Penghancuran Mentalitas Dan Karakter Bangsa

“Dominasi kolonial, karena mengingikan daya tahan lama dan keberlangsungan, memerlukan upaya sistematis untuk menghancurkan karakter dan mentalitas suatu bangsa,” demikian dikatakan Frans Fanon, tokoh pembebasan nasional Algeria.

Pernyataan Frans Fanon ini sangatlah relevan untuk menyingkap praktek neo-kolonialisme hari ini, yang bukan saja melakukan perampokan ekonomi dan sumber daya, tetapi telah menjalankan peperangan panjang untuk menghancurkan kebudayaan bangsa kita.

Sudah banyak budayawan yang menyampaikan keresahan atas hancurnya mentalitas dan karakter bangsa kita. Budayawan moderat dan sekaligus intelektual islam, Emha Ainun Nadjib, menganggap “bangsa kita sedang sakit parah alias Komplikasi”. Pendek kata, bangsa kita sedang mengarah pada krisis “karakter bangsa”.

Penghancuran paling nyata paling pertama adalah bahasa. “Tidak ada bangsa tanpa bahasa,” demikian dikatakan Mohammad Yamin dalam kongres pemuda. Akan tetapi, dengan dalih globalisasi dan modernitas, bahasa Indonesia telah dihancurkan sedemikian rupa. Kalangan kelas menengah, seperti juga para priayi didikan belanda di jaman kolonial, terlihat sangat bangga ketika bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris ketimbang menggunakan bahasa nasional tempatnya berpijak, bahasa Indonesia.

Kita bangsa yang besar, punya penduduk 230 juta orang, tetapi kurang percaya diri untuk mempergunakan bahasa nasionalnya sendiri. Anak-anak muda yang seharusnya mengembangkan bahasa Indonesia lebih lanjut, justru menjadi salah satu perusak bahasa paling aktif. Merek dagang, spanduk, nama perusahaan dan nama hotel atau layanan umum lainnya hampir semuanya dalam bahasa Inggris.

Aspek lainnya, sebagaimana dikatakan oleh William Grigsby, mantan pemimpin Sandinista, bahwa neoliberalisme bukan hanya ideology yang menjajah masyarakat dunia dengan kolonialisme tersembunyi, tetapi juga merupakan sebuah ideology yang mengubah masyarakat menjadi sekedar konsumen; Dan bukan hanya menjadi konsumen, masyarakat juga diubah mentalnya menjadi apatis, sinis, dan sangat individualis.

Konsumerisme bukan sekedar praktik ekonomi, yaitu kegiatan mengkonsumsi barang produsen, tetapi lebih jauh harus dipahami sebagai kebudayaan klas kapitalis dan mekanisme penghancuran terhadap mentalitas klas bawah. Dengan konsumerisme, orang dipaksa untuk tetap hidup dan berkonsumsi bukan berdasarkan pendapatannya (income), melainkan melalui utang (debt). Dengan begitu, orang-orang akan mengejar kebutuhan secara berlebihan, dan terus motivasi untuk menambah kemampuan membelinya dengan pinjaman (kredit). Konsumerisme, sebagaimana disimpulkan dengan baik oleh Thomas Moulian, akhirnya menjadi mekanisme domestifikasi, yaitu penjinakan manusia seperti kawanan gembala yang sekedar hidup untuk belanja.

Anehnya, di tengah serbuan liberalisme yang menyerbu bagai badai topan, mereka mentolerir pula masuknya ekstremisme-ekstremisme agama, seperti kelompok FPI dan sejenisnya. Dengan memberi tempat kepada organisasi-organisasi barbarian seperti itu, maka fundamen-fundamen bangsa kita (gotong royong, bhineka tunggal ika, dll) akan dikoyak-koyak dalam perpecahan.

Neoliberalisme telah menghasilkan apa yang dikatakan oleh sosiologis Kuba, Antonio Juan Blanco, sebagai ‘manusia sampah yang sulit didaur ulang secara sosial dan keseluruhan bangsa-bangsa yang kehilangan orientasi (frustasi).

Padahal, seperti diterangkan oleh Frans Fanon dan juga Bung Karno, persoalan karakter dan mentalitas suatu bangsa merupakan elemen penting dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • NAI

    aq sepakat dengan gagasan yang disampaikan dalam tulisan ini, namun penulis juga perlu memperhatikan apa yg di tulis adalah kritik mengenai penggunaan bahasa indonesia. namun dalam tulisan ini penulis juga terlalu banyak memakai istilah-istilah bahasa asing, mengapa gagasan-gagasan yang terkandung didalam istilah-istilah asing tersebut disampaikan menggunakan padanan bahasanya dalam bahasa Indonesia.

  • NAI

    maksud saya, mengapa gagasan pada istilah asing itu tidak disampaikan saja menggunakan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. sebagai kesesuaian dengan gagasan atas kritik penggunaan bahasa Indonesia.