Pembangunan Kekuatan Militer Venezuela

Setiap tentara Venezuela haruslah anti-imperialis. Kalau ada tentara yang tidak anti-imperialis, maka dia bukan tentara Venezuela. Begitulah Presiden Venezuela, Hugo Chavez, mendefenisikan jiwa baru angkatan bersenjatanya.

Sebagai negara yang sedang menjalani sebuah revolusi, Venezuela tidak pernah luput dari segala macam gangguan, baik internal maupun eksternal. “Semua proses revolusioner di Amerika Latin, termasuk di Venezuela, berada di bawah ancaman permanen imperialisme AS,” kata Chavez.

Chavez sendiri sudah pernah merasai hal itu. Pada tahun 2002, sayap kanan Venezuela, yang disokong oleh segelintir perwira militer dan imperialisme AS, melancarkan kudeta. Chavez pun disandera selama tiga hari, dan kekuasannya diambil-alih oleh seorang pengusaha bernama Pedro Carmona.

Namun, berkat gerakan rakyat dan dukungan militer, kudeta itu berhasil dipatahkan hanya dalam hitungan 48 jam. Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB) telah menjadi bagian penting dalam penggagalan kudeta itu.

Masih di tahun yang sama, oposisi Venezuela coba melakukan destabilisasi dengan menggelar aksi “lockout” perusahaan minyak. Minyak memang selalu menjadi target oposisi kanan Venezuela dan negeri-negeri imperialis. Maklum, minyak merupakan jantung perekonomian Venezuela.

Agustus 2012 lalu, 43 hari menjelang pemilu Presiden, sebuah kilang minyak Venezuela di Amuay meledak. Ledakan itu menewaskan 41 orang dan melukai 80-an orang lainnya. Modeira Rubia, seorang jurnalis Venezuela, melihat ledakan pertama kilang itu menyerupai aksi sabotase.

Percy Francisco Alvarado Godoy, seorang pensiunan agen rahasia Kuba, melihat kejadian peledakan kilang minyak Amuay itu dijalankan oleh kelompok spesialis klandestein, yang dilatih dan diarahkan oleh CIA dan Mossad (Israel).

Chaves geram dengan berbagai aksi itu. Melalui akun Twitternya, @chavezcandanga, Chavez menulis: “kami memperingatkan oposisi: revolusi kami adalah damai, namun tak berarti tidak bersenjata. Rakyat tahu kami berjuang untuk masa depan kemanusiaan. Ini adalah revolusinya kaum miskin yang ingin memperbaiki masa depannya.”

Peran progressif militer Venezuela

Dalam dua dekade terakhir, militer Venezuela senantiasa memainkan peranan progressif. Begitu Chavez, bekas seorang komandan militer, memenangkan pemilu Presiden pada tahun 1998, banyak sektor kiri yang mengacuhkan bahkan menolaknya.

Sebagian kiri selalu beranggapan, militer di manapun sama saja: mereka bagian integral dari mesin kekerasan negara borjuis. Mereka lebih dekat dengan ideologi borjuis. Karena itu, militer tidak akan bisa memainkan peranan revolusioner di dalam masyarakat kapitalis.

Tetapi militer Venezuela menciptakan apa yang disebut Martha Harnecker, seorang intelektual Amerika Latin, sebagai “anomali”. Militer Venezuela telah memainkan peranan penting dalam revolusi Bolivarian. Mereka berkontribusi dalam menyelamatkan demokrasi saat penyingkiran Chavez.

Marta Harnecker mencatat 6 faktor  yang membuat militer Venezuela berbeda dengan militer pada umumnya. Pertama, militer Venezuela sangat dipengaruhi oleh filosofi Simon Bolivar, sosok paling menonjol dalam pemerdekaan Venezuela dan Amerika Latin dari penjajah Spanyol. Dia percaya bahwa demokrasi harus dipahami sebagai sistem politik untuk memberi rakyat kebahagiaan tertinggi. Menurut dia, tidak seorang pun tentara diperkenankan menggunakan senjatanya terhadap rakyat.

Kedua, sejak generasi Hugo Chavez, sebagian besar perwira militer tidak dilatih di sekolah terkemuka di AS. Sejak 1971, akademi militer Venezuela mengalami transformasi. Di sana, para tarunan belajar tentang ilmu politik, demokrasi, dan realitas Venezuela. Dalam hal strategi militer, mereka belajar dari Clausewitz hingga Mao Zedong.

Ketiga, generasi perwira militer Venezuela tidak pernah berhadapan dengan kekuatan gerilya sebagaimana lazimnya di negara Amerika latin. Ketika tentara itu melakukan patroli perbatasan, apa yang mereka temukan bukanlah gerilyawan tetapi kemiskinan.

Keempat, tidak ada diskriminasi dalam militer Venezuela; siapapun—kaya dan miskin—bisa menempati posisi tertinggi. Sebagian besar perwira tingginya adalah anak kelas pekerja, anak kaum miskin perkotaan, dan anak petani.

Kelima, perwira generasi Chavez terkena efek dari pemberontakan rakyat menentang neoliberalisme pada tahun 1989. Pemicu langsung pemberontakan itu adalah kenaikan biaya transfortasi akibat kenaikan harga BBM. Pemberontakan yang dikenang sebagai “Caracazo” itu sangat penting dalam pembentukan kesadaran politik perwira rendah.

Keenam, jauh sebelum “Caracazo”, kesenjangan dan ketidaksetaraan akibat penerapan neoliberal di Venezuela telah menciptakan arus di dalam militer yang menentang status-quo. Mereka membentuk gerakan illegal bernama Movimiento Bolivariano Revolucionario (MBR)- 200.

Pembangunan Militer Venezuela

Sejak berkuasa, Chavez telah berusaha mengubah doktrin politik angkatan bersenjata Venezuela (FANB). Pada peringatan 20 tahun pemberontakan militer 1992, Chavez berpesan, “Angkatan Bersenjata Venezuela tidak lagi seperti para jenderal dulu memerintahkan pembantaian rakyatnya.”

Chavez menegaskan, militer Venezuela tak boleh lagi menjadi alat oligarki dan imperialisme. “Sekarang saatnya militer menjadi bagian dari revolusi rakyat,” tegasnya.

Tak hanya itu, mengingat bahwa mempertahankan revolusi bukan hanya tugas tentara, Chavez telah membentuk milisi rakyat. Ia pun langsung berseru, “milisi adalah rakyat dan rakyat adalah milisi. Rakyat bersenjata dan angkatan bersenjata adalah satu.”

Sebagian besar milisi rakyat ini adalah pekerja, petani, mahasiswa, dan rakyat pada umumnya. Tanggal 14 April—bertepatan dengan peringatan hari kemenangan atas kudeta—diperingati sebagai “Hari Milisi Bolivarian”.

Sebagian besar milisi rakyat ini menenteng senjata buatan Rusia, AK-47 dan AKA 103 Kalashnikov. Chavez selalu menenkan, Milisi rakyat dan FANB merupakan satu kekuatan yang tak terpisahkan.

Untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit FANB, Chavez meluncurkan “misi soldadero”, yang memberi kenaikan gaji dan perbaikan rumah bagi setiap prajurit Venezuela. Sedikitnya 30 ribu rumah baru di bangun di Forte Tiuna (Caracas) untuk menampung 150 ribu prajurit.

Venezuela juga terus mengembangkan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista)-nya. Dalam satu dekade terakhir, Venezuela banyak membeli peralatan dan persenjataan dari Tiongkok, seperti tank anfibi, kapal perang, helikopter dan sistem telekomunikasi.

Pada tahun 2011, Venezuela membeli 8 pesawat Y-8 Tiongkok. Pesawat ini punya empat mesin, bisa mengangkut 88 orang dan 20 ton kargo, dan terbang selama 7,5 jam tanpa berhenti. Venezuela juga membeli banyak kapal perang dari Tiongkok.

Selain ke Tiongkok, Venezuela juga banyak membeli senjata dan peralatan militer ke Rusia. Dua batalyon Tank T-72 Rusia segera memperkuat kekuatan militer Venezuela di akhir tahun ini. Tak hanya itu, Venezuela juga mendatangkan tenaga ahli Rusia untuk membantu perawatan pesawat tempur Sukhoi SU-30MK2 dan helikopter jenis MI-17, MI-26 dan MI-35.

Semua upaya pengembangan militer ini, kata Chavez, semata-mata untuk menjaga kelanjutan proses revolusi di Venezuela. Pengembangan militer Venezuela bukanlah untuk tujuan invasi ke negara lain, melainkan untuk mempertahankan diri.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut