Paus Fransiskus Basuh Kaki Pengungsi Dan Kecam Bisnis Senjata

Ada yang menarik dari ritual malam Kamis Putih tahun ini. Paus Fransiskus membasuh dan mencium kaki pengungsi. Tiga diantaranya adalah pengungsi beragama Islam.

Itu dilakukan Paus dalam ritual pembasuhan kaki pada hari Kamis putih, Kamis (24/3/2016), di tempat penampungan pengungsi di Castelnuovo di Porto, Italia.

“Kita semua, bersama-sama, Muslim, Hindu, Katolik, Koptik, Evangelis, adalah bersaudara. Anak-anak Tuhan. kami ingin hidup dalam damai,” kata Paus.

Setelah upacara, Paus menyalami pengungsi yang jumlah sekitar 900-an orang, melakukan foto bersama, dan menerima catatan-catatan dari mereka seiring langkahnya.

Sebelumnya, aturan Vatikan hanya membolehkan membasuh kaki partisipan laki-laki dalam ritual pembasuhan kaki tersebut. Namun Paus Fransiskus merombak aturan itu. Sekarang, pembasuhan kaki di Kamis Putih bisa dilakukan kepada perempuan dan non-Katolik.

Selain itu, keputusan Paus membasus kaki pengungsi dan warga muslim menuai pujian. Maklum, sejak kasus Charlie Hebdo, teror Paris, dan bom di Brussel baru-baru ini, kebencian terhadap pengungsi dan Islam sangat meningkat.

Malahan, setelah serangan teror di Brussel, Belgia, yang menewaskan 31 orang, tagar #StopIslam jadi trending di hampir semua negara-negara Eropa. Belum lagi, sayap kanan garis keras dan kelompok fasis menggunakan kejadian itu untuk mengobarkan kebencian terhadap pengungsi dan Islam.

Di Kamis putih itu juga Paus mengecam serangan teror di Brussel. Dia mengidentikkan kejadian itu dengan orang-orang yang tidak hingun hidup dalam damai.

“Tiga hari yang lalu, ada isyarat perang, penghancuran, di sebuah kota Eropa oleh orang-orang yang tidak ingin hidup dalam damai,” kata Paus seperti dikutip teleSUR, Jumat (25/3).

Menurut Paus, perang hanyalah untuk orang-orang haus darah yang berdiri dibalik industri senjata.

“Di belakang isyarat (perang) ini ada industri senjata, pedagang senjata, yang menginginkan darah, bukan perdamaian. Yang mengingkan perang, bukan persaudaraan,” jelasnya.

Menurut Paus Fransiskus, prosesi pembasuhan kaki, yang melambangkan pelayanan seorang pemimpin kepada warganya, kontras dengan gerakan serangan bom di Brussel yang ingin menghancurkan persaudaraan antar-manusia.

“Kita semua memiliki perbedaan kultur dan agama, tapi kita semua bersaudara dan ingin hidup dalam kedamaian,” kata Paus Fransiskus dalam homili-nya.

Anabel Engelberta 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut