Pelajar dan Radikalisme

Akhir-akhir ini, rakyat Indonesia disuguhi pemberitaan mengenai maraknya perekrutan pelajar dan mahasiswa untuk menjadi anggota Negara Islam Indonesia (NII). Masyarakat pun dibuat panik dan beberapa orang tua mulai melaporkan kehilangan anaknya.

Adalah sangat menarik, dan tentu tentu saja ini bukan sekedar kebetulan, bahwa sebagian besar yang berhasil direkrut oleh gerakan separatis ini adalah pemuda terlepajar, yaitu mahasiswa dan pelajar SMU. Meskipun ide-idenya sudah dianggap bangkrut, tetapi prakteknya masih berhasil merekrut pengikut setia di kalangan kaum terpelajar.

Mengapa pemuda terpelajar ini bisa terekrut oleh ide bangkrut NII? Ada yang mengatakan bahwa pelajar-pelajar itu terekrut melalui proses cuci-otak. Tetapi, penjelasan “cuci-otak” ini belumlah memadai, tetapi harus dicari penyebab-penyebab yang lebih pokok.

Sebuah survey Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) menyebutkan bahwa hampir 50% pelajar di Indonesia yang mendukung cara-cara radikal dalam menghadapi masalah-masalah moralitas dan konflik keagamaan. Uniknya lagi, menurut Prof Dr Bambang Pranowo, orang yang memimpin survey ini, sebagian besar pelajar yang disurvey dan berpendapat demikian adalah pelajar di sekolah umum (sekuler).

Dalam memberikan penjelasan lebih lanjut, Prof Bambang Pranowo mengungkapkan bahwa penyebab kenapa sebagian besar pelajar bisa berpendapat begitu adalah karena kekecewaan terhadap berbagai persoalan bangsa. “Di tingkat nasional mereka itu selalu melihat bagaimana korupsi yang merajalela, bagaimana ketidakadilan sangat menonjol,” kata guru besar sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.

Sesungguhnya, dengan melihat alasan-alasan yang disampaikan, para pelajar itu masih punya keinginan kuat untuk memperbaiki bangsa ini. Hanya saja, karena yang menyentuh fikiran mereka adalah fundamentalisme, maka bentuk radikalisme mereka pun menjadi reaksioner. Jika yang mengena kepada fikiran-fikiran anak muda itu adalah fikiran-fikiran progressif, semisal anti-kolonialisme dana anti-imperialisme, maka radikalisme mereka bisa menuju pada arah yang tepat; kepentingan bangsa dan negara.

Aspek lain yang perlu dilihat di sini adalah kegagalan pangajaran nilai-nilai kebangsaan di kalangan pelajar dan mahasiswa. Jika pelajar dan mahasiswa itu tidak terjatuh kepada hedonisme dan konsumtifisme, maka mereka akan terjatuh ke dalam pelukan kaum fundamentalis reaksioner. Padahal, sejatinya pendidikan nasional menghasilkan pemuda-pemudi cerdas, berfikiran progressif, dan rela berkorban demi bangsa dan negaranya.

Bukankah sejarah perjuangan bangsa ini telah menuliskan dengan baik bahwa kaum muda pernah punya peranan yang besar. Dulu, ketika revolusi kemerdekaan meletus, para pemuda pelajar dan mahasiswa turut ke garis depan untuk bertempur melawan musuh.

Dengan demikian, apa yang menjadi penting di sini adalah bagaimana mengarahkan kekecewaan sebagaian besar kaum muda itu kepada jalur yang tepat, yaitu anti-kolonialisme, anti-imperialisme, dan semangat rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut