Pembakaran Pemukiman Warnai Penggusuran Di Mesuji

LAMPUNG (BO)– Isak tangis tak terbendung lagi tatkala ribuan pasukan gabungan membakar pemukiman rakyat di atas tanah register 45, di wilayah Pekat Raya, Suay Umpu, Kabupaten Mesuji Propinsi Lampung, pekan lalu (8/9).

Bangunan milik petani, umumnya berupa gubuk-gubuk sederhana, segera ludes terbakar semprotan api. Sejak pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, ribuan pasukan keamanan ini sudah bergerak mengepung rakyat tak bersenjata ini dari tiga penjuru.

Karena tak kuasa melawan, para petani dan keluarganya pun hanya bisa menangis histeris. Buldozer dan Eskavator pun meratakan apa saja yang berada dan berdiri di atas register 45 tersebut.

Konflik tanah di Register 45 sudah berlangsung bertahun-tahun. Kawasan seluas sekitar 40 ribu hektare itu diklaim oleh PT Silva Inhutani Lampung melalui hak pengusahaan hutan tanaman industri (HPHTI).

Areal tersebut dihuni sekitar 800-an keluarga atau sekitar 3.500 jiwa dan tersebar di lima kampung, yakni Sinarasahan, Morodewe, Moroseneng, Morodadi, dan Sukamakmur.

Kondisi Korban Gusuran Memprihatinkan

Kondisi korban gusuran saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan koresponden Berdikari Online, sebagian besar pengungsi hidup dalam kondisi memprihatinkan dan kekurangan bahan makanan.

Menurut Praja Wiguna, Koordinator Aliansi gerakan Reforma Agraria (AGRA)—organisasi yang mengadvokasi para petani, pihak pemerintah setempat kurang memperhatikan kondisi para pengungsi.

Akibatnya, kata Praja Wiguna, sebagian besar pengungsi kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Padahal, orang tua lanjut usia (manula), ibu hamil, anak-anak, dan balita cukup banyak yang tinggal di pengunsian.

Sementara itu, menurut Tulus KA, salah seorang relawan Partai Rakyat Demokratik (PRD) di wilayah tersebut, bantuan dari Dinas Sosial Provinsi Lampung baru mulai masuk 5 hari pasca penggusuran dan terbatas hanya di daerah pengungsian di Desa Moro-moro dan hingga saat ini pengungsi mengandalkan bantuan warga sekitar.

Karena itu, beberapa pengungsi mengambil inisiatif untuk meminta bantuan kepada setiap orang yang lewat di jalan raya.

Sementara tim advokasi dari PPMWS (Persatuan Petani Moro-moro Way Serdang) sudah berangkat ke Jakarta dan berencana melaporkan kejadian ini kepada wakil rakyat di Komisi III DPR-RI dan anggota DPD RI.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut