Pemilu Brazil: Kelanjutan Politik Kiri dan Persaingan Tiga Perempuan

Sebagian besar publik Brazil masih dilanda “perdebatan tak berujung” mengenai kekalahan tim nasional mereka di ajang piala dunia. Kekalahan itu sedikit-banyaknya dikaitkan dengan pemerintahan Lula yang sedang berkuasa, dan sangat efektif untuk menjadi kampanye oposisi dalam pemilu presiden mendatang.

Brazil, yang luas daratan dan jumlah penduduknya terbesar di Amerika Selatan, telah menunjukkan pengaruh politik yang luar biasa, bukan saja di kawasan ini tetapi juga di tingkatan global. Dengan dua periode kekuasaan di tangannya, Lula Da Silva telah memantapkan posisi Brazil sebagai kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan di dunia, bahkan data IMF mencatat, bahwa negeri “samba” ini akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia pada tahun 2020 mendatang.

Hal yang patut diketahui dari kebijakan luar negeri Lula, terutama dalam masa jabatan kedua, adalah sikap dinamis dan multipolaritas-nya yang tidak mudah patuh pada skenario penguasa tunggal dunia, AS. Selain itu, Presiden Lula juga memainkan peranan sangat penting dalam mendorong integrasi regional di Amerika Latin dan kerjasama diantara mereka, sesuatu yang sangat tidak dikehendaki Washington.

Namun, apa yang paling menarik dari pemilu presiden mendatang, ialah persaingan keras tiga sosok perempuan, yang kesemuanya berada dalam barisan politik kiri, yaitu: Dilma Rousseff; calon presiden dari Partai Buruh (PT); Marina Silva, mantan menteri lingkungan hidup dalam pemerintahan PT dan calon presiden dari Partai Hijau (PV), dan Heloisa Helena,  pemimpin Partai Sosialisme dan kebebasan (PSOL).

Bagi sebagian aktivis feminis, situasi ini dianggap sangat menguntungkan karena telah memberi porsi yang lebih besar bagi isu-isu advokasi gender, termasuk diskusi soal peran dan partisipasi politik perempuan. Namun, dalam kepentingan menjaga kelanjutan proyek politik kiri di negeri ini, persaingan itu telah melemahkan barisan kiri.

Persaingan ini menjadi menguat karena perbedaan penilaian kaum kiri mengenai pemerintahan lula dan perjuangan menuju sosialisme. Bagi kiri jauh, termasuk dalam hal ini Partai Sosialisme dan kebebasan (PSOL), rejim Lula telah bergeser ke kanan, ketika mengikuti anjuran Dana Moneter Internasional (IMF).

Apa yang paling mengejutkan, kata Francisco de Oliveira, yang juga merupakan salah satu pendiri PSOL, bahwa pemerintahan Lula tidak berbeda dengan pemerintahan neoliberal sebelumnya, dan gagal memanfaatkan dukungan dari basis pekerja dan petani tak bertanah (MST) untuk mendorong perubahan radikal, terutama reformasi agraria.

Karena itu, dalam pandangan final PSOL, pemerintahan Lula telah memilih untuk bersekutu dengan pemilik agribisnis, para bankir besar, dan IMF, yang mana mereka ini telah ditetapkan sebagai musuh pokok dari kaum buruh, petani, dan rakyat miskin Brazil.

Demikian pula dengan Marina Silva (PV), seorang wanita kulit hitam dan aktivis lingkungan yang baru belajar membaca pada usia 16 tahun. Marina adalah produk perjuangan militan PT pada tahun 1980-an, bersama dengan Chico Mendez, namun memilih mengundurkan diri sebagai Menteri Lingkungan Hidup pemerintahan Lula karena menganggap pemerintahan ini adalah perusak lingkungan.

Marina Silva, yang juga dipuji-puji majalah kanan “The Economist” karena dianggap sangat berbakti pada lingkungan, telah berencana mengangkat perdebatan soal lingkungan dalam pemilu presiden mendatang (1), yang targetnya tentu saja adalah menghajar kandidat Partai Buruh (PT)—partai pemerintah.

Tidak ada jalan revolusi di dunia yang bebas hambatan, tidak terkecuali perjuangan Lula dan dan Partai Buruh (PT). Agar tidak sekedar menghakimi Lula dan hasil pekerjaannya, kita harus sangat jelas dalam memahami apa saja yang tak bisa ia lakukan, bukan karena tak adanya kehendak dan kemampuan tapi karena batasan-batasan obyektif. Untuk itu, kita mesti mengambil titik tolak analisa yang tepat terhadap korelasi kekuatan yang mengurung mereka – secara internal maupun internasional.

Meskipun Lula berhasil memenangkan dukungan dalam pemilu 2002 dengan perolehan suara yang cukup besar, bahkan lebih besar dari perolehan Chavez pada tahun 1998, kita tidak boleh melupakan bahwa kemenangan Lula merupakan produk dari kebijakan aliansi yang lebar, yang dibutuhkan untuk memenangkan kotak suara, yang tanpa itu Lula tidak akan pernah bisa memerintah negeri ini. Kita harus mengingat bahwa Partai Buruh, partainya Lula da Silva, adalah minoritas di parlemen, bahkan kalaupun PT pernah mengontrol sejumlah walikota, keberadaannya tetap minoritas di panggung politik nasional.

Selain itu, seperti dicatat Marta Harnecker, Brazil merupakan salah satu negara Amerika Latin yang paling bergantung pada kapital internasional, sangat berbeda dengan Venezula yang punya pendapatan cukup besar dari minyak. Lebih jauh lagi, Lula tidak menikmati dukungan massif dari angkatan bersenjata, seperti yang dinikmati oleh Chavez dan revolusi Bolivarian. Pendek kata, seperti dikatakan Valter Pomar, Kepala departemen hubungan internasional PT, bahwa “tidak ada korelasi kekuatan, mekanisme institusional dan situasi ekonomi” yang memungkinkan pemerintahan Brasil “untuk beroperasi dengan cara yang menyerupai pemerintahan Venezuela.”

Prestasi ekononomi Lula sebetulnya tidak terlalu buruk. Sebagaimana dicatat oleh seorang koresponden Der Spiegel, Jens Glüsing, “hari ini Brazil (B) telah menjadi bintang bagi bangsa yang disebut BRIC. Brasil saat ini tumbuh lebih cepat dari Rusia dan, tidak seperti India, tidak menderita dari konflik etnis atau sengketa perbatasan. Negara dari 192 juta orang memiliki pasar domestik yang stabil, dengan ekspor – mobil dan pesawat, kedelai dan bijih besi, pulp, gula, kopi dan daging sapi – membuat hanya 13 persen dari PDB.” (2)

Meskipun tidak mengalami benturan apapun dengan AS, namun tidak diragukan lagi bahwa Washington (baik Busuh maupun Obama) sangat terganggu dengan sikap berdaulatan dan kemandirian Lula yang dilakukan Lula saat berhubungan dengan Kuba, mengutuk kudeta militer di Honduras, mendukung perjuangan rakyat Palestina, dan sikapnya soal “nuklir” Iran. Brazil, bersama dengan Argentina dan Kolombia, pernah mendirikan “Friend of Bolivia” untuk membantu negerinya Evo Morales tersebut.

Dan, ada hal yang tidak dapat dibantah, sebagaimana hasil jajak pendapat dikutip oleh wartawan Granma, Nidia Díaz, bahwa popularitas Lula di akhir pemerintahannya telah mencapai 86% (3), sesuatu yang seharusnya menguntungkan Dilma Rousseff, yang dinyatakan sebagai pelanjut Lula.

Lantas, apa makna persaingan tiga perempuan di barisan kiri ini? Apakah itu akan menjamin kelangsungan ide dan politik kiri di Brasil dan Amerika latin pada umumnya?

Barisan kiri tidak boleh meremehkan keberadaan José Serra, kandidat presiden sayap kanan dari Partai Sosial Demokratik Brazil (PDSB), yang sementara ini sedang memimpin jajak pendapat dengan 40 persen (2). Artinya, jika suara di barisan kiri tetap dibiarkan terpecah atau bersaing, maka tidak menutup kemungkinan hal itu akan membuka jalan bagi kandidat sayap kanan untuk menginterupsi proyek kiri di Brazil.

Bagaimana bisa menjangkau sosialisme tanpa penaklukan kekuasaan negara. Sangat mustahil berbicara sosialisme, jika akhirnya kekuasaan politik di Brazil diserahkan kepada kandidat sayap kanan. Atau, pendek kata, kekalahan PT—sebagai kekuatan politik kiri terbesar di Brazil saat ini—adalah penurunan politik sangat tajam bagi kekuatan-kekuatan kiri manapun di Brazil, sekaligus akan mengubah imbangan kekuatan akan kembali bergeser atau menguntungkan politik kanan.

Bahkan, karena brazil memainkan peran politik yang cukup dominan di Amerika Selatan, kekalahan kiri di negara ini akan berdampak jauh hingga mengganggu korelasi kekuatan kiri di kawasan ini, dan tentu sangat berdampak pada negara yang sedang menjalankan proyek sosialis terdepan, seperti Bolivia dan Venezuela.

Karena, seperti dikatakan Valter Pomar, meskipun Lula dan pemerintahannya tidak menjalankan langkah seradikal Chavez dan Evo Morales, namun keberadaannya sanggup untuk menjadi tanggul untuk melindungi barisan untuk sosialisme terdepan, dalam hal ini Kuba, Venezuela, dan Bolivia.

Valter Pomar mengatakan, “lingkungan progresif dan kiri berkontribusi pada pemilihan dan pemilihan-ulang, membantu menghindari kudeta (contohnya terhadap Chavez dan Evo Morales) dan berperan fundamental dalam mengutuk invasi Ekuador oleh pasukan Kolombia. Selain itu mereka juga menetralisir atau setidaknya meminimalisir kebijakan blokade ekonomi, yang memainkan peran penting dalam strategi sayap kanan melawan pemerintahan Allende di Cili dan kini masih mempengaruhi Kuba.”

Menutup artikel ini, apa yang perlu direkomendasikan ialah, bahwa tiga perempuan ini harus menghentikan persaingan dan mencari ruang untuk kerjasama strategis yang bersifat; memberi jalan bagi proyek kiri. Perbedaan pendapat mengenai perjuangan menuju sosialisme, dari berbagai tendensi, sebaiknya diselesaikan dalam “kamar” kaum kiri sendiri, tidak perlu diselenggarakan di luar. “Kalau kita bersatu tidak ada yang akan rugi, kecuali musuh kita; sayap kanan.”

Catatan:

1. Silahkan lihat di sini http://www.economist.com/node/15959322?story_id=15959322

2. Jens Glüsing, Father of the Poor’ Has Triggered Economic Miracle, Der Spiegel.

2. Nidia Díaz, Continuity or rupture?, Granma.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • mahmudah kalla

    bersatulah kaum kiri..jangan hanya ingin mementingakan kelompok sendiri ,,hingga lupa kita akan tergeser sendiri oleh kepentingan yang tidak berpihak pada kaum petani ,,, bersatulah untuk menggalang kekuatan di dalam internal barisan kiri,,,,jangan berikan kekuatan kanan masuk untuk menguasai apa yang telah jadi impian kita untuk merebut kebebasan dari kaum kapitalis dan imprialis….maju terusss melawan untuk berjuang,,,demi kepentingan kaum tertindas…