Pemerintah Dianggap Tidak Mendengar Suara Rakyat

Rencana pemerintahan SBY menaikkan harga BBM dianggap mengabaikan suara rakyat banyak. Padahal, kebijakan itu mendapat protes dan perlawanan rakyat di berbagai tempat.

“Seharusnya pemerintah mendengar suara rakyat. Tidak bisa terus-menerus menutup mata dan telinga,” kata Zakirman, aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Pekanbaru, Selasa (13/3/2012).

Menutu Zakirman, kenaikan harga BBM sangat berdampak pada kehidupan rakyat. Terutama sekali kenaikan harga kebutuhan pokok dan kenaikan tariff transportasi.

Untuk tariff transportasi, kata Zakirman yang mengutip data Organda, kenaikan tariff bisa berkisar 30-35%. GMNI juga memperkirakan kenaikan harga barang akan berada di kisaran 35%.

Karena itu, bagi GMNI, pemerintah tidak punya alasan untuk mengabaikan protes atau suara rakyat.

Seterusnya, GMNI juga berharap agar pemerintah punya keberanian untuk merebut kembali ladang-ladang migas yang sudah dikuasai asing. GMNI juga menuntut agar UU nomor 22 tahun 2001 tentang migas segera direvisi.

AHMAD MUSAKIR

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut