Pentingnya Mengembalikan Kejayaan Maritim

Dahulu, emporium maritim nusantara melahirkan kerajaan-kerajaan maritim yang kuat, seperti Sriwijaya dan Singosari. Emporium maritim juga punya kontribusi dalam memberi dasar lahirnya bangsa: perdagangan, bahasa linguafranca, keterkaitan budaya, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, kedatangan kolonialisme menghancurkan emporium maritime itu. Sejak itu, kira-kira abad ke-16, emporium maritim nusantara pun perlahan surut.

Mantan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana (Purn) Achmad Sutjipto, menunjukkan adanya keterkaitan antara budaya maritime dan tradisi politik demokratis. “Negara-negara yang punya wawasan maritim itu jarang sekali yang lalim, otoriter,” katanya dalam diskusi  bertajuk “Menggagas Imperium Maritim” di Newseum Coffee, Jakarta, Selasa malam (13/3/2012).

Ia mencontohkan, kerajaan Inggris, salah satu negara berwawasan maritim, sudah membuat piagam magna charta pada abad ke-13. Piagam itu membatasi kekusaan absolut sang raja.

Di kerajaan maritim, kata Achmad Sutjipto, masyarakatnya lebih egaliter dan selalu berpandangan keluar (look outward). Sedangkan negara-negara daratan, seperti Rusia, cenderung statis.

“Masyarakat maritim punya budaya commerce and trading. Mereka dipaksa untuk berinteraksi dengan berbagai pihak dan kebudayaan,” tegasnya.

Akan tetapi, bagi Laksamana Sutjipto, berbicara soal maritim adalah berbicara soal “power projection”. Bangsa-bangsa maritime selalu punya ambisi besar untuk menapaki masa depan.

“Tantantangan bangsa kita adalah bersaing dengan bangsa lain. Mengejar kemajuan setinggi-tingginya. Bukan puas menjadi bangsa survive,” tegas mantan pimpinan angkatan perang di laut ini.

Dengan keruntuhan emporium maritim, nusantara pun kehilangan kedigdayaannya.

Sementara itu, peneliti dari LPM UI, Lily Tjahjandari, berusaha menjelaskan bagaimana aspek kemaritiman nusantara menjadi aspek pertama yang hendak ditaklukkan.

“Dengan mengusai laut, kolonialis hendak memotong cara pandang kita,” katanya.

Selain persoalan sumber daya dan kekayaan alam, Lily juga menggaris-bawahi aspek kebudayaan maritime. “Ini bisa menjadi kapital budaya yang sangat penting,” tegasnya.

Lily pun mengangkat persoalan tingginya kemiskinan di pesisir sebagai bukti gagalnya pembangunan maritim di Indonesia. Katanya, kekayaan maritime sangat sedikit yang bisa memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

Sementara itu, Coastal Engineering Lab BPPT, Gegar Sapta Prasetyo, menyoroti ketertinggalan Indonesia di bidang teknologi maritim. Di mata pemuda yang pernah mengembara di berbagai negeri eropa ini, ketertinggalan teknologi kemaritiman Indonesia sangat terkait dengan pengabaian orang terhadap laut.

“Sekarang, anak-anak muda kalau ke pantai cuma duduk-duduk di bawah pohon kelapa. Tidak ada upaya eksplorasi terhadap laut itu sendiri. Ini soal pemahaman soal laut yang makin tereduksi,” katanya.

Dahulu, ketika kerajaan maritim berkembang kuat, nusantara punya penemuan teknologi yang sangat maju di jamannya. Bangsa kita bisa membuat peradaban yang membuat dunia berdecap kagum.

Soal teknologi maritime, Gegar yakin bangsa Indonesia bisa melakukannya. “Kita banyak pemuda yang mengusai teknologi. Tetapi, karena abaikan oleh pemerintah, mereka bekerja di perusahaan asing,” katanya.

Diskusi soal maritim ini rutin digelar oleh Institut Maritim Indonesia (IMI). Diskusi digelar setiap bulan di Newseum Coffee. Pesertanya pun sangat beragam: akademisi, anggota angkatan laut, professional, aktivis, mahasiswa, dan lain-lain.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut