PBB Adalah Alat Imperialisme

SAAT berbicara dalam Sidang Umum PBB pada 30 September 1960 di New York, Amerika Serikat, Bung Karno dengan pedas menelanjangi PBB sebagai kaki-tangan kolonialisme dan imperialisme. Salah satu kata-kata pedas Bung Karno berbunyi: “Janganlah bertindak sebagai tangan kanan yang buta dari kolonialisme. Jika tuan bertindak demikian, maka tuan pasti akan membunuh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, dan dengan begitu tuan akan membunuh harapan dari berjuta-juta manusia, yang tiada terhitung itu dan mungkin tuan akan menyebabkan hari depan mati dalam kandungan.”

Pidato Bung Karno itu tentu sangat relevan dengan kondisi hari ini. Sejak bulan lalu, PBB telah memberikan restu kepada sekutu untuk menggempur Libya, negara di Afrika utara yang kaya minyak. Beberapa hari terakhir, PBB kembali menjadi sponsor untuk melancarkan serangan terbuka ke Pantai-Gading. Di Abidjan, salah satu kota terbesar di Pantai Gading, helikopter PBB bersama Perancis menggempur habis-habisan rumah Presiden Pantai Gading yang menolak mundur, Laurent Gbagbo.

Kali ini, dengan topeng demokrasi dan intervensi kemanusiaan, PBB telah menjadi sponsor atas serangan pesawat tempur dan rudal-rudal sekutu terhadap negara kecil yang berdaulat. Dengan alasan demokrasi dan kemanusiaan pula, PBB telah merestui ratusan roket dan bom membunuh orang-orang sipil tidak berdosa di Libya.

Pada saat bersamaan, PBB malah menutup mata ketika Arab Saudi, negara paling monarkhis dan anti-demokrasi di dunia, mengirim tank dan pasukan militer untuk menindas demonstran pro-demokrasi di Bahrain. PBB juga menutup mata saat pesawat tempur dan militer Israel kembali menggempur rakyat tak berdosa di Gaza, Palestina.

Demokrasi dan kemanusiaan hanya topeng belaka, tetapi di belakangnya ada nafsu untuk mengontrol sumber daya dan menegakkan hegemoni ekonomi-politik di berbagai kawasan. Ini adalah kepentingan dari dunia lama (old established order), yang terus-menerus bertindak sebagai pengusa dunia dan karena itu bisa merampok negara-negara yang lemah.

Negara-negara yang menyebutnya dirinya sebagai penjaga demokrasi dan kemanusiaan sekarang ini, seperti AS, Inggris, Perancis, dan Italia, adalah negara-negara yang punya sejarah kelam dengan kolonialisme, rasisme, dan fasisme. Ideologi-ideologi reaksioner itu pernah mereka elu-elukan sebagai bentuk keunggulan mereka, tetapi sekarang mereka sok menjadi paling demokratis dan paling humanis di dunia.

Tetapi, demokrasi dan humanisme bagi negeri-negeri itu imperialis itu hanya suatu dongengan kanak-kanak, suatu omong kosong belaka, suatu permainan tipu muslihat yang akan segera terbuka kedoknya. Di Amerika Serikat, negeri yang ngaku paling demokratis, telah berkembang ideologi reaksioner yang memusuhi kaum imigran dan orang-orang islam (Islampohobia). Sementara di Perancis, negeri tempat lahirnya revolusi yang terkenal itu, perjuangan rakyat pekerja dan rakyat tertindas sudah runcing-runcingnya untuk menggantikan rejim reaksioner negeri itu, Nicolas Sarkozy. Sedangkan Italia, yang pernah dikuasai fasisme, presidennya sedang bermasalah dengan berbagai skandal seks.

PBB, karena telah menjadi alat kolonialisme dan imperialisme, semestinya kita bubarkan dan gantikan dengan organisasi baru yang didasarkan pada kesetaraan antar bangsa, kerjasama, dan solidaritas. Akan tetapi, tidak mungkin kita bisa menata suatu dunia baru, jika tidak menghancur-leburkan kolonialisme dan imperialisme.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari kekuatan hebat yang sedang berjuang melawan imperialisme, adalah keharusan bagi kita untuk bergandengan tangan dengan dengan seluruh kekuatan anti-imperialis di Asia, Timur-tengah, Afrika, Amerika Latin, dan rakyat pekerja di Eropa sana, demi mengubur imperialisme dan kolonialisme ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Hinu Endro Sayono

    Itulah sebabnya,-di era Bung Karno-, Indonesia menyelenggarakan Konferensi Afro-Asia di Bandung (1955), membangun Gerakan Non-Blok (GNB), keluar dari PBB, dan merencanakan penyelenggaraan Conefo.