasal-pasal UUD 1945 selalu berbunyi: Setiap warga negara berhak….atau setiap warga negara sama..tanpa menyebut jenis kelamin.

Barangkali disadari, terutama oleh Bung Karno, bila Perempuan yang telah dibebaskan oleh revolusi nasional dari belenggu faham dan adat tua: perbudakan, patriarkhi, feodalisme,kolonialisme dan terus bergerak melawan kapitalisme dan imperialisme belum menyadari betul posisinya sebagai manusia merdeka. Bung Karno mengejar kekurangan tersebut dengan segera mengadakan kursus-kursus politik perempuan ketika Ibu kota Republik dipindah ke Jogja. Kursus-kursus itu bertujuan memberanikan kaum perempuan terlibat dalam menuntaskan perjuangan nasional, mempertahankan Negara Nasional: Negara Persatuan Nasional antara lelaki dan perempuan seperti dua sayap burung yang terbang sempurna menuju tujuan hakiki kemerdekaan nasional yakni  masyarakat adil dan makmur atau sosialisme indonesia. Materi-materi kursus itulah yang kemudian dibukukan di bawah judul Sarinah, perempuan dari golongan “wong cilik” yang turut membesarkan Bung Karno dan mengajarkan untuk selalu mencintai “orang kecil”.

Dari sekilas soal kepemimpinan dan keterlibatan perempuan jauh sebelum perang mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, apakah gaung harumnya dan undangan untuk terlibat jiwa-raga dan sadar mempertahankan negara Republik  tidak sampai di garis depan revolusi yang heroik dan seakan dikuasai laki-laki? Memang sangat sedikit catatan atau berita Perempuan membangun laskar bersenjatanya sendiri dalam revolusi nasional; terlibat di garis depan memanggul senjata mempertahankan kemerdekaan baik dalam Pertempuran Surabaya atau pun pertempuran lainnya. Kebanyakan sebagaimana sering diungkap, perempuan ada di garis belakang; bekerja di dapur umum, palang merah dengan Selendang Sutra; menjadi pendukung yang penuh kerinduan dan cinta dalam Sapu Tangan atau menjadi kurir yang bisa saja penuh resiko.

Karena itu, dinilai masih terlalu pagi bila perempuan menikmati hujan anugerah untuk terlibat dalam perjuangan pembebasan dan terlibat dalam revolusi nasional  memanggul senjata bersama lelaki di  garis depan mempertahankan Kemerdekaan. Bukan sambutan hangat dan bahagia dari Lelaki yang menemukan sayap sempurnanya untuk bekerja-sama dan bersatu menuntaskan perjuangan nasional tapi justru pelecehan dan pemerkosaan yang bahkan berulang terhadap Perempuan di Garis Depan (h.48-54). Tidak tanggung-tanggung pelakunya adalah pemuda dari Laskar Buruh, yang dalam rumus marxisme dianggap sebagai kelas pelopor revolusi, yang pertama kali dipercaya untuk menjadi sandaran perempuan. Suasana berikutnya di garis depan, perempuan justru menjadi sumber masalah dan tak  menjadi bagian yang turut mencerahkan dalam perjuangan revolusi nasional dan ada nada penyesalan mengapa perempuan ada di garis depan? Menyesali dan menangisi keperawanan yang hilang lantas main hakim sendiri?

“Dia punya Vickers Jepang di bawah jasnya. Dia tak segan-segan menembak, dan selalu luput dari hukuman. Pemuda yang memperkosanya ditembaknya mati ketika bertemu di front Surabaya. Dia tak apa-apa. Aku sendiri pernah ditembaknya ketika mendekati dia waktu mandi. Pikir sendiri, perempuan di front!” (h. 50)

Tidak lebih baikkah perempuan di garis belakang sebagaimana Ibu Jon dalam “Senyum” (h. 9-23), yang selalu merestui, menyayangi dan mendoakan atau Titi, gadis Palang Merah dalam “Konyol” (h.24-34) daripada di garis depan yang selalu mengundang energi negatif?

Di garis depan, bila pun perjuangan harus suci yang mengamankan perempuan dari lelaki-lelaki jahat yang hendak mengambil keuntungan pribadi dari perempuan, mau tak mau kembali menyudutkan perempuan karena pejuang lelaki yang mati konyol tetap menjadi pahlawan sementara perempuan aman di garis belakang dengan berbagai macam tuduhan atau kembali ke posisi: perempuan semestinya menjadi ibu yang baik, melahirkan dan membesarkan para pejuang dan para pahlawan, merestui, mendoakan, merawat dan memanjakan lelaki pejuang.

Dalam cerpen” Senyum”, di desa yang pernah menjadi front pertempuran digambarkan bagaimana rakyat desa tersebut mengalami perubahan dan bersiap menghadapi Pemilu pertama Republik, 1955:

“Jiwa penduduknya berubah..Bahwa ia punya almari palang merah berisi obat-obatan dan pembalut di mejanya penuh berserakan buku-buku dan brosur-brosur butahuruf PPK serta selebaran Pemilihan Umum di mana dulu hanya terdapat tembakau krosok di dalam slepen dan teko berisi teh encer, hanyalah tanda-tanda lahir dari perubahan jiwa. Perubahan-perubahan yang hakiki tampak, kalau mereka berbicara tentang koperasi, transmigrasi dan pajak seperti ekonom sejati dan membicarakan arti republik serta kesehatan rakyat seperti negarawan yang berpengalaman. Dan betapa bangganya mereka akan gedung SMP baru yang kira-kira lima tahun yang lalu dimulai pelajaran-pelajarannya oleh anak Mobilisasi Pelajar. (hal .11)

Hujan Kepagian dicetak pertama kali tahun 1958,  tiga tahun sesudah pemilu. Jadi tampak jelas betapa dinamisnya kehidupan politik rakyat termasuk di desa-desa sesudah perjuangan fisik dihentikan dengan “Penyerahan Kedaulatan” ke Republik melalui Konfrensi Meja Bundar, 1949. Antara tahun 1957 sampai 1958, politik anti modal asing dan kehendak berdikari juga menguat yang berpuncak pada pembatalan perjanjian KMB 1949 dan menasionalisasi perusahaan imperialis Belanda. Karena itu membaca Hujan Kepagian sebenarnya juga membaca arus ideologi politik yang berkembang di sebelah kanan. Akan berbeda, kalau kita membaca pergulatan jiwa di sisi lainnya.

Melalui puisi Sugiarti Siswadi: Kebebasan, yang ditulis pada 31 Mei 1958 dan disebar-luaskan melalui Majalah Gerwani: Api Kartini-No 5 Th II, Mei 1960, kita mendengar seruan sadar agar perempuan tanpa ragu bertempur-bersenjata di garis depan.

Kebebasan telah mengubah wajah dunia
dirajainya otak, hati dan kepribadian
disingkapnya kabut di  gunung, di lembah, di pantai, di ladang, di pabrik, di kota-kota,
dan di hati kami, wanita.

Kini kami bukan lagi
hanya melahirkan prajurit pekerja
kami adalah prajurit pekerja
bukan lagi hanya isteri pahlawan rakyat
kami adalah pahlawan rakyat

Dan jika nanti benteng jaman tua sudah hancur
perkasa berdiri kubu pekerja di persada tanah airku
kami bukan lagi hanya penabur bunga
membaca doa dan meratapi kehilangan
kami adalah sebagian anggota pasukan yang terdepan

Hujan Kepagian sudah berkali-kali naik cetak. Hujan Kepagian yang  dibaca ini adalah cetakan ke sembilan dan  diijinkan untuk menjadi bacaan kaum terpelajar di Sekolah Menengah Pertama. Sayangnya,  sampai sekarang, politik bacaan belum bergerak ke arah demokratis. Akibatnya akses bacaan kaum terpelajar terhadap bacaan alternatif sangat terbatas kecuali rajin mencari bahan di internet. Kondisi ini tentu saja merugikan kerja  pembangunan bangsa untuk  memperkuat kepentingan nasional, memperkuat persatuan nasional antara lelaki dan perempuan  di tengah pergaulan internasional yang juga berubah karena perempuan di garis depan akan selalu dianggap terlalu pagi, belum saatnya, belum waktunya.

Perempuan di garis depan saat ini tidak harus diterjemahkan dengan memanggul senjata tapi juga menjadi pemimpin-pemimpin politik, Presiden, wakil rakyat, ketua partai. Kepala Keluarga  dan seterusnya. Betapa sedih bila sampai sekarang setelah 69 tahun menjadi Republik, Perempuan “dicalegkan” pun sekadar pelengkap administratif  agar Partai peserta Pemilu tak didiskualifikasi karena telah   menempatkan jumlah caleg perempuan sesuai kuota. Akibat yang terjadi: bukan kader perempuan partai yang terbaik yang dicalegkan seringkali  malah anak perempuan, adik perempuan, keponakan perempuan, atau istri pimpinan partailah yang dicalegkan tanpa pertimbangan ideologi, politik dan organisasi tapi semata-mata mengamankan kekuasaan pribadi. Yang penting duduk.

Perempuan di garis depan juga masih terlalu pagi di abad 21 ini?

Jakarta, di Bulan April 2014

AJ Susmana, Pengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Data Buku:
Judul : Hujan Kepagian,kumpulan Cerita Pendek
Pengarang: Nugroho Notosusanto
Penerbit: Balai Pustaka, Cetakan ke-9, 1993; 67 h

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut