Pencurian Koleksi Museum Itu Kejahatan Serius

Pencurian artefak di Museum Nasional harus dipandang sebagai  kejahatan serius terhadap warisan budaya (cultural heritage). Kejahatan itu tidak bisa dipersepsi sebagai ‘victimless crime‘  atau kejahatan tanpa korban.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Seven Strategic Studies, Mulyana W Kusumah, di Jakarta, Sabtu (14/9/2013). Ia menduga pelaku pencurian koleksi museum sejarah itu adalah jaringan perdagangan ilegal benda  purbakala atau benda cagar budaya yang sudah memiliki rekam jejak di bidangnya.

Selain itu, ia juga menduga para pelaku mempunyai relasi dengan mata rantai pebisnis khusus benda purbakala atau benda cagar budaya Keraton atau Kerajaan Jawa Kuno.

Ia juga menegaskan, jaringan tersebut berbeda dengan kelompok atau organisasi ‘art crime‘ seperti organisasi pencuri lukisan antik karya Picassso, Salvador Dali, Matisse dan Leonardo da Vinci di negara-negara lain.

“Besar kemungkinan para pelaku merupakan kelompok yang sama atau setidak-tidaknya mempunyai keterkaitan dengan  para pelaku pencurian 75 Koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, pada 11 Agustus 2010 yang hingga kini tidak terungkap tuntas oleh Polri,” ujarnya.

Mulyana juga tidak menampik  kemungkinan  pencurian  koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta dan Museum Nasional dilakukan untuk memenuhi permintaan lokal bukan sekadar bernilai jual tinggi, akan tetapi juga memiliki nilai ‘mistis kekuasaan’.

Ia menyesalkan pengamanan Museum jauh dari standar yang ditentukan antara lain dalam UU nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Sanksi pidana dalam UU tersebut sangat rendah, yakni 10 tahun (di AS 20 tahun) dan dendanya relatif kecil, yakni Rp 250 juta.

“Instansi terkait perlu diminta pertanggungjawaban mengenai pembiaran pengamanan museum di bawah standar,” tegasnya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut