Cerpen: Papa, Aku Anak PKI?

PKI-3.jpg

“Cang kacang panjang, yang panjang mati.. sekali lagi.. yang mati jadi,” suara ceria kami serentak saat memulai permainan petak umpet dengan cara berlomba mengulur-tarikkan tangan di halaman samping sekolah.

“Nah, Tian kamu kalah, ayo mulai hitung, jangan ngintip, ya,” ucap kawan-kawan sambil bergegas lari sembunyi.

“Tu, wa, ga, pat, ma, nam, juh, pan,lan, luh..” hitungku keras-keras sambil menutup mata.

Uh.. memang paling malas kalau kita kena giliran jadi kucing penjaga. Apalagi kalau teman-teman yang ikut bermain sebanyak ini, aku harus jeli memergoki persembunyian mereka dan harus juga gesit berlari ke titik awal menghitung, kalau aku kalah berlari dengan mereka yang lainnya, aku bisa kena giliran menjadi kucing sekali lagi.

Biasanya aku paling menghindari kekalahan saat penentuan siapa yang menjadi kucing, tapi tadi aku memang lengah, aku sedang risih diganggu mereka seharian ini.

Ah.. Beruntung, mereka semua berhasil kupergoki semua dan satu persatu aku sebut namanya sambil menepuk dinding tempat ku berhitung dan berteriak “Top!” sebagai tanda kemenangan.

***

Hari ini kami baru saja selesai latihan upacara bendera, kami siswa kelas 5 didaulat sebagai petugas upacara di hari peringatan Kesaktian Pancasila 1 Oktober besok lusa. Aku sendiri dipilih menjadi petugas ajudan yang membawa naskah teks Pancasila mengiringi Pembina Upacara yang kabarnya akan dimandatkan pada Kepala Dinas, aku merasa senang  sekali karena tugasku lah yang paling penting di prosesi upacara kali ini.

Aduh, tapi benar juga kata teman-teman, aku ini aneh, aku gak cocok, gak pantes jadi petugas upacara besok, biar pun di hari-hari upacara bendera sebelumnya aku sering menjadi bagian dari petugas pelaksananya. Tapi kali ini beda ! aku benar-benar merasa asing, dan risih sekali dengan ejekan mereka semua, padahal jujur, aku bangga saat ditugasi Bu Indri wali kelas kami itu, dan di dalam hati aku sudah berencana gagah akan cerita pada Papa, Mama, dan si kecil Nia.

Sempat terbayang olehku, wajah mereka yang bakal sumringah kagum, dan jangan-jangan aku dihadiahi sepaket nasi tumpeng kuning, ayam bakakak, dan sambal balado udang campur pete lagi sama Mama, nyamnyam..

Nia juga pasti akan banyak bertanya pada abangnya ini, sore harinya dia cerita ke semua teman mainnya di komplek perumahan kami. Pasti itu akan terasa spesial bagi kami sekeluarga, sebab aku memang lahir persis pada malam tanggal 30 September 2002, jadi aku akan sembari merayakan ulang tahun yang ke 11! asyik!

Ah, tapi semua bayangan gembira itu sekarang pudar, sejak kami mulai latihan upacara tadi, aku cuma menunduk-nunduk seperti ayam pengecut yang bengong, sampai berkali-kali ditegur karena tidak mengikuti arahan Kak Nur, pelatih pramuka sekolah kami.

***

“Eh, kamu tanggal 1 besok ulang tahun kan Tian? ” tanya Feri sehabis kami bermain.

“Iya sih, aku kan lahir 30 September, emang kenapa, Fer?” sautku santai.

“Itu berarti kamu anak PKI ! hahaha…”pekik Feri mencibir.

“Enggak ! aku bukan anak PKI kok, aku percaya Allah ! Sumpah!” balasku kesal.

“Tapi buktinya kamu lahir waktu PKI ngebantai jenderal-jenderal pahlawan, itu artinya kamu lahir sebagai anak PKI Tian, udah akuin aja..” tambah si Aan memojokkanku.

“Enggak ! bukan ! aku percaya Allah ! aku gak punya sile !” bantahku makin marah pada mereka.

“Huuu…. Tian anak PKI, Tian anak PKI, huuuu….” sorak beberapa teman lainnya.

Tega sekali mereka tuduh aku anak PKI, aku makin kesal, mataku panas dan mulai berair, mukaku jadi merah padam. Ingin rasanya aku pukul wajah Feri yang pertama memulai, tapi aku gak mau dimarahin Papa lagi karena berantem di sekolah.

“Huuu….. Tian anak PKI… masa anak PKI jadi petugas upacara.. PKI kan pengkhianat Pancasila!” cibir si Geri yang ikut-ikutan.

Mukaku makin panas dan memerah, aku menunduk, tanganku mengepal geram, mataku makin berair rasanya. Mereka mulai mendorong-dorong tubuhku, aku berusaha bertahan sambil terus mengepal geram tapi menunduk.

“Udah Tian, kamu minta ganti sama yang lain aja, bilang ke Bu Guru, ini kan upacara kesaktian Pancasila, kamu gak pantes, tau,” Aan kembali menimpali.

Aku sudah tidak tahan, aku lari menerobos kepungan teman-teman mainku sendiri. Aku lari ke toilet sekolah dan mengunci diri di dalamnya. Mataku rupanya mulai melelehkan air mata, dadaku jadi makin tersengal, aku menangis sesenggukan di dalam toilet, sendirian.

***

Kulepas sepatu dan menaruhnya di rak depan rumah, mama sedang menjemur baju di samping, aku malu dan langsung masuk ke belakang melepas baju seragam yang sudah basah dengan keringat, air mata, dan sedikit lelehan ingus karena nangis sesenggukkan di sekolah tadi. Capek sekali rasanya hari ini, dasar apes.

Biarlah, aku sudah lemas dan kecapekan memikirkan ejekan mereka semua. Aku pilih rebahkan tubuh sampai tertidur pulas di ambal ruang TV.

***

“Nia, main sepedah, yuk..” seruku.

“Kita balapan ke taman, tapi abang gak boleh ninggalin ya,” jawabnya.

“Yadeh, yuk buruan..” ajakku.

Sore begini memang seru dipakai main ke taman komplek perumahan kami, ada lapangan basketnya, dan banyak pilihan alat bermain, di sana juga ramai orang.

“Baaang.. jangan cepet-cepet dong!” seru si Nia kecil terengah-engah.

“Makanya roda kecil sepeda kamu dilepas aja biar bisa ngebut,” jawabku memelankan laju sepeda.

“Gak mau, Nia takut jatoh,” jawabnya polos.

***

Di taman memang sudah ramai, ada ibu-ibu yang nyuapin anak-anak balitanya, ada teman-teman tetanggaku juga, kami mau main bola deh.

“Mamaaa…. Nia sama abang main disini, ya,” Nia meneriaki mama yang berjalan lewat taman sambil membawa belanjaan.

“Iya, jangan nakal ya, inget sebelum maghrib udah di rumah,” jawab Mama.

“Belanja apa mama tian?” sapa Ibu-Ibu tetangga yang sedang di taman.

“Ini Bu, beli bahan bumbu, buat bikin nasi tumpeng kuning besok, si Tian ulang tahun,” jawab Mama.

Aku langsung berlari menghampirinya, “Waahh.. jadi buat tumpeng ya Ma? ayam bakakaknya juga nggak!” seruku senang sekali.

“Rahasia dong,” jawab Mama usil.

“Oh Tian mau ulang tahun ya, yang ke berapa sekarang?” tanya salah satu Ibu tetangga.

“Sebelas tahun Bu, persis 30 September besok,” jawabku.

“Lha itu kan hari bersejarah, pembantaian PKI, hihii,” saut Ibu tetangga yang lain.

“Kenapa Bu?” Tanya mama heran.

“Itu lho, si Tian ulang tahunnya bareng sama hari G 30 S/ PKI.. hihihi..” jawab ibu itu disambut tawa kecil ibu-ibu lainnya.

“Ah kan gak ada hubungannya Bu, ya sudah saya pamit dulu, permisi,” sanggah Mama agak kesal.

Jangankan Mama, aku lebih kesal lagi karena gak cuma teman-teman sekolah yang mengejek, tapi Ibu-Ibu tetangga pun sudah ikut-ikutan.

***

Malamnya, aku makin terusik dengan semua omongan orang hari ini, aku hampiri Papa yang sedang nonton televisi.

“Papa, kenapa aku lahir tanggal 30 September sih? aku malu Pa,” ucapku.

“Lho? kenapa Tian? kan memang itu tanggal lahir kamu.” Jawabnya.

“Aku malu, Pa, aku gak mau lahir di tanggal itu, aku mau ganti aja Pa,” tambahku.

“Gak bisa Tian, mana ada hari lahir diganti-ganti, coba emangnya malu kenapa?” tanya Papa.

“Semua orang benci sama tanggal itu, Pa, mereka juga jadi benci sama aku, aku malu Pa,” jawabku.

“Kok bisa?” tanya Papa heran.

“Semuanya bilang kalo tanggal lahirku itu harinya PKI, yang jahat, yang ngebunuh jenderal-jenderal pahlawan negara, Pa, aku dibilang anak PKI karena lahir di tanggal itu, aku juga diejekin karena jadi petugas upacara yang bawa naskah Pancasila besok lusa. Apa bener aku ini anak PKI, ya, Pa?” ucapku agak tersengal.

“Lho ! nggak gitu Tian.. kamu anak Papa dengan Mama, mereka salah, mereka yang dosa buat fitnah, kamu harus cuekin. Gak ada yang salah sama tanggal lahir kamu, 30 September itu hari yang bagus, Papa masih ingat tangis kamu waktu lahir dulu. Papa kasih kamu nama Akhirul Septian, yang artinya penghujung bulan September, kamu itu berkah buat keluarga kita Tian, kamu harus ikut bersyukur, jangan dengerin omongan mereka lagi ya, siapa sih yang bilang begitu,” ucap Papa sambil mengusap kepalaku.

“Teman-teman di sekolah Pa, tadi Ibu-Ibu di taman juga pada ngetawain, aku malu Pa, aku mau ganti aja lahir tanggal 17 Agustus biar semua orang ikut ngerayain, juga ikut seneng ke akunya Pa,” pintaku lagi.

“Nggak bisa Tian.. kamu harusnya bangga sama tanggal lahir kamu, itu hari bersejarah lho, mereka yang ngetawain dan ngejek kamu justru karena iri, tanggal lahir mereka cuma hari biasa, gak istimewa kayak kamu,” jawab Papa.

“Tapi mereka semua ngejek aku terus, Pa, aku malu, aku gak berani jadi petugas upacara besok, memangnya PKI itu apa sih Pa ? kenapa semua orang jadi ngejek dan benci sama aku karena lahir di tanggal peringatan PKI,” tanyaku lagi.

“Kamu harus percaya diri Tian, kamu buktiin ke semua orang, kamu itu hebat, kamu bangga sama diri kamu yang besok ulang tahun sambil jadi petugas upacara. Papa percaya kamu bisa kok. Ah, PKI itu ceritanya panjang, nanti kalo udah besar Tian pasti bisa lebih ngerti, tapi setau Papa itu Partai Komunis Indonesia, katanya mereka dianggap benci sama agama, sama Tuhan kita, karenanya dilarang ada sama pemerintah,” jawab Papa.

“Tapi aku takut, Pa, nanti mereka ejek aku anak PKI terus,” keluhku.

“Kamu anak Papa dengan Mama, kamu Tian yang berani, dan bangga dengan hari lahirmu yang bersejarah, kamu juga pasti bakal buat kita semua bangga Tian, Papa yakin,” ucap papa sambil menggenggam kedua pundakku.

Tuhan, nanti kalau sudah besar aku mau tahu lebih banyak soal PKI, soal sejarah bangsa sendiri, kenapa sampai semua orang harus merasa sibuk membencinya berlebihan, sampai tega ikut juga  membenciku cuma lantaran lahir tanggal 30 September.

__________

Yogyakarta, 12 September 2014.

Saddam Cahyo,  bergiat di Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND_ Wilayah Lampung; mahasiswa sosiologi FISIP Unila.

 

Catatan :

Dipersembahkan untuk memperingati hari tragedy berdarah yang telah menodai amanat Pancasila, yang mempunyai semangat keadilan sosial sebagai dasar negara oleh rezim otoritarian Orde Baru/Soeharto, yang sukses menjerumuskan bangsa ini ke dalam cengkram penghisapan imperialisme-neoliberal sebagai wujud penjajahan gaya baru, dan telah mengukuhkan kapitalisme sebagai sistem hidup tunggal yang penuh relasi penindasan namun harus diamini.

Terinspirasi oleh surat berjudul “Kalau Aku Bisa Memilih” dari Ahmad Akhirul Septian Tridaya, siswa kelas II SDI Nurul Hasanah Tangerang dalam rubrik kiriman anak di media cetak harian KOMPAS, tanggal 30 September 2010 lalu.  Berikut isi suratnya ;

Kalau Aku Bisa Memilih

Aku lahir tanggal 30 September, maka Papa memberiku nama Akhirul Septian, artinya akhir bulan September.

Tetapi, belum lama ini aku mendengar ibu-ibu menertawaiku, katanya 30 September itu hari lahirnya PKI. Kata Papa, PKI itu Partai Komunis Indonesia, orang-orang komunis itu orang yang tidak percaya adanya Tuhan, maka PKI tidak boleh ada.

Kalau sebelum lahir aku boleh memilih tanggal, pasti aku memilih 17 Agustus atau 1 Januari. Pasti aku diperingati banyak orang setiap ulang tahun.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut