Pemilu Regional Dan Pergeseran Politik Di Spanyol

Spain_election_Bar_3316861b

Pemilihan umum (Pemilu) regional di Spanyol, yang berlangsung hari Minggu (24/5/2015), benar-benar mengubah peta politik di negeri matador itu.

Hasil pemilu regional menunjukkan, partai-partai lama yang mendominasi politik selama ini, khususnya Partai Kerakyatan (PP) dan Partai Pekerja Sosialis Spanyol (PSOE), mengalami kemunduran telak. Keduanya sangat mendominasi politik Spanyol dalam 40 tahun terakhir.

Sebaliknya, partai-partai yang baru berdiri, terutama partai berhaluan kiri Podemos dan partai berhaluan kanan-tengah Ciudadanos, meraih dukungan cukup signifikan.

Untuk diketahui, Podemos baru berdiri di tahun 2014 lalu. Partai yang lahir dari gerakan protes dan gerakan sosial ini dipimpin oleh seorang politisi muda berambut gondrong, Pablo Iglesias. Sedangkan Ciudadanos (Warga Negara), yang digambarkan sangat pro-pasar, berdiri sejak tahun 2005 lalu.

PP adalah partai berkuasa di Spanyol saat ini. Secara nasional, partai yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mariano Rajoy ini memang masih meraih suara terbanyak, yakni 27 persen. Namun, jika dibandingkan dengan pemilu regional tahun 2011, partai ini kehilangan 2,5 juta suara.

Tidak hanya itu, partai berhaluan konservatif ini juga kehilangan kontrol mutlak terhadap 8 dari 13 Provinsi di Spanyol. Termasuk di dua kota yang menjadi basis dukungan tradisional mereka, yakni Madrid dan Valencia.

Nasib serupa juga dialami PSOE. Partai berhaluan sosial-demokrat ini meraih suara 25 persen. Dibandingkan pemilu lokal tahun 2011 lalu, PSOE kehilangan 775,000 pemilih.

Secara keseluruhan, PP dan PSOE mengumpulkan 52 persen suara. Padahal, di pemilu tahun 2011, gabungan suara kedua partai mencapai 65 persen. Dengan kondisi ini, PP dan PSOE harus bernegosiasi dengan partai-partai kecil untuk tetap bisa berkuasa di 13 dari 17 provinsi di Spanyol.

Berbagai analisa menyebutkan, pergeseran dukungan politik dari partai-partai lama ke partai yang relatif masih sangat baru merupakan manifestasi dari ketidakpuasan rakyat Spanyol atas situasi ekonomi dan politik hari ini.

Dua partai yang silih-berganti berkuasa di Spanyol, yakni PP dan PSOE, dianggap bertanggung-jawab atas situasi ekonomi yang memburuk. Tingkat pengangguran umum di Spanyol mencapai 25 persen. Dan yang mengkhawatirkan, tingkat pengangguran kaum muda di Spanyol mencapai 56 persen.

Selain itu, karena kebijakan penghematan yang merontokkan kesejahteraan penduduk, sebanyak 11 juta atau 20,4 persen rakyat Spanyol hari terjerembab dalam kemiskinan. Sementara 23,7 persen lainnya beresiko terlempar ke dalam lubang yang sama.

Tidak hanya itu, di bawah pemerintahan Perdana Menteri Marioano Rajoy hari ini, politik Spanyol dilanda banyak kasus korupsi. Sebuah studi yang dilakukan oleh Real Institute Elcano menempatkan Spanyol sebagai negeri terkorup di Eropa.

Kiri Menang Di Barcelona

Di Barcelona, Ada Colau Ballano, seorang aktivis kiri, berhasil meraih suara terbanyak, yakni 25 persen. Dengan hasil tersebut, Barcelona akan dipimpin oleh walikota berhaluan kiri.

Ada Colau dikenal sebagai aktivis anti penggusuran. Aktivitasnya ini cukup melambungkan namanya. Di Spanyol, ada 120 orang yang kehilangan rumah mereka per hari akibat krisis ekonomi. Selain itu, dia juga pernah menjadi jurubicara dari organisasi pembela korban kredit perumahan (Plataforma de Afectados por la Hipoteca (PAH).

Di pemilu regional ini, Ada Colau diusung oleh Barcelona en Comú (Barcelona Milik Bersama), sebuah aliansi yang melibatkan organisasi kiri, hijau, dan gerakan akar rumput. Termasuk Podemos ada di dalam aliansi ini.

Kemenangan Colau ini di luar dugaan. Ia sendiri menyebut kemenangannya sebagai kemenangan “David melawan Goliath”. Berpidato di hadapanpendukungnya sesaat setelah dipastikan menjadi pemenang, Colau mengatakan, “Orang biasa, warga biasa, yang biasanya tidak punya kekuatan politik, ekonomi, hukum, dan media…kami membuat kesempatan bersejarah dan kami meraihnya.”

Di Madrid, seorang bekas aktivis Partai Komunis, Manuela Carmena, juga berpeluang menjadi Walikota. Manuela diusung oleh Ahora Madrid (Madrid Sekarang), yang merupakan aliansi dari berbagai kelompok kiri, termasuk Podemos.

Ahora berada di urutan kedua perolehan kursi, yakni 20. Sedangkan peringkat pertama diduduki oleh PP dengan 21 kursi. Kemudian, posisi ketiga ditempati oleh PSOE dengan 9 kursi. Bisa dipastikan, bila Ahora bisa berkoalisi dengan PSOE, maka Manuela akan menjadi Walikota di Ibukota Spanyol tersebut.

Menang di kota besar, seperti Madrid dan Barcelona, sangat penting bagi Podemos. Seperti dikatakan Pablo Iglesias, ‘kota besar adalah mesin utama perubahan di Spanyol.”

Namun, ada hal penting yang patut diketengahkan di sini. Keberhasilan kandidat kiri merebut kursi Walikota, seperti di Barcelona dan kemungkinan Madrid, tidak terlepas dari keberhasilan mereka menggalang persatuan.

Ini akan menjadi tantangan untuk pemilu nasional. Bisakah kaum kiri dan gerakan sosial kembali bersatu untuk mengambil alih pemerintahan nasional?

Podemos Sebagai ‘Pendatang Baru’ Yang Meroket

Kendati tidak mengusung Walikota sendiri di pemilu regional kali ini, tetapi Podemos berhasil meraih dukungan signifikan. Partai yang baru berdiri di tahun 2014 ini menempati posisi ketiga peraih kursi terbanyak di parlemen lokal di 8 provinsi.

“Ini malam yang menakjubkan. Ini adalah malam bersejarah di Spanyol yang akan menjadi titik menuju perubahan,” kata Pablo Iglesias, pimpinan partai Podemos, kepada para pendukungnya, Minggu (24/5) malam.

Pablo melanjutkan, “ini adalah kebanggaan bagi kita telah menjadi mesin dari perubahan ini. Katanya, angin musim yang membawa perubahan di Spanyol sudah tidak terelakkan.

Dia juga menegaskan, dukungan politik untuk Podemos di pemilu regional ini akan menjadi modal besar untuk memenangkan Pemilu nasional akhir tahun ini.

Akhir Dominasi Dua Partai

Pemilu regional di Spanyol jelas mengubah peta politik. Peta kekuasaan politik yang selama ini didominasi oleh dua partai, yakni PP dan PSOE, kini mulai dimasuki kekuatan politik baru, yakni Podemos dan Ciudadanos. Situasi itu menandai berakhirnya ‘two-party sistem’ yang memerintah Spanyol sejak berakhirnya kediktatoran Franco di tahun 1970-an.

“Cerita tentang berakhirnya politik bipartisan akan mulai ditulis hari ini. Partai berkuasa mendapat hasil terburuk dalam sejarah mereka. Dan kita senang, setiap kali jajak pendapat dilakukan di negeri ini, jumlah pendukung kita terus tumbuh,” ujarnya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut