Pengikut-Pengikut Goebbels Di Indonesia

Siapa yang bilang bahwa kepala propaganda Hitler, Josef Goebbels, tidak punya pengikut di Indonesia. Meski tidak pernah belajar langsung, ataupun berhubungan secara langsung, tetapi banyak sekali orang-orang Indonesia yang mengikuti doktrin terkenal dari Goebbels: “berbohonglah sebanyak-banyaknya, akhirnya orang akan mempercayai kebohonganmu!”

Kita tidak akan sulit mengidentifikasi siapa-siapa mereka itu. Kami akan mengambil berdasarkan pengelompokan umumnya saja, yaitu: politisi/pejabat pemerintah, pers kanan, lembaga statistik/survey, dan kaum intelektual kanan.

Di jajaran pemerintahan atau dunia politik, kita sudah sering mendengar ucapan pemimpin yang seringkali berbeda dengan kenyataan. Dengan berbagai motif tertentu, pemerintah seringkali menjanjikan sesuatu yang berbau populis kepada rakyat, tetapi kenyataannya menunjukkan bahwa janji itu tidak terpenuhi.

Ambil contoh ketika Presiden SBY pernah berjanji untuk tidak akan menaikkan BBM hingga jabatannya berakhir di tahun 2009 lalu. Faktanya, SBY malah berkali-kali menaikkan harga BBM. Ada banyak sekali janji-janji presiden SBY, seperti pemberantasan korupsi, pembagian tanah (PPAN), dan masih banyak lagi, sampai sekarang ini belum ditemukan kenyataannya.

Dalam penyajian informasi, pers juga seringkali menjadi agen pembawa informasi yang tidak benar, juga terkadang melebih-lebihkan hal yang sepele dan menutupi hal-hal yang bersifat serius, bahkan mengarang cerita bohong. Ambil contoh, kasus Andris Ronaldi, yang mengaku dipaksa TVOne menjadi narasumber palsu. Dia yang sebelumnya diminta sebagai narasumber terkait PJTKI dalam sebuah talk show tiba-tiba harus menjadi makelar kasus. Bicaranya pun dipandu melalui teks yang sudah disiapkan redaksi televisi (detiknews.com, Jumat, 9 April 2010).

Atau, contoh terbaru mengenai kontroversi “topik pagi ANTV” mengenai reportase penjarahan sebuah warung milik pengungsi merapi. Namun, setelah dikonfirmasi kepada seorang korban bernama Hengky, kenyataannya tidaklah seperti yang ditayangkan oleh media bersangkutan. Hengky malah mengaku bahwa pihaknya diarahkan oleh wartawan saat pengambilan gambar. (Bisa dilihat versi warga di http://www.tribunnews.com/2010/12/05/korban-merapi-bingung-dituduh-menjarah)

Malcom X, seorang pejuang islam Amerika, pernah berkata: “media memiliki kekuatan untuk menjadikan orang yang bersalah sebagai yang tak berdosa, dan sebaliknya. Di situlah letak kekuatannya, karena media mengendalikan pikiran massa.”

Lembaga statistik dan lembaga survey juga menjadi mesin kebohongan. Anda tentu masih ingat bagaimana data Biro Pusat Statistik, terutama mengenai data kemiskinan dan pengangguran, dipertanyakan oleh publik. Juga, bagaimana lembaga-lembaga survey menjejali kita dengan hasil-hasil survey, yang tingkat kebenarannya masih patut dipertanyakan.

Kebanyakan lembaga survey bekerja untuk pihak yang membayarnya. Seperti dalam kasus pemilu 2009, dimana sebuah lembaga survey didanai oleh Fox, yang saat itu menjadi manajer kampanye SBY-Budiono.

Kemudian kalangan kaum intelektual, yang sedikit banyaknya hanya dijadikan legitimator ilmiah terhadap kebijakan pemerintah. Dalam banyak kasus, legitimator akademis ini bertentangan dengan realitas atau kebenaran.

Meskipun para filsuf mencoba menyatakan bahwa politik tidak bisa dilepaskan dari persoalan etika, tetapi kenyataannya menunjukkan bahwa politik nyata bukanlah lahir dari konsep-konsep, tetapi dilahirkan oleh kondisi material tertentu; relasi produksi, infrastruktur, basis struktur, formasi sosial, dan sebagainya.

Dalam masyarakat berkelas seperti sekarang ini, politik akan mengabdi kepada kepentingan kelas masing-masing. Dan, tentu saja, sebagai minoritas dalam jumlah masyarakat, kelas berkuasa akan menggunakan segala cara untuk meraih dukungan dari kelas-kelas sosial lainnya, terutama dengan menggunakan senjata yang bernama “manipulasi”. Karenanya, bisa kita simpulkan bahwa kehadiran Goebbels dan teorinya bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan keharusan bagi kelas dominan untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Mengingat bahwa manipulasi dan kebohongan merupakan watak asli dari kekuasaan sekarang, maka rakyat pun harus diperkuat kapasitasnya untuk menyerap informasi dan janji-janji politik, yaitu dengan memperkuat pengetahuan dan ingatan sejarahnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut