Pelantikan Jokowi-Basuki Jadi Pesta Rakyat

Sangat jarang acara pelantikan pejabat dikerumuni oleh massa rakyat. Ketika elit makin terpisah dengan massa, sangat jarang massa-rakyat rela mengorbankan waktu dan berpanas-panasi ria demi pesta sang pejabat.

Pelantikan Jokowi-Basuki menjadi fenomena baru. “Iya, baru kali ini ada pelantikan Gubernur ditonton banyak orang. Mungkin mereka berharap Pak Jokowi bisa mewujudkan impan mereka memperbaiki Jakarta,” kata Didin, seorang pedagang es keliling di jalan Kebon Sirih, Jakarta, Senin (15/10/2012).

Pelantikan Jokowi-Basuki ini benar-benar dinantikan. Sukatno, 65 tahun, mengaku datang ke acara pelantikan sejak pagi hari. “Saya datang dengan anak saya. Kami mau menunjukkan dukungan ke Pak Jokowi. Semoga beliau selalu ingat dan melaksanakan janji-janji kampanyenya,” kata pria paruh baya asal Jakarta Barat ini.

Pendukung Jokowi-Basuki ini tak hanya dari Jakarta. Ada pula yang datang dari berbagai kota lain di Indonesia, seperti Solo (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur), Malang (Jawa Timur), dan Manado (Sulawesi Utara). Jumlah mereka mencapai puluhan ribu orang.

Sektor mereka pun sangat beragam. Ada kaum pekerja, mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga, pemuda, pengurus partai politik, aktivis LSM, dan lain-lain. Mereka berbaur dalam “Pesta Rakyat” untuk menyokong pelantikan Jokowi-Basuki.

Ada juga ribuan massa dari Koalisi Rakyat Untuk Jakarta Yang Berkeadilan Sosial. Ini meliputi sejumlah organisasi pergerakan, seperti Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu (FKTMB), Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jakarta Raya, Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Relawan Penggerak Jakarta Baru (RPJB), dan ICACI.

Uniknya, massa Koalisi Rakyat untuk Jakarta Berkeadilan Sosial ini menggelar aksi dukungannya berbentuk parade kebudayaan. Mereka mengenakan pakaian adat sejumlah daerah di Indonesia. Ada pula miniature rumah-rumah ibadah berbagai agama di Indonesia. Tak ketinggalan, barisan delman dengan dandanan khas Betawi.

Ketua SRMI DKI Jakarta, Aji Setiono, menjelaskan, parade kebudayaaan ini hendak menunjukkan bahwa dukungan terhadap Jokowi-Basuki berasal dari berbagai sektor sosial masyarakat DKI Jakarta.

“Inilah gambaran Ibukota Jakarta. Ia merupakan kota yang sangat plural dan menjadi simbol dari Ke-Indonesiaan. Karena itu, membangun Jakarta bisa menjadi awal untuk membangun Indonesia,” katanya.

Aji sangat berharap, Pemerintahan Jokowi-Basuki benar-benar menggunakan kekuasaannya untuk melayani rakyat. Ia juga berharap Jokowi-Basuki bergegas mengatasi beberapa persoalan mendesak rakyat, seperti lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, administrasi kependudukan, layanan air bersih, dan lain-lain.

Sembari menunggu usainya pelantikan Jokowi-Basuki, massa terlihat bergoyang dengan ditemani lagu-lagu dangdut. Lagu “Iwak Peyek” begitu setia menemani puluhan ibu-ibu dan bapak-bapak bergoyang. “Inilah hiburan Rakyat,” kata mereka.

Menjelang matahari tegak di atas kepala, dengan teriknya yang segera menguras keringat, Jokowi-Basuki tampil di atas mimbar. Keduanya segera menyapa massa-rakyat yang sudah berkumpul sejak pagi itu.

Jokowi pun menyampaikan pesan singkat. Ia meminta warga Jakarta tetap mengawasi kinerjanya nanti. “Saya tidak ingin berjanji banyak. Saya hanya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada saat ini,” kata Jokowi di atas mimbar.

Ia juga berjanji akan rajin mengunjungi rakyat dari kampung ke kampung. Usai menyampaikan pidato singkat, Jokowi berjalalan mengelilingi mimbar sempit itu sembari melambaikan tangan untuk massa pendukungnya.

Sang Wakil Gubernur terpilih, Basuki Tjahaja Purnama, juga menyampaikan pesan singkat. Ia bilang, pemerintahannya akan mengutamakan masalah pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Sebab, katanya, semua itu merupakan hak rakyat.

Massa tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel “Hidup Jokowi-Basuki!”. Lalu, lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh massa rakyat dengan khidmat. Tak lama kemudian, Jokowi-Basuki pun meminta diri meninggalkan mimbar.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut