Pekerja Perancis Kembali “Lumpuhkan” Seluruh Negeri

PARIS: Serikat-serikat buruh di Perancis kembali menggelar pemogokan umum 24 jam pada hari Kamis (23/9) untuk menghentikan langkah reformasi sistim pensiun Presiden Nicolas Sarkozy.

Ini merupakan pemogokan kedua untuk bulan ini, dimana serikat-serikat buruh mengklaim bahwa jumlah pemogok telah bertambah menjadi 2,5 juta hingga 2,7 juta orang. Pemogokan dan protes jalanan ini diperkirakan akan berdampak luas terhadap kereta api, penerbangan, transportasi perkotaan, sekolah, dan layanan kantor pos.

Aktivitas kereta api sudah terhenti sejak malam hari, setelah serikat buruh mulai melancarkan pemogokan umum. Separuh penerbangan di bandara Orly di negeri itu akan dibatalkan, demikian pula dengan sekitar 40% penerbangan di Bandar udara terbesar di negara itu,  Charles de Gaulle.

Sedikitnya 45-55% pekerja sektor pendidikan melakukan pemogokan, sementara 50%-80% pekerja di perminyakan juga berpartisipasi dalam pemogokan ini.

Ketua Serikat buruh CFDT, Francois Chereque, mengatakan, “kita tidak perlu meradikalisasi gerakan, cukup menunjukkan bahwa orang-orang telah termobilisasi. Dan, saya merasa bahwa pemerintah sangat serius menyimaknya.”

Sementara Bernard Thibault, ketua Serikat Buruh CGT, serikat buruh yang berafiliasi di bawah Partai Komunis,  menjelaskan bahwa pemogokan ini “menghadirkan peserta baru yang sebelumnya tidak berpartisipasi dalam pemogokan 7 September.”

Melambungkan Oposisi

Sementara pemerintah Sarkozy tidak akan mundur dengan kebijakannya, gerakan oposisi telah memperingatkan berulangnya “gerakan menolak sistim kontrak (CPE) pada tahun 2006”, yang berakhir dengan kekalahan telak pemerintah.

Menurut Sarkozy, jika usia minimum pensiun bisa dinaikkan jadi 62 tahun, maka negara bisa menghemat anggaran hingga 70 miliar euro, dan menambah kualifikasi pembayaran jaminan sosial menjadi 41,5 tahun, dengan hak pensiun penuh menjadi 67 tahun.

“Ini telah memaksa kita memasuki peperangan jangka panjang. Karena perjuangan melawan reformasi pensiun adalah pertempuran untuk keadilan di republik ini,” kata pemimpin Partai Sosialis Martine Aubry .

Situasi pemerintahan Sarkozy yang compang-camping telah membuka “ruang” bagi kekuatan oposisi, termasuk golongan kiri, untuk menawarkan jalan pembangunan sosial yang lebih baik.

Masa depan mobilisasi telah memberikan daya tarik bagi gerakan oposisi di parlemen dan protes jalanan. Situasi ini bisa melahirkan “atmosfer” anti pemerintah yang semakin kuat dan tak terbendung hingga pemilihan tahun 2012 mendatang. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut