Partai Kiri Raih Kemenangan Bersejarah Di Pemilu Yunani

Syriza1

Akhirnya, setelah perjuangan panjang melawan neoliberalisme, rakyat Yunani berhasil menciptakan sejarah baru melalui kotak suara. Partai kiri radikal, Syriza, berhasil memenangi Pemilihan Umum (Pemilu) yang berlangsung pada hari Minggu (25/1/2015).

Dari 99 persen suara yang sudah dihitung, Syriza meraih lebih dari 36 persen. Sementara partai pesaingnya dari sayap kanan, Demokrasi Baru (ND), hanya meraih 28 persen. Tempat ketiga diperebutkan oleh tiga partai, yakni Golden Dawn (fasis) dengan 6,3 persen, Potami (tengah) dengan 5,7 persen, KKE (komunis) dengan 5,3 persen.

Dengan perolehan suara tersebut, ditambah bonus 50 kursi sebagai partai pemenang pemilu, Syriza akan mendapatkan 149 kursi di parlemen. Artinya, Syriza kekurangan 2 kursi untuk menjadi kekuatan mayoritas di parlemen dan membentuk pemerintahan sendiri.

Namun demikian, jika Syriza harus menempuh jalan koalisi untuk bisa membentuk pemerintahan, maka peluangnya ada di dua partai, yakni Independen (sebuah partai nasionalis kanan yang juga menentang kebijakan penghematan) dan Potami (tengah). Sementara partai komunis (KKE), yang diperkirakan meraih suara 5 persen, menolak berkoalisi dengan Syriza karena dianggap terlalu reformis.

Dan beberapa saat setelah pengumuman, pihak partai independen melalui pimpinannya, Panos Kammenos, telah menyatakan kesiapan berkoalisi dan membentuk pemerintahan bersama Syriza. Partai Independen memiliki sikap yang sama dengan Syriza dalam melawan kebijakan penghematan. Namun, partai independen sangat konservatif dalam melihat persoalan imigran dan agama.

Syriza merupakan partai yang getol dan keras menentang kebijakan penghematan yang dipaksakan oleh rezim sayap kanan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Antonis Samaras. Partai ini dipimpin oleh seorang tokoh muda kharismatik berusia 40 tahun, Alexis Tsipras.

“Hari ini rakyat Yunani telah membuat sejarah. Harapan telah membuat sejarah,” kata Alexis Tsipras kepada kerumunan pendukungnya yang berkumpul di halaman Universitas Athena.

Lebih lanjut, Tsipras mengatakan, “rakyat Yunani telah memberikan mandat yang sangat jelas, kuat, dan tak terbantahkan. Yunani akan memasuki halaman baru. Yunani akan meninggalkan kebijakan penghematan yang desktruktif, ketakutan, dan otoritarianisme. Yunani akan meninggalkan lima tahun penghinaan dan rasa sakit.”

Namun, kemenangan Syriza telah membuat ‘jerit kegemparan’ bagi kekuatan kanan di Eropa. Perdana Menteri Yunani yang terkalahkan, Antonis Samaras, menuding kemenangan Syriza akan membawa Yunani ke ambang keruntuhan ekonomi.

Sementara Perdana Menteri Inggris melalui akun twitternya menulis: “pemilihan di Yunani akan meningkatkan ketidakpastian ekonomi di seluruh Eropa.”

Syriza bangkit di tengah-tengah krisis ekonomi dan politik yang melanda Yunani sejak 5 tahun terakhir. Kebijakan neoliberal telah meluluhlantakkan ekonomi nasional negeri tua ini. Sekitar 2,5 juta rakyat Yunani (total penduduk Yunani berkisar 11 juta orang) hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara tingkat pengangguran mencapai 30 persen.

Kebijakan neoliberal juga membawa negeri ini pada kebangkrutan. Utang Yunani mencapai 319 milyar euro (atau 368 milyar USD). Akumulasi utang sebesar itu berpangkal pada sistim politik yang korup dan kebijakan ekonomi neoliberal yang bersandar pada utang.

Ironisnya, Yunani harus membayar utang itu dengan harga mahal. Dalam beberapa tahun terakhir, Troika (IMF, Bank Sentral Eropa, dan Uni Eropa) memaksa Yunani melakukan penghematan. Anggaran untuk belanja sosial dipangkas besar-besaran. Jumlah pekerja di sektor publik dikurangi. Lalu usia pensiun dinaikkan. Tak hanya itu, upah minimum ditekan dan berbagai tunjangan dipangkas.

Lebih parah lagi, untuk alasan pembayaran utang, Troika memaksa Yunani untuk memprivatisasi semua perusahaan milik negara dan layanan publik, seperti perusahaan energi, telekomunikasi, rumah sakit, bandara, transportasi, dan lain-lain.

Dalam situasi itulah Syriza bangkit. Partai berhaluan kiri ini berkampanye lantang, entah melalui wakil mereka di parlemen maupun melalui aksi massa, untuk menentang kebijakan penghematan. Dalam kampanye Pemilu kali ini, Syriza mengusung empat pilar untuk membawa rakyat Yunani keluar dari kesulitan ekonomi ekstrem, yakni mempromosikan program darurat untuk sektor sosial paling rentan, pemulihan ekonomi dan pajak yang berkeadilan, mengatasi pengangguran, dan mentransformasi sistim politik dengan memperdalam demokrasi.

Selain itu, jika berhasil memegang tampuk kekuasaan, Syriza berjanji akan melakukan negosiasi ulang terkait utang dengan para kreditor, menghentikan memorandum dengan Troika, dan melaksanakan pembangunan ekonomi yang mengutamakan manusia serta menghargai alam.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • jhuan

    Tinggal membuat sejarah di indonesia…tentang kemenangan kaum kiri..salam