“Perempuan Berbaju Merah” Jadi Ikon Perlawanan Di Turki

Hari itu, Selasa (28/5/2013), eskavator mulai merobohkan pohon-pohon di taman Gezi. Taman ini merupakan salah satu ruang hijau terbuka paling penting di kota Istambul.

Sejumlah aktivis berusaha mempertahankan taman itu. Ceyda Sungur, yang saat iu sedang berada di lantai dua kantornya, mendengar kejadian itu. Dengan mengenakan baju merah dan membawa tas bahu warna putih, Ceyda berjalan ke taman tersebut.

Begitu tiba di lokasi, barisan polisi telah menyambutnya. Tak hanya itu, seorang diantara polisi itu keluar barisan dan menyemprotnya dengan cairan merica. Ceyda pun memalingkan wajah untuk menghindari semprotan tersebut. Saking kuatnya semprotan itu, rambut Ceyda tersibak ke atas.

Seorang fotographer Reuter, Osman Orsal, berhasil membidik kejadian itu dengan kameranya. Hasil bidikan kamera Osman Orsal itulah yang tersebar di jejaring sosial, terutama Facebook dan Twitter, yang kemudian menyebar ke seluruh Turki dan dunia.

Tak hanya itu, gambar itu juga menghiasai poster dan famplet, yang menggambarnya betapa kejamnya polisi merespon aksi protes damai sekelompok aktivis. Di kota Izmir, kota terbesar ketiga di Turki, gambar itu malah dipasang di Billboard besar.

Gambar itu memang membawa pesan yang jelas. Seorang perempuan, dengan kostum yang tidak pas untuk demonstrasi, yang hanya berusaha menunjukkan niatnya membela taman kota, disemprot merica oleh aparatus kekerasan rezim Tayyip Erdogan. Kalau sudah begitu, hati nurani siapa yang tak tersentuh.

Meski dirinya disebut-sebut sebagai “icon perlawanan” dan gambarnya disebar di mana-mana, Ceyda tidak pongah. Kepada media Turki, Ia menyatakan bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari sebuah gerakan akar rumput. Ceyda sendiri adalah seorang akademisi di Universitas Teknik di Istambul. Ia mengambil jurusan Perencanaan Kota.

“Banyak orang yang tidak berbeda dengan saya, keluar dari kantornya untuk mempertahankan taman, mempertahankan hak mereka, dan membela demokrasi. Mereka juga terkena gas (air mata),” katanya seperti dikutip media Inggris, The Guardian.

Eren Kürkcüoglu, seorang asisten peneliti di sebuah Universitas di Istambul yang juga kolega Ceyda menceritakan, “Ada sekitar 50 orang di taman saat Polisi menyerang kami pertama Senin. Mereka menyerbu kembali selasa pagi. Ceyda dan beberapa teman tiba pertama. Kami menyusul sekitar jam 3 sore.”

Dr Aliye Ahu Akgün, seorang professor di Universitas Teknik di Istambul yang juga kolega Ceyda mengatakan, pengalaman saat kejadian itu sangat tidak menyenangkan. “Mata anda seperti mulai terbakar. Anda ingin menangis tapi tidak bisa. Paru-paru anda sakit. Saya perokok berat, tetapi ini lebih buruk lagi,” tuturnya.

Namun, siapa sangka, kejadian itu telah menjadi katalisator bagi bangkitnya perlawanan yang lebih besar. Banyak orang yang mulai membanjiri taman Gezi, yang berdekatan dengan lapangan Takzim. “Perlawanan tumbuh lebih solid. Awalnya hanya 10 sampai 15 tenda. Tetapi kemudian bertambah tiga kali lipat,” kata Eren Kürkcüoglu.

Kejadian di taman Gezi telah memercikkan api perlawanan yang membakar seantero Turki. Selama tiga hari berturut-turutnya, yakni Jumar, Sabtu, Minggu, seantero Turki terbakar oleh pertempuran di jalan-jalan antara rakyat versus aparat kepolisian rezim Tayyip Erdogan.

Dua orang gugur dalam pertempuran itu, sekitar 1300-an orang terluka parah dan 3300-an ditangkap. Hari Selasa lalu, Wakil Perdana Menteri Turki Bulent Arinc, yang mewakili Pemerintah Turki, meminta maaf atas perilaku brutal Polisi saat menghadapi aktivis yang berusaha mempertahankan taman Gezi.

Diolah dari sumber: The Guardian 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut