Pemberontakan Anti-fasis di Hari Valentine

Maaf, tulisan ini bukan tentang sejarah Valentine. Tidak juga untuk menjawab apakah Valentine itu halal atau haram. Tetapi untuk mengenang perjuangan gagah berani pemuda-pemuda Indonesia di Blitar. Sejarah mencatatnya sederhana: pemberontakan PETA di Blitar.

Blitar, 14 Februari 1945, pukul 03.00, dentuman mortir memecah kesunyian malam. Menyusul kemudian lontaran granat dan tembakan senapan membabi-buta. Pasukan Jepang di Kota Blitar tumpas malam itu.

Dentuman meriam itu adalah penanda dimulainya sebuah gerakan pemberontakan. Malam itu, pemuda gagah berani anggota Pembela Tanah Air (PETA), yang sebagian masih berusia belasan tahun, menyerbu markas dan fasilitas militer milik Jepang di Blitar.

Sejarah mencatat peristiwa itu dengan sebutan: Pemberontakan PETA di Blitar. Dalam buku sejarah disebutkan, pemberontakan itu dipimpin oleh sudanco Soeprijadi. Tetapi sebetulnya gerakan ini dipimpin tiga orang: sudanco (komandan peleton) Soeprijadi, sudanco Moeradi, dan sudanco Soeparjono.

Pemberontakan itu menemui kegagalan. Soeprijadi tidak diketahui nasibnya pasca pemberontakan itu. 6 perwira muda dijatuhi hukum mati dengan dipenggal. Dan 4 perwira muda lainnya meninggal di penjara karena penyiksaan tak kenal jeda. Tidak terhitung jumlah yang gugur di medan pertempuran dan dieksekusi Jepang.

Jalan menuju pemberontakan

Tahun 1942, tentara fasis Jepang mendarat di Indonesia. Tentara kolonial Belanda tak sanggup menghalau serbuan tiba-tiba Jepang itu. Akhirnya, pada 9 Maret 1942, Belanda resmi menyerah kepada Jepang.

Kekalahan itu sudah diprediksi gerakan revolusioner Indonesia. Bagi gerakan revolusioner Indonesia, hanya persatuan rakyat Indonesia lah yang bisa menghalau fasisme Jepang. Tetapi hal itu akan sulit bila rakyat tidak dipersenjatai.

Awalnya, melalui Manifesto GAPI, kaum revolusioner menuntut pemerintah Belanda agar rakyat Indonesia dipersenjatai untuk melawan fasisme. Tetapi Belanda menolak proposal itu. Lalu, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, ide mempersenjatai rakyat itu kembali muncul. Dalihnya: supaya rakyat Indonesia terlibat dalam mempertahankan tanah-airnya.

Ide itu disambut pemerintah Jepang. Tahun 1943, Jepang merestui pembentukan tentara Pembela Tanah Air (PETA). Kawan seperjuangan Bung Karno di PNI, Gatot Mangkupraja, ditunjuk memimpin organisasi militer ini.

Sementara itu, perlawanan anti fasis yang disulut kaum revolusioner Indonesia, khsususnya Gerakan Rakyat Anti-Fasis (Geraf), mulai berkecamuk di berbagai daerah. Di Bandung, grup anti-fasis bernama “Djojobojo” aktif mensabotase jalur kereta api Jepang.

Pada 23 Oktober 1943, kaum tani dan rakyat Indramayu, Jawa Barat, memulai pemberontakannya. Pimpinannya bernama Subekti. Setahun kemudian, giliran rakyat di Singaparna yang memberontak. Pimpinan perlawanannya bernama Kiai Mustofa. Di Sumatera, tepatnya di Deli Serdang, pada Juli 1942, kaum tani melakukan pemberontakan bernama “pemberontakan Aron”.

Pemberontakan-pemberontakan itu, sekalipun berhasil ditumpas fasisme Jepang, berhasil meradikalisasi rakyat Indonesia. Termasuk di kalangan tentara PETA. Menurut Sidik Kertapati dalam bukunya “Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945”, di tubuh PETA muncul grup revolusioner: Sapu Mas (SM). Menurut Sidik Kertapati, pada awalnya SM ini dibentuk mahasiswa di Jatinegara, 2 Juni 1940. Seiring dengan masuknya anggota SM ke PETA, seperti Umar Bahsan, mereka kemudian membuat konsolidasi-konsolidasi. Pusat gerakannya di Rengasdengklok, Karawang.

Dengan melihat ‘tujuan-tujuan revolusioner’ di balik pembentukan PETA itu, juga masuknya kaum revolusioner di dalamnya, maka bisa dipastikan bekerjanya sel-sel anti-fasis di tubuh PETA. Termasuk kesatuan PETA di Blitar, Jawa Timur.

Jalannya pemberontakan

Gerakan revolusioner di tubuh PETA di Blitar dikomadoi tiga orang: sudanco Soeprijadi, sudanco Moeradi, dan sudanco Soeparjono. Tetapi tidak banyak ulasan tentang sepak-terjang Supriadi dan kawan-kawan sebelum memutuskan pemberontakan.

Jejaknya hanya bisa dibaca sekilas di catatan Sidik Kertapati, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Bung Karno di otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, hanya menyinggung sekilas pemberontakan itu.

Sidik menceritakan, malam sebelum pemberontakan, tiga sudanco itu berkumpul di Kesatrian Daidan Blitar. Mereka mendiskusikan persiapan pemberontakan. Pendiskusian itu berlangsung singkat. Tidak ada perdebatan panjang.

Bagi Soeprijadi, pemberontakan rakyat mutlak harus dimulai. Dia pun memberi alasan masuk akal, “penderitaan rakyat sudah dipuncak dan sudah tidak tertahankan lagi.” Artinya, kalau basis radikalisasi itu adalah kesengsaraan rakyat, maka pemberontakan sudah menemukan basis materialnya.

Mereka yakin, jika PETA blitar sudah menyulut api pemberontakan, maka PETA di daerah lain akan menyusul. Dengan begitu, pemberontakan PETA yang meluas akan memicu kebangkitan rakyat.

Persiapan pemberontakan tidak panjang. Malam itu juga pasukan pemberontak bergerak. Gudang senjata dan mesiu dibongkar. Isinya dibagi-bagikan ke pasukan pemberontak.

Dan, pada pukul 03.00 waktu setempat, ketika rakyat Blitar masih tertidur nyenyak, mortir penanda dimulainya pemberontakan pun menyalak. Serangan militer pun dimulai. Mereka menyerbu markas polisi Jepang, pusat telekomunikasi, dan gudang-gudang persenjataan.

Sidik Kertapati menceritakan, hampir semua orang Jepang, baik tentara maupun bukan, ditumpas. Lalu, seusai melancarkan serangan, pasukan pemberontak berpencar dalam tiga kelompok: ke timur, ke barat dan ke utara.

Pasukan yang bergerak ke timur dipimpin oleh Soeprijadi. Mereka menjadikan Kali putih dan kali Menjangan sebagai pusat pertahanan. Jepang menggempur mereka dengan tank, meriam, dan pesawat tempur.

Palagan lainnya adalah Panataran. Pasukan PETA yang bergerak ke barat di bawah pimpinan sudanco Soeparjono dan pasukan PETA yang bergerak ke utara di bawah pimpinan syudanco Moeradi bertemu di tempat ini.

Di sini, seperti diceritakan Sidik Kertapati, Jepang mengirim propagandis ulungnya, Shimitsu, untuk membujuk pasukan PETA agar mau menyerah dan kembali ke pangkuan Jepang. Dalam proses negosiasi, sudanco Moeradi mengajukan 5 syarat. Diantaranya: senjata mereka tidak dilucuti, mereka tidak dikenai hukuman, anggota PETA harus diperlakukan baik oleh pelatih Jepang, dan tidak ada perlakuan sewenang-wenang.

Jepang berjanji memenuhi tuntutan. Sudanco Muradi dan pasukannya keluar dari persembunyian dan menyerahkan diri. Namun, ya… namanya juga fasis, sudanco Moeradi dan kawan-kawannya tetap diadili. Proses pengadilan itu berlangsung tanggal 14-16 April di Jakarta.

Putusan pengadilan Jepang menjatuhkan hukuma mati dengan dipenggal kepalanya kepada: Sudanco Moeradi, Sudanco Soeparjono, Cudanco (komandan kompi) Dr Ismail, Budanco (komandan regu) Soenanto, Budanco Soedarmo, dan Budanco Halir. Empat perwira PETA lainnya, yaitu sudanco Soemardi, sudanco Soenarjo, Bundanco Atmadja, dan Bundanco Soekaeni, meninggal dalam penjara karena berbagai bentuk penyiksaan.

Soeprijadi sendiri tidak diketahui nasibnya selepas pemberontakan itu. Berbagai spekulasi pun bermunculan. Ada yang bilang Soepriyadi sudah dieksekusi Jepang. Sebagian bilang Soepriyadi berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Bahkan ada yang membumbui dengan mitos: Soepriyadi moksa di gunung Kelud atau gunung Kawi. Mana yang benar, entahlah.

Yang jelas, selepas Indonesia Merdeka, pemerintah RI mengangkat Soeprijadi sebagai Menteri Keamanan. Tetapi dia tidak pernah muncul dan menerima mandat itu.

Peran Bung Karno

Satu hal menarik terkait pemberontakan PETA di Blitar ini adalah soal peranan Bung Karno. Jarang sekali dokumen sejarah menulis keterlibatan Bung Karno dalam peristiwa tersebut.

Dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno mengangkut “terseret” dalam pemberontakan itu, meskipun tidak langsung. Ia mengaku sudah mengetahui pemberontakan itu sebelumnya. “Ingatlah bahwa rumahku di Blitar. Orang tuaku tinggal di Blitar,” kata Bung Karno.

Pada suatu hari, tutur Bung Karno, ia mengunjungi orang tuanya di Blitar. Saat itu sejumlah perwira PETA mendatanginya. Salah satu diantaranya adalah pimpinan pemberontakan: sudanco Soeprijadi. Perwira PETA menceritakan rencana mereka melakukan pemberontakan.

“Kami baru mulai merencanakannya, tetapi kami ingin tahu pendapat Bung Karno sendiri,” ujar Soeprijadi kepada Bung Karno.

Bung Karno dengan berat menjawab, “ pertimbangkanlah masak-masak untung ruginya. Saya minta saudara-saudara memikirkan tindakan yang demikian itu tidak hanya dari satu segi saja.”

“Kita akan berhasil,” kata Soeprijadi selaku pimpinan pemberontakan menjamin keberhasilan gerakannya.

Bung Karno kembali mengajukan pendapatnya. “Saudara terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu pada waktu sekarang.”

Tetapi Supriadi tetap kukuh pada keyakinannya. “Kita akan berhasil,” tegasnya.

Bung Karno sadar, tidak seorang pun bisa menghentikan keinginan anak-anak muda ini. Tekad mereka sudah bulat: berontak. Bung Karno hanya berpesan, “ kalau sekiranya saudara-saudara gagal dalam usaha ini, hendaknya sudah siap memikul akibatnya. Jepang akan menembak saudara-saudara semua.”

Perwira-perwira PETA itu sempat menanyakan kesanggupan Bung Karno untuk membela mereka kelak ketika pemberontakan gagal. Bung Karno tidak menyanggupi. “Saudara anggota tentara, bukan orang preman (bebas). Dalam hukum militer, hukumanmu otomatis,” kata Bung Karno memberi alasan.

Selain itu, menurut Bung Karno, ia tidak mau kegagalan pemberontakan PETA di Blitar akan berdampak pada kelangsungan hidup PETA secara keseluruhan. Artinya, dukungan terbuka Bung Karno terhadap pemberontakan bisa mengakhiri skenario terselubung untuk menjadikan PETA sebagai alat revolusi di masa datang.

“PETA adalah alat yang vital bagi revolusi kita yang akan datang. Kalau sekiranya saudara semua tertangkap, maka kewajiban sayalah untuk berusaha dengan segala daya menyelematkan pasukan PETA yang selebihnya,” kata Bung Karno.

Meski demikian, Bung Karno menyokong pemberontakan secara terselubung. “Saya akan membantu dengan pembuatan rencana. Akan tetapi harus hati-hati untuk menutup jejakku,” ujar Bung Karno.

Dan pemberontakan itu benar-benar meletus. Ketika Jepang menjatuhi hukuman mati kepada pemuda-pemuda gagah berani itu, Bung Karno hanya menahan kepedihan sembari menuliskannya di atas berlembar-lembar kertas.

Halilintar Dalam Kegelapan

Mungkin ada yang mencibir pemberontakan PETA di Blitar itu sebagai tindakan aksi “petualangisme” anak-muda tanggung. Mungkin ada juga yang menganggap pengorbanan pemuda-pemuda itu sebagai “kematian yang sia-sia”.

Pemberontakan ini memang kurang dipersiapkan secara matang. Akibatnya, pemberontakan berjalan kurang terorganisir. Selain itu, sasaran dan target pemberontakan juga kurang jelas.

Tetapi, bagi saya, tidak ada kematian yang sia-sia dalam setiap perjuangan. Pengorbanan pemuda-pemuda itu telah membangunkan semangat berani bagi pemuda-pemuda lainnya. Dan seperti terekam dalam sejarah, banyak anggota PETA yang kemudian ambil bagian di masa-masa awal Revolusi Agustus 1945.

Bung Karno sendiri menaruh hormat terhadap pemuda-pemuda gagah berani dalam pemberontakan di Blitar itu. Ia menganggap pemberontakan PETA di Blitar sebagai “serangan tunggal yang paling besar dalam perlawanan anti-fasisme Jepang.”

Sidik Kertapati, pemuda yang ambil bagian dalam menyiapkan Proklamasi 17 Agustus 1945, menyebut pemberontakan Blitar sebagai “halilintar dalam kegelapan malam, yang dengan kilatnya menunjukkan kekuatan-kekuatan besar yang bersemayam di dada rakyat Indonesia.”

Karena itu, di tengah kekhusyukan merayakan Valentine, mari berkhidmat dan mengheningkan cipta sejenak untuk pemuda-pemuda yang gugur dalam Pemberontakan di Blitar.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Ilham Febriansyah

    izin share ig min