Perbedaan Anti-Imperialisme Dan Anti Segala Yang Berbau Asing

Akhir-akhir ini, ketika seruan melawan imperialisme makin menguat, sekelompok orang mulai menaruh rasa khawatir, bahwa gerakan semacam ini akan mengarah pada semangat anti orang asing atau semacam xenophobia. Pendapat ini meskipun sudah jelas salah, tetapi harus diberi jawaban. Setidaknya, supaya kesalah-pahaman seperti ini tidak dibesar-besarkan, apalagi jika hendak menggunakan isu ini untuk membuat rakyat takut kepada gerakan anti-imperialisme.

Baiklah, sebelum mengetahui apa itu anti-imperialisme, ada baiknya kita mengetahui dulu defenisi imperialisme. Persoalan imperialisme adalah, mengutip Bung Karno, sebuah sistem untuk mengusai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri—suatu sistim untuk merajai atau mengendalikan ekonomi bangsa lain.

Lenin, seorang pemikir marxis yang sering dikutip Bung Karno, mendefenisikan imperialisme sebagai kapitalisme pada tahap perkembangan dimana dominasi monopoli dan kapital finansial telah menjadi kenyataan, dimana ekspor kapital telah menjadi sangat penting; dimana pembagian dunia di antara sindikat-sindikat internasional telah dimulai; dimana pembagian teritori-teritori dunia di antara kekuatan-kekuatan kapitalis terbesar telah selesai.

Bung Karno dalam pidato pembelaannya, Indonesia Menggugat, menyampaikan empat ciri imperialisme di Indonesia: 1) Indonesia tetap menjadi negeri pengambilan bekal hidup, (2) Indonesia menjadi negeri pengambilan bekal-bekal untuk pabrik-pabrik di eropa, (3) Indonesia menjadi negeri pasar penjualan barang-barang hasil dari macam2 industri asing, (4) Indonesia menjadi lapang usaha bagi modal yang ratusan-ribuan-jutaan rupiah jumlahnya.

Ekspresi utama dari imperialisme adalah penindasan nasional, atau penindasan suatu bangsa atas bangsa lainnya, untuk tujuan-tujuan ekonomis. Sebuah negara yang ditindas secara nasional oleh bangsa lain tentu tidak akan punya basis untuk menciptakan kemajuan, apalagi bercita-cita memakmurkan rakyatnya. Bagaimana bisa mampu memakmurkan rakyatnya, jika semua sumber daya alam dan potensi ekonomi sudah habis diangkut ke negeri-negeri imperialis?

Menurut Bung Karno dalam pidato Indonesia Menggugat, selama rakyat belum mencapai kekuasaan politik atas negeri sendiri, maka sebagian atau semua syarat-syarat hidupnya, baik ekonomi maupun sosial-politik, diperuntukkan bagi kepentingan-kepentingan yang bukan kepentingannya, bahkan bertentangan dengan kepentingannya.

Oleh karena itu, perjuangan anti-imperialisme adalah perjuangan untuk menghapuskan penindasan bangsa atas bangsa lain, sekaligus sebuah perjuangan untuk menciptakan syarat-syarat bagi kemajuan suatu bangsa. Ini merupakan prasyarat yang diperlukan bagi bangsa Indonesia untuk bisa sederajat dan bermartabat dengan bangsa-bangsa lain.

Ada yang mengatakan, kita tidak usah mempersoalkan dominasi asing, tetapi marilah kita bertarung dalam persaingan global semacam ini. Orang semacam ini, yang tidak mengerti akan adanya relasi penindasan dalam struktur perekonomian global, menganggap bahwa orang yang dirantai tangannya bisa diadu tinju dengan orang bebas.

Nasionalisme Indonesia, yang sering disebut bung Karno sebagai sosio-nasionalisme, bukanlah nasionalisme yang sempit, bukan pula nasionalisme yang xenophobia. Nasionalisme Indonesia, sebagaimana dikatakan Bung Karno, bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari nasionalisme barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan. Bung Karno telah mengutip perkatakaan Gandhi: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsan saya adalah peri kemanusiaan”.

Dengan demikian, melalui penjelasan yang singkat dan kurang lengkap ini, kiranya bisa dipahami bahwa anti-imperialisme adalah penentangan terhadap sebuah sistem, bukan penentangan terhadap orang-orang atau sebuah bangsa. Gerakan anti-imperialisme di Indonesia hendak menghancurkan sebuah sistem yang menindas, bukan saja imperialisme, tetapi juga kapitalisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Indra Ganie

    Semoga bermanfaat.

    SEKILAS TENTANG IMPERIALISME BARAT

    Imperialisme Barat sesungguhnya telah ada jauh sebelum Masehi. Asal muasalnya adalah negeri yang kita kenal dengan Yunani, yang dinilai sebagai asal muasal peradaban Barat. Bangsa Yunani menilai diri sendiri sebagai bangsa unggul atau mulia – entah atas dasar apa. Memang mereka sempat meraih peradaban canggih, tetapi hal tersebut karena pengaruh peradaban sebelumnya dari Timur semisal Mesir, Mesopotamia, Asiria dan Funisia. Mereka membagi manusia kepada 2 macam yaitu bangsa Yunani dan bangsa barbar (biadab). Bahkan bangsa-bangsa yang telah berjasa memperadabkan Yunani tersebut di atas dinilai pula barbar.

    Faham rasialis tersebut melahirkan faham imperialis: Yunani dianggap sebagai bangsa unggul, karena itu berhak memimpin bangsa lain termasuk dalam bentuk penjajahan. Atas dasar tersebut, Alexander Yang Agung bergerak menaklukan dunia Timur sejauh perbatasan India dan Cina.

    Penaklukan tersebut membuka kesadaran akan keunggulan bangsa-bangsa lain, dia mencoba merukunkan Barat dengan Timur dengan tetap dia di puncak kekuasaan. Hasilnya adalah suatu peradaban campuran yang disebut Hellenisme.

    Pewarisnya yaitu Romawi juga demikian, selain mewarisi peradaban Yunani mereka juga mewarisi peradaban Timur yang sama. Tetapi rasa unggul diri tetap tidak hilang: Romawi menaklukan dunia Timur dari Asia Barat hingga ujung Afrika Utara.

    Sekitar abad-4 agama Nashrani mendapat level terhormat di dunia Romawi, agama tersebut memang lahir di wilayah taklukan Romawi yaitu Palestina. Maka leburlah kenasharanian dengan kebaratan, hal tersebut sadar tidak sadar menimbulkan anggapan bahwa Nashrani terkait dengan imperialisme Barat. Artinya mungkin begini: penyebaran agama Nashrani dilaksanakan dengan cara antara lain imperialisme, karena itu imperialisme dianggap bagian dari Nashrani walaupun jelas bahwa Nashrani adalah agama yang lahir dari Timur, yang tidak ada kaitan apapun dengan imperialisme. Anggapan inilah yang kelak makin memperparah hubungan Barat dengan non Barat dan dampak yang ditimbulkannya masih terasa hingga kini, antara lain juga menampilkan anggapan bahwa “imperialis adalah Barat dan Barat adalah imperialis”. Jika Timur terdapat imperialisme, sering dinilai sebagai meniru atau dimulai oleh Barat: imperialisme Timur adalah reaksi terhadap imperialisme Barat. Contoh kasus ini dalah Jepang, menyaksikan bangsa-bangsa Barat beramai-ramai berebut wilayah jajahan jauh dari negara mereka maka Jepang juga tergoda berbuat serupa. Jepang menilai bahwa dunia Timur adalah hak Jepang dan bukan hak Barat.

    Waktu bergerak terus, imperialisme Barat memiliki “ahli waris” semisal Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Portugis dan Belanda. Perang salib pada abad-11 dan perang kolonial pada abad-16 adalah proyek penaklukan dunia lain oleh imperialisme Barat. Umumnya “diperbagus” dengan semboyan muluk semisal “perdamaian”, “peradaban”, “kemakmuran” dan aduhai masih banyak lagi. Ini masih berlangsung hingga kini. Kasus penyerbuan Iraq oleh koalisi AS-Inggris bulan Maret 2003 juga tidak jauh dari perang kolonial dengan pemakaian semboyan tersebut di atas. Siapa yang berani menentang segera mendapat cap “teroris”, “ekstremis”, “bandit”, “pemberontak” dan berbagai sebutan seram lainnya. Persis kasus konflik Belanda-Indonesia sebelum dan sesudah 1945.

    Umumnya imperialis Barat jarang sukses mengalahkan Timur tanpa keroyokan. Jarang kasus Barat mengalahkan Timur dengan satu lawan satu. Sejarah banyak menyajikan hal tersebut: Cina, Turki, dan terakhir adalah Afghanistan dan Iraq kalah karena dikeroyok. Dan kekalahan AS di Vietnam dan Rusia di Afghanistan adalah contoh perang satu lawan satu.

    Setelah selama berabad-abad menghadapi berbagai macam lawan, imperialis Barat agaknya mendapat kesimpulan: lawan yang paling berat adalah Islam, atau kaum Muslim.