Pedagang Pisang Epe Akhiri Pendudukan Kantor DPRD

DUA hari pedagang pisang epe melakukan aksi pendudukan. Tuntutan mereka, yaitu agar mereka diijinkan berjualan di sekitar pantai Losasri, tidak terkabulkan. Pihak Walikota bersikeras kepada pendiriannya: “Pantai Losasi harus bebas dari pedagang kaki lima.”

Meskipun begitu, Ilham Arif Sirajuddin, walikota Makassar, membolehkan pedagang pisang epe berjualan di tempat lain. “Asalkan jangan di jalan penghibur,” kata Ilham Arif menegaskan.

Menurut politisi Partai Demokrat itu, keputusan itu dilandaskan kepada komitmennya untuk menampakkan kota Makassar sebagi kota yang bersih dan rapi. Belum juga para pedagang menyampaikan bantahannya, Sang Walikota sudah ngacir masuk ke ruang rapat paripurna DPRD Kota Makassar.

Pihak pedagang pun segera mendiskusikan pernyataan Walikota itu. “Kita dilarang berjualan di jalan penghibur, tetapi diperbolehkan berjualan di tempat lain,” kata Wahida, 35 tahun, ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Sulsel.

Wahida menganjurkan agar pedagang berjualan di jalan Haji Bau dan Metro Tanjung Bunga, keduanya masih di dekat pantai Losari. “Bapak-bapak dan ibu-ibu tidak usah takut. Asalkan tidak di jalan penghibur, kita boleh berjualan. Itu ucapan Walikota yang sudah kita rekam,” kata Wahida menyakinkan massa.

Sweeping anggota DPRD

Sebelumnya, sekitar pukul 11.00 WITA, ratusan ibu-ibu dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) mendatangi kantor DPRD untuk memberikan solidaritas kepada para pedagang pisang epe ini.

Daeng Baji, aktivis SRMI yang memimpin aksi ini, menjelaskan bahwa keputusan Walikota untuk menggusur hanya akan menambah pengangguran dan kemiskinan. “Tugas pemerintah itu adalah memerangi kemiskinan dan pengangguran, bukan menambanya,” ujar Daeng Baji saat menyampaikan orasinya.

Setelah menggelar orasi-orasi barang beberapa menit, massa ibu-ibu ini mulai merengsek masuk ke kantor DPRD dan mencari satu per satu anggota DPRD. “Anggota DPRD dipilih oleh rakyat untuk memperjuangkan kepentingannya. Bukan menghindar kalau ada rakyat yang datang mengadu,” tegasnya.

Akhirnya, setelah melalui tekanan, sejumlah anggota DPRD pun memberikan dukungan terhadap perjuangan pedagang pisang epe. “Pisang Epe adalah kuliner khas makassar yang harus dipertahankan keberadaannya,” ujar seorang anggota DPRD berseragam partai Hanura.

Selama aksi massa dan pendudukan berlangsung, para seniman Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) turut memberikan tambahan semangat melalui lagu-lagu perjuangan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut