Pemilu Uruguay Dan Peluang Kaum Kiri

Tabare.jpg

Tanggal 26 Oktober mendatang, Uruguay akan melangsungkan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres). Sebanyak 2 juta rakyat Uruguay yang punya hak pilih akan masuk ke bilik suara untuk menentukan nasib negeri berpenduduk tiga juta itu dalam lima tahun mendatang.

Ada tiga kandidat Calon Presiden yang akan bertarung dalam Pilpres Uruguay kali ini, yakni Tabaré Vázquez (Frente Amplio/FA), Luis Alberto Lacalle Pou (Partido Nacional, PN), dan Pedro Bordaberry (Partido Colorado, PC).

Hingga sekarang ini, sejumlah jajak pendapat mengunggulkan kandidat yang diusung partai kiri Frente Amplio/Front Luas (FA), Tabaré Vázquez, akan tampil sebagai pemenang. Ia diperkirakan akan meraup dukungan sekitar 43-45% suara pemilih.

Pemerintahan Kiri

Pada tahun 2004, untuk pertama-kalinya dalam sejarah negeri itu, kaum kiri berhasil meraih kekuasaan. Frente Amplio (Front Luas) berhasil memenangi pemilu dengan 51,7% suara. Partai ini juga berhasil menghantarkan Tabaré Vázquez sebagai Presiden periode 2005-2010.

Frente Amplio adalah koalisi ‘tenda besar’ yang mempersatukan partai-partai kiri dan faksi-faksi progressif dari partai tradisional di Uruguay. Partai koalisi ini terbentuk pada 5 Februari 1971. Sejumlah organisasi kiri radikal, seperti Gerakan Pembebasan Nasional (MLN) atau sering disebut Tupamaros, turut bergabung dalam koalisi ini.

Sebelum berkuasa, Frente Amplio berada di garda depan menentang kediktatoran. Partai ini juga banyak bekerja dengan berbagai sektor sosial tertindas di akar rumput. Mereka membentuk Komite Basis (Comites de Base) untuk merespon berbagai persoalan rakyat di akar rumput. Ini juga yang menjadi jalan bagi Frente Amplio untuk menjadi ‘partai massa’.

Di tahun 1990, Frente Amplio memenangi Pilkada di Montevideo, Ibukota Uruguay. Tabaré Vázquez, seorang dokter progressif, ditunjuk sebagai Walikota. Momentum itulah yang dijadikan Frente Amplio untuk mendemonstrasikan kemampuannya mengelola kekuasaan dengan lebih baik.

Dan tak lama kemudian, tepatnya di tahun 2004, Frente Amplio memenangi Pemilu Nasional. Inilah pertama-kalinya kaum kiri berkuasa dan memutus mata-rantai kekuasaan dua partai kanan, yakni Partido Nacional (Partai Nasional) dan Partido Colorado (Partai Colorado), yang berkuasa selama kurang-lebih 150-an tahun.

Begitu berkuasa, Tabaré mendorong kebijakan sosial untuk mengangkat jutaan rakyat Uruguay dari jurang kemiskinan. Tak hanya itu, melalui kebijakan pajak progressif, Tabaré mendorong redistribusi kekayaan dan memerangi ketimpangan ekonomi. Selain itu, pemerintahannya juga berkomitmen dalam menyelesaikan berbagai kejahatan HAM di masa kediktatoran.

Berkat itulah, pada tahun 2009, Frente Amplio kembali memenangi Pemilu Nasional. Kali ini Frente Amplio meraih suara 55%. Dan juga berhasil menempatkan seorang bekas gerilyawan Tupamaros, Jose ‘Pepe’ Mujica, sebagai Presiden.

Di periode kedua ini, Uruguay makin berkembang maju. Mujica kesohor ke seantero dunia sebagai “Presiden paling sederhana” di dunia. Mujica juga berhasil menjadikan Uruguay sebagai negara pertama di dunia yang punya payung legal untuk mengatur produksi, distribusi dan konsumsi ganja. Tak hanya itu, pemerintahan Mujica juga melegalkan perkawinan sejenis dan melegalkan aborsi untuk melindungi perempuan.

Di bidang ekonomi, pemerintahan Frente Amplio juga terbilang sukses. Di bawah pemerintahan Tabaré Vázquez, yakni dari 2005-2010, angka kemiskinan berkurang dari 32% menjadi 20%. Sedangkan kemiskinan ekstrim berkurang menjadi 1,5%.  Sekarang ini, berdasarkan laporan Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC), kemiskinan di Uruguay tinggal 5,9% dan kemiskinan ekstrim tinggal 1,1%.

Selain itu, berdasarkan catatan Bank Dunia, pendapatan per-kapita Uruguay meningkat dari 8,996 USD di tahun 2009 menjadi 14,703 USD di tahun 2012. Ini menjadikan Uruguay sebagai negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di kawasan Amerika Latin.

Berlanjut Atau Terinterupsi?

Frente Amplio kembali mengusung Tabaré Vázquez sebagai kandidat Presiden. Ia akan bersaing dengan dua kandidat dari partai kanan tradisional, yakni Luis Alberto Lacalle Pou (Partido Nacional, PN) dan Pedro Bordaberry (Partido Colorado, PC).

Dalam kampanye pemilu kali ini, Tabaré Vázquez menjanjikan akan memperluas dan memperdalam kebijakan sosial yang sudah dijalankan oleh pemerintahan Frente Amplio selama dua periode. “Kita harus menghidupkan kembali utopia. Kita harus membangun masa depan kita dari keterbatasan di jaman ini,” kata Tabaré saat berbicara di Kongres ke-IV Frente Amplio.

Tabaré berjanji, jika dirinya terpilih kembali sebagai Presiden, pemerintahannya akan berjuang untuk lebih memajukan lagi kualitas hidup setiap rakyat Uruguay. Ia juga akan memperkuat kebijakan pemerintahan Mujica sebelumnya.

Isu kunci yang diusungnya adalah alokasi 6% dari PDB untuk pendidikan, peningkatan layanan dan kualitas kesehatan dengan meniru gaya Swedia, pengurangan inflasi, pembangunan infrastruktur, dan lain-lain.

“Sejak Front Luas berkuasa, tidak ada lagi pemadaman listrik di negeri ini. Sekarang kita punya energi yang ramah lingkungan, seperti kincir angin, pembangkit listrik tenaga surya, dan energi dasar dari kayu dan beras” kata Tabaré.

Pesaing terdekat Tabaré adalah Alberto Lacalle Pou dari Partido Nacional. Dia adalah anak dari mantan Presiden bergaris politik konservatif, Luis Alberto Lacalle (1990-1995).

Ia adalah pengeritik paling keras di era pemerintahan Mujica. Kendati mencoba mengambil platform politik moderat-tengah, tetapi Lacalle Pou berkomitmen kuat untuk memperkuat pasar dan bisnis serta mendekatkan Uruguay dengan Amerika Serikat.

Pesaing lainnya adalah Pedro Bordaberry dari Partido Colorado. Ia adalah putra dari mantan diktator Uruguay, Juan Maria (1972-1976). Bordaberry dan partainya, Partido Colorado, mewakili sektor paling konservatif Uruguay. Ia berjanji akan membalikkan semua kebijakan di era Mujica, seperti perkawinan sejenis, hak aborsi, dan legalisasi ganja.

Masalahnya, kendati Tabaré Vázquez diunggulkan untuk menang, tetapi ia sulit meraih suara 50% atau lebih. Artinya, jika merujuk ke aturan Pilpres Uruguay, maka Pilpres akan berlangsung dua putaran.

Dan yang terjadi kalau Pilpres berlangsung dua putaran, maka dua kandidat sayap akan bersatu. Jadinya, Pilpres putaran kedua diperkirakan akan berlangsung sangat ketat. Ini akan menjadi pertempuran yang menentukan: apakah Uruguay akan terus melangkah maju atau akan terseret kembali ke belakang. Rakyat Uruguay-lah yang akan menentukannya!

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut