Pejuang Demokrasi Amir Husin Daulay Meninggal Dunia

Pejuang demokrasi yang tak kenal lelah, Amir Husin Daulay, meninggal dunia, Sabtu (6/7/2013), sekitar pukul 11.25 WIB. Kabar duka tersebut tersebar luas di jejaring sosial dan BlackBerry Messenger.

Menurut Informasi, sejak Kamis (4/7) malam Bung Amir dirawat di Rumah Sakit Permata Cibubur. Saat itu kondisi pejuang anti-kediktatoran orde baru ini sudah sangat lemah dan tidak sadar.

Memang, sejak dua tahun terakhir Bung Amir berjuang melawan penyakit lever kronis. Bahkan, setahun terakhir, beliau sering keluar-masuk Rumah Sakit karena penyakitnya. Meski demikian, aktivitas perjuangannya tidak pernah berhenti.

Amir Husin Daulay lahir di Medan, 9 Desember 1960. Di masa orde baru, Bung Amir dikenal sebagai salah satu pelopor perlawanan anti-kediktatoran Orde Baru. Pada tahun 1989, bersama kawan-kawan seperjuangannya, seperti Nuku Sulaiman (Almarhum), ia mendirikan  Pusat Informasi dan Jaringan Aksi Reformasi (PIJAR) Indonesia.

PIJAR sangat kritis menentang Orde Baru. Karena itu, organisasi ini sering dicap Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) oleh aparat keamanan Orba. Tak heran, banyak aktivis PIJAR yang keluar-masuk penjara.

Selain itu, Bung Amir juga banyak berkecimpung di dunia pers kampus. Ia tercatat sebagai pendiri Majalah Mahasiswa Ilmu Politik POLITIKA di Universitas Nasional. Dia juga yang mempelopori berdirinya Lembaga Pers Mahasiswa di UNAS.

Setelah Soeharto tumbang, perjuangan Bung Amir tidak berhenti. Pada tahun 2000, bersama aktivis Malari, Hariman Siregar, ia mendirikan Indonesia Democracy Monitor (INDEMO). Selain itu, ia juga menjadi salah satu pendiri Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (PRODEM) dan Gerakan Rakyat untuk Demokrasi (GRD).

Tak hanya itu, Bung Amir juga aktif dalam kegiatan kesenian dan kebudayaan. Bersama dengan Ken Zuraida, istri almarhum WS Rendra, Bung Amir berjuang mementaskan salah satu karya besar WS Rendra,  Mastodon dan Burung Kondor.

Bung Amir telah mengabdikan hidupnya bagi perjuangan dan kemanusiaan. Dan, seperti dikatakan novelis besar Ernest Hemingway, “kehidupan setiap orang akan berakhir dengan jalan yang sama. Hanya rincian tentang bagaimana ia hidup dan bagaimana ia meninggal yang membedakan satu sama lain.”

Selamat jalan Bung Amir…

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut