Pasar Terapung Lok Baintan

Cover.jpg

Tanggal 15 Desember 2012, Berdikari Online bersama beberapa peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia  (FIB UI) mengunjungi salah satu tempat beraktivitas paling khas dalam tradisi masyarkat Banjar, yakni pasar terapung Lok Baintan, di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari Pak Asyarri, warga setempat menjadi pemandu kami, terdapat dua lokasi pasar terapung, pertama di Muara Kuin, Kota Banjarmasin, dan kedua di Lok Baintan, tempat yang kami datangi. Berikut ini laporan pandangan mata atas hal-hal yang ditemui dalam perjalanan tersebut. Pendokumentasian ini belum mendalam dan banyak kekurangan, sehingga ada baiknya bila dapat ditindaklanjuti dengan riset yang lebih spesifik dan dengan persiapan yang lebih baik.

Transportasi dan perjalanan ke lokasi

Untuk mencapai lokasi tersebut (Pasar Terapung Lok Baintan), pengunjung dapat menyewa klotok (sejenis perahu motor) dari sebuah dermaga kayu sederhana di pinggiran kota Banjarmasin. Keberangkatan yang paling tepat adalah pagi hari sekitar jam 05.00 waktu setempat (WITA), karena kegiatan pasar dimulai sekitar pukul 05.00-05.30. Perahu klotok membawa pengunjung menyusuri sungai yang membelah kota Banjarmasin ini menjauhi kota ke arah hulu.

Foto: Sisi kanan yang dilalui menuju lokasi pasar terapung (rumah membelakangi sungai).
Foto: Sisi kanan yang dilalui menuju lokasi pasar terapung (rumah membelakangi sungai).

Dalam perjalanan tampak rumah-rumah penduduk yang berjejer di sepanjang tepi sungai. Terdapat juga beberapa tempat penggilingan padi, rumah ibadah (mesjid), rumah penangkaran burung walet, dan toko/warung klontong.

Dapat dilihat bahwa rumah-rumah penduduk yang berada di sisi kanan pelintasan (lebih dekat ke pusat kota Banjarmasin) umumnya didirikan membelakangi sungai. Penandanya adalah bangunan dan aktivitas masyarakat untuk MCK (mandi, cuci, kakus) yang langsung nampak dari tengah sungai tempat lalu lintas perahu lewati.

Sisi kiri yang dilalui menuju lokasi pasar terapung (rumah menghadap sungai).
Sisi kiri yang dilalui menuju lokasi pasar terapung (rumah menghadap sungai).

Sebaliknya, rumah-rumah penduduk yang berada di sisi kiri umumnya menghadap ke sungai. Kondisi ini, antara lain, menandakan bahwa penduduk yang berada di sisi kanan telah banyak menggunakan alat transportasi darat. Sementara bangunan seperti toko dan tempat penggilingan padi, baik di sisi kiri maupun sisi kanan, tetap menghadap ke sungai, sehingga perdagangan dapat dilakukan dilakukan lewat sungai. 

Pusat kegiatan pasar terapung

Setelah perahu kelotok melaju sekitar 20 menit, mulai tampak satu-dua perahu berisi dagangan melaju ke arah yang sama dengan perahu kami. Umumnya datang dari anak-anak sungai yang ada di sisi kiri dan kanan sungai besar (Martapura). Makin dekat ke Lok Baintan semakin ramai perahu sejenis.

Pusat berkumpulnya para pedagang terletak di dekat sebuah pelabuhan yang diberi papan bertuliskan “Pelabuhan Lok Baintan”. Letaknya berdekatan dengan sebuah jembatan gantung kecil (hanya bisa dilalui orang dan sepeda motor) yang melintasi sungai. Jembatan gantung ini masih aktif digunakan warga sekitar. Di bawah jembatan itu perahu-perahu berkumpul, berdempet-dempetan, berinteraksi dan bertransaksi.

foto: Pelabuhan Lok Baintan
foto: Pelabuhan Lok Baintan

Di sini kami belum dapat memastikan berapa jumlah pedagang keseluruhan. Tapi tampak bahwa jumlahnya terus bertambah, sampai puncaknya sekitar pukul 09.00 – 10.00 pagi. Pada puncak keramaian tersebut, diperkirakan jumlah perahu pedagang antara 70 sampai 80 perahu. Mungkin juga lebih. Belum kami dapatkan informasi lebih lanjut bagaimana tingkat keramaian pasar ini pada masa-masa sebelumnya (sekitar 10 – 20 tahun yang lalu atau juga jauh sebelumnya).

Karena berada di atas arus sungai, maka pasar terapung ini bergerak ke arah hilir. Ketika melakukan transaksi jual-beli, perahu-perahu akan dibiarkan bergerak terbawa arus, dan setelah transaksi selesai baru dikayuh kembali ke titik kempul semula. Pola iramanya seperti tidak menentu, tapi para pedagang di perahu-perahu ini seperti kompak untuk tetap membentuk kerumunan, baik ketika terbawa ke hilir atau ketika mengayuh kembali ke hulu.

Peran perempuan

BeFunky_7.jpg
Foto: Perempuan dengan penutup kepalanya.

Merupakan suatu keistimewaan bahwa para pengayuh perahu ini, yang juga melakukan kegiatan dagang, umumnya perempuan. Beberapa di antara mereka membawa serta anak-anak balita, tapi umumnya seorang diri dalam satu perahu. Mereka membawa/menggunakan topi anyaman daun bundar berdiameter sekitar 50-60 cm untuk berlindung dari sinar matahari atau hujan. Tampak juga beberapa perempuan menggunakan sejenis pupur wajah. Sangat jarang perahu dagangan yang dibawa oleh laki-laki. Ketika kami tanyakan pada salah satu ibu pedagang ini, mengapa demikian (sebagian besar wanita), ia jelaskan bahwa umumnya lelaki pergi bertani di pagi hari. Pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki semacam ini mungkin merupakan suatu kelaziman dalam masyarakat agraris.

Barang-barang

Memang dagangan yang dibawa di atas perahu-perahu itu umumnya hasil pertanian dan perkebunan. Terdapat sayur-sayuran segar, seperti daun singkong, daun pepaya, lengkuas merah, cabe, umbian talas, dll. Juga banyak terdapat buah-buahan segar, seperti mangga, jeruk khas banjar (limau), pisang, pepaya, rambutan, dan lainnya. Sementara yang dijual dalam skala yang lebih kecil adalah ikan atau hasil laut lainnya, kue-kue tradisional, serta beberapa jenis produk tekstil seperti pakaian, kain, dan tas.

Foto: Barang-barang yang diperjualbelikan
Foto: Barang-barang yang diperjualbelikan

 

Sistem perdagangan 

Interaksi terjadi antara sesama pedagang, dan antara pedagaang dengan beberapa pengunjung yang ingin berwisata. Atau juga dengan penduduk pesisir sungai yang rumahnya dilalui pedagang. Dari Pak Asyari diperoleh informasi bahwa perdagangan di sini dapat dilakukan dengan menggunakan uang atau menggunakan sistem barter. Umumnya sistem barter terjadi antara sesama pedagang, sedangkan penggunaan uang ketika bertransaksi dengan pembeli pendatang (contoh: wisatawan). Tapi dalam kesempatan yang singkat kemarin, (saya) tidak menyaksikan sendiri terjadinya proses barter yang disebutkan.

Seorang ibu sedang melakukan transaksi
Seorang ibu sedang melakukan transaksi

Keterangan lainnya, bahwa pasar terapung Lok Baintan ini tergolong “pasar induk”, dalam pengertian jual beli dilakukan dalam proporsi besar untuk kembali dijual ke anak-anak sungai. Meski demikian di sini tidak ada retribusi atau iuran sejenis lainnya yang dipungut oleh pemerintah atau oleh masyarakat sendiri.

Beberapa catatan (pendapat sederhana):

  1. Tradisi: Kondisi geografis Kalimantan Selatan, khususnya kota Banjarmasin dan kabupaten Banjar, banyak dilalui oleh sungai besar dan kecil, sehingga aktivitas perekonomian (termasuk di dalamnya transporatasi) yang memanfaatkan perairan sebagai sarana telah berlangsung turun-temurun. Situasi geografis tersebut sudah sewajarnya tidak menjadi halangan, tapi menjadi keunggulan bagi masyarakat, dengan memanfaatkan tradisi dan kearifan yang diwariskan para leluhur. Salah satu kearifan tersebut adalah adanya pasar terapung, yang hanya bisa ditemui di beberapa tempat di dunia. Dengan referensi yang terbatas, negara lain yang dapat disebut di sini adalah Thailand dan Vietnam.
  2. Ekonomi: Seperti diterangkan di atas, Pasar Terapung Lok Baintan umumnya memperdagangkan barang-barang hasil pertanian dan perkebunan lokal setempat. Penguatan dan promosi dalam berbagai bentuk akan berdampak penguatan dan promosi juga bagi aktivitas pertanian masyarakat lokal.
  3. Pariwisata: Karena kelangkaannya di muka bumi ini, maka pasar terapung dapat menjadi salah satu obyek yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Tapi untuk itu masih dibutuhkan pembenahan-pembenahan, terutama pembenahan terhadap infrastruktur yang tersedia; jalan darat, dermaga, angkutan (darat dan air), dll. Juga penguatan terhadap masyarakat pedagang sendiri dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Laporan: Dominggus Oktavianus

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut