Parade Menangkan Pancasila, Ahmad Rifai: Kita Ingin Ingatkan Pemerintah Soal Kesejahteraan Rakyat

Tanggal 20 September 2017, Partai Rakyat Demokratik meluncurkan Posko Menangkan Pancasila. Usai peluncuran, posko tersebut berdiri di hampir semua Provinsi di Indonesia.

Selain membuka ruang diskusi dan kampanye tentang Pancasila, Posko ini juga membuka pintu lebar-lebar kepada rakyat Indonesia mana saja yang dirampas hak-haknya atau menjadi korban kebijakan politik.

Nah, seiring dengan lonjakan harga kebutuhan pokok yang makin mencekik leher rakyat, Posko Menangkan Pancasila berencana menggelar sebuah kampanye simpatik bertajuk “Parade Nasional Menangkan Pancasila”.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang rencana tersebut, Mahesa Danu dari berdikarionline.com sudah melakukan wawancara dengan Koordinator Nasional Posko Menangkan Pancasila, Ahmad Rifai.

Untuk diketahui, selain menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD), Rifai juga menjabat Ketua Umum Serikat Tani Nasional (STN).

Berikut petikan wawancaranya.

Di akhir Januari ini PRD akan menggelar Parade Menangkan Pancasila. Apa latarbelakang dari kegiatan ini?

Latar belakang PRD untuk menggelar Parade Menangkan Pancasila ini sederhana saja: melihat kehidupan sehari hari rakyat Indonesia  hari ini. Dari desa sampai kota, suara mereka mereka sama: persoalan kesejahteraan yang makin merosot. Harga kebutuhan pokok, seperti beras, gas elpiji, listrik, dan lain-lain, makin sulit terjangkau. Di desa yang kehidupannya disandarkan pada penjualan hasil pertanian, terutama padi, kesejahteraan juga menurun. Harga gabah tidak sebanding biaya produksi. Belum lagi, seperti baru-baru ini, ada kebijakan impor beras yang mengancam produksi petani dalam Negeri.

Sementara subsidi untuk rakyat miskin dicabut, untuk para konglomerat justru sebaliknya. Baru-baru ini, lima perusahaan sawit berskala besar mendapatkan subsidi dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dengan total mencapai Rp7,5 triliun. Ini kan aneh.

Intinya, Parade Menangkan Pancasila ini hendak mengingatkan pemerintah untuk punya perhatian pada isu-isu kesejahteraan sosial, terutama pemenuhan kebutuhan pokok. Sebab, itu mandat dari pembukaan UUD 1945 dan Pancasila.

Bagaimana bentuk acaranya?

Bentuk acaranya sederhana saja, ya seperti karnaval budaya. Jadi kita ingin menampilkan keragaman suku, agama, dan ras di Indonesia beserta tradisi dan produk budayanya. Tetapi kita juga mau tunjukkan, bahwa basis persatuan dari keragaman itu adalah cita-cita yang sama, yaitu mewujudkan kesejahteraan sosial.

Karena itu, Parade ini akan mengajak pemerintah untuk fokus pada kesejahteraan sosial. Terutama pemenuhan kebutuhan pokok rakyat.

Dimana saja akan dilaksanakan?

Rencananya Parade ini akan dilakukan beberapa kali secara serentak se-Indonesia. Untuk tahap pertama ini akan digelar pada 28 Januari 2018 di beberapa Provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara.

Apa isu besar yang akan diusung dalam Parade tersebut?

Isu besar yang kami usung, selain menunjukkan wajibnya merawat keragaman yang ada di Indonesia, kami juga mengusung isu-isu yang berkaitan dengan persoalan kesejahteraan sosial, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok dan pencabutan subsidi BBM, listrik, dan gas elpiji. Juga mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan akibat privatisasi di dua sektor itu. Tema besarnya kami sederhanakan jadi tuntutan: turunkan harga kebutuhan pokok!

Apa harapan PRD dari Parade tersebut?

Harapannya, Parade ini bisa mengingatkan bangsa ini, terutama penyelenggara Negara, untuk menghadirkan Pancasila secara utuh. Tidak hanya untuk merawat keragaman, tetapi juga menyelesaikan persoalan ketimpangan ekonomi dan persoalan kesejahteraan rakyat.

Semua kebijakan yang menyengsarakan rakyat, yang bertentangan dengan Pancasila, seperti penghapusan subsidi, liberalisasi impor, privatisasi, liberalisasi investasi, dan deregulasi, harus dihentikan. Liberalisme yang makin ugal-ugalan ini harus distop.

Negara harus hadir sebagai alat mewujudkan kesejahteraan sosial. Bukan sebaliknya. Hanya dengan berbasiskan kesejahteraan sosial, persatuan nasional bangsa kita akan kokoh. []

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut