Pentingnya Solidaritas

Berbagai kejadian di tanah air, khususnya kekerasan dalam konflik agraria, telah menyayat perasaan kemanusiaan kita. Kecaman dan protes pun mengalir cukup deras. Hanya beberapa jam setelah tindakan kekerasan Polisi di pelabuhan Sape, Bima, sejumlah aksi solidaritas terjadi di mana-mana.

Di sini, solidaritas menjadi sangat penting. Kita hidup dalam suatu dunia yang menganggap solidaritas sebagai sesuatu yang usang. Inilah jaman neoliberalisme. Sistim ini berkembang melalui fragmentasi – disintegrasi struktural – terhadap jaringan dukungan, solidaritas, dan mobilisasi kerakyatan.

Kita menemukan hal paradoks di sini. Di satu sisi, ekspansi neoliberal telah menciptakan penghancuran kesejahteraan rakyat dan ketidak-setaraan sosial yang sangat parah. Sedangkan, pada sisi lain, rakyat di bawah neoliberal benar-benar ter-fragmentasi dan mengalami disorganisasi sosial.

Parodoks itu sekaligus menjadi jawaban: mengapa penindasan neoliberal yang begitu kejam tidak serta-merta berbuah perlawanan yang besar pula. Dalam banyak kasus, seperti di Amerika Latin, kebangkitan kembali gerakan rakyat justru dipicu oleh gerakan-gerakan sosial yang sukses mengorganisasikan kembali rakyat yang sudah terfragmentasi ini.

Jawaban atas pertanyaan di atas: neoliberalisme juga merupakan sistem yang berkembang melalui fragmentasi dan demobilisasi kerakyatan. Sistem itu menerapkan pasar tenaga kerja yang fleksibel untuk menghancurkan gerakan buruh. Sistim itu berhasil menyebarkan virus “individualisme” dan dis-artikulasi sosial.

Di hadapan pasar, tidak ada lagi istilah rakyat atau warga negara. Yang ada dan diakui adalah setiap orang atau seseorang. Dengan menyerahkan tanggung-jawab negara kepada mekanisme pasar, maka terjadi pula proses penghancuran “rakyat” dan “kewarga-negaraan”. Kita semua dipandang sebagai masyarakat konsumen, dengan preferensi masing-masing.

Fragmentasi masyarakat dan penghancuran jaringan solidaritas maupun ikatan-ikatan kohesif telah memicu konsolidasi neo-liberalisme. Solidaritas horizontal, baik berbasiskan solidaritas lintas kelas (nasionalisme) maupun solidaritas berbasis kelas (sosialisme), mengalami pelemahan.

Cara terbaik melawan neoliberalisme adalah menyatukan kembali rakyat yang terfragmentasi itu. Konsolidasi gerakan kerakyatan, dari berbagai spectrum, sepanjang dirugikan dan merasa berkepentingan melawan neoliberal, sangat penting untuk dilakukan. Pengorganisiran kembali sektor-sektor yang sudah terpukul selama puluhan tahun terakhir menjadi sangat penting.

Dalam kepentingan itu, gerakan solidaritas atas berbagai persoalan rakyat menjadi sangat penting. Terlebih ketika rakyat atau gerakan rakyat di suatu tempat mengalami pukulan keras oleh rejim neoliberal, maka gerakan rakyat di tempat lain perlu menggalang  solidaritas dan petisi untuk mengecam tindakan tersebut.

Solidaritas akan membuat rakyat menyadari arti-penting perjuangannya tidak sebatas dalam kasus tertentu atau region tertentu. Tetapi, lebih penting dari itu, mereka akan menyadari keterkaitan persoalannya dengan persoalan rakyat di tempat lain. Dan, dari situ, mereka bisa melakukan analisa dan menarik kesimpulan tentang keterkaitan kebijakan ekonomi-politik dengan keseluruhan persoalan rakyat. Di sini, kebiasaan menonjolkan “panji-panji” sendiri mesti dikurangi. Perlu ditekankan: semakin banyak panji-panji yang terlibat dalam aksi solidaritas, sepanjang diikat oleh ketentuan yang disepakati bersama, akan memperkuat kepercayaan diri rakyat untuk melawan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, kita mengenal istilah “gotong-royong” yang sudah dikenal bangsa Indonesia beribu-ribu tahun. Gotong-royong ini sudah hampir punah sama sekali. Dalam kepentingan anti-neoliberalisme, kaum pergerakan penting untuk mengangkat kembali semangat “gotong-royong” ini dan memasyarakatkannya.

Gotong-royong akan menjadi senjata rakyat untuk membendung serangan neoliberal dan sekaligus sarana mengorganisasikan kembali rakyat yang sudah terfragmentasi di bawah penindasan neoliberal. Kita harus membuat “ho-lopis-kuntul-baris” untuk menghancurkan neoliberalisme dan imperialisme!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut