Palagan Baru Petani Teluk Jambe Karawang

Sebulan mengungsi di Jakarta, terhitung sejak pertengahan Oktober lalu, ratusan petani Karawang dipindahkan ke Karawang, Senin (14/11/2016). Untuk seminggu kedepan, mereka akan menginap di Islamic Centre Karawang.

Proses pemulangan petani diselumuti rasa haru dan isak tangis. Bertempat di kantor LBH Jakarta, di jalan Diponegoro nomor 74 Jakarta Pusat, para petani dijemput langsung oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Karawang.

Menurut Ketua Umum Serikat Tani Nasional (STN) Ahmad Rifai, pemulangan petani ini merupakan bagian dari kesepakatan antara perwakilan petani dengan pemerintah Kabupaten Karawang pada 10 November lalu.

“Ini merupakan langkah awal untuk penyelesaian konflik agraria. Untuk sementara petani akan tinggal di shelter Islamic Centre, kemudian nanti dipindahkan ke Rusunawa, sambil menunggu penyelesaian konflik,” ungkap Rifai.

Rifai menambahkan, selain menjamin pemulangan dan tempat penampungan sementara, Pemkab Karawang juga sepakat membentuk Tim yang melibatkan Muspida dan organisasi-organisasi pendamping petani.

Nantinya, lanjut Rifai, Tim itulah yang akan bekerja untuk menyelesaikan konflik antara petani Teluk Jambe dengan PT Pertiwi Lestari. Termasuk kemungkinan relokasi petani dari kampung halamannya ke tempat baru.

“Yang jelas, hak petani atas tanah itu wajib terpastikan. Disamping dukungan tempat tinggal dan fasilitas umum. Juga jaminan pendidikan dan kesehatan,” paparnya.

Tidak hanya itu, tambah Rifai, pihaknya juga memberi batas waktu hingga 6 bulan untuk penyelesaian konflik ini. Termasuk pemastian petani mendapat tanah permanen.

Untuk itu, Rifai berpesan agar para petani tetap menjaga persatuan dalam perjuangan. Dia juga memastikan bahwa STN dan organisasi-organisasi rakyat lainnya akan terus mengawal kesepakatan dengan Pemkab Karawang.

Untuk diketahui, sejak pertengahan Oktober lalu, ratusan petani mengungsi ke Jakarta. Mereka menginap di kantor STN, LBH Jakarta dan KontaS. Mereka mengungsi karena terus diteror dan diintimidasi oleh Polres Karawang dan PT Pertiwi Lestari.

Selama di Jakarta, petani berusaha mengadukan nasibnya ke sejumlah Lembaga Negara. Mulai dari Mabes Polri, Kantor Staf Presiden (KSP), Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) dan Komnas HAM. Mereka juga pernah menggelar aksi di depan Istana Negara.

Willy Soeharli

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut