Orang PKI Memanggilku Bujang Parewa

Minggu, 13 Juni 2010 | 00.36 WIB | Suluh

Oleh Iwan Komindo*)

Selama di sana saya tahu ibu kuatir . Makanya saya surati: Ibu jangan kuatirkan saya. Saya tidak lapar, karena saya tidak mau lapar.

Bujang Parewa. Begitu para tahanan politik di Nusa Kambangan memanggilku. Yang pasti, itu bukan nama pemberian orang tua.

Usiaku 15 tahun saat ditangkap oleh tentara paska hura-hara G30S 1965. Aku lahir tanggal 17 Agustus. Sama dengan hari lahir republik ini. Rumahku tak jauh dari kantor Partai Komunis Indonesia (PKI) Pandeglang, Banten. Di kampungku hampir semua orang aktif di partai yang paling revolusioner ketika itu, maupun organisasi sayapnya.

Kakak perempuanku anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), suaminya pimpinan Barisan Tani Indonesia (BTI). Aku sendiri menjadi anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI).

Menjadi anggota IPPI sangat menyenangkan. Kami sering kumpul-kumpul mengerjakan banyak hal. Misalnya menggelar pertandingan olahraga, berkesenian dan banyak lagi. Kebetulan aku memang senang olahraga dan berkesenian.

Di waktu senggang aku kerap bertandang ke kantor PKI. Hal yang paling kusuka saat main ke kantor itu melihat orang mengetik. Aku tertarik dengan aktivitas itu. Namun apa daya, karena masih kanak-kanak aku hanya bisa melihat.

Suatu hari aku membuat mesin ketik dari kertas karton berikut huruf-hurufnya. Itu menjadi mainan yang paling kusukai; melatih jari jemari mengetik cepat. Harapannya begitu besar nanti mesin ketik di kantor PKI itu bisa kugunakan.

Tak ada yang aneh. Semua berjalan begitu menyenangkan. Kampung kami aman dan nyaman. Tiap hari Minggu kader-kader PKI menggerakkan warga bergotong royong. Kader-kader PKI pula yang membagi tugas pemuda desa untuk ronda jaga malam bergiliran. Setiap malam Minggu, kader-kader PKI menggelar acara hiburan, ada yang menari, menyanyi dan berpuisi. Sangat menyenangkan. Kampung kami ramai. Semua orang saling menyayangi.

***

Sore awal Oktober 1965. Itu hari yang paling bahagia. Hari itu aku dipersilahkan memakai mesin ketik di kantor PKI. Pak Musa, guruku mengaji Al Quran yang juga aktif menjalankan roda organisasi Pemuda Rakyat (PR) menyuruhku mengetik, memperbanyak sebuah surat yang datang dari CC PKI.

Aku tak ingat betul isi surat itu. Yang kuingat hanyalah kata-kata, “Gerakan 30 September tak ada sangkut pautnya dengan PKI. Itu adalah murni konflik di tubuh Angkatan Darat…” berlembar-lembar surat itu rapi kuketik ulang. Kata Pak Musa surat itu diperbanyak untuk disebarkan di Pandeglang.

Sampai sejauh ini tak ada yang aneh. Semua berjalan sebagaimana mestinya hingga suatu hari di bulan Desember 1965 rumahku didatangi sekelompok orang. Mereka membawa aku, kakak perempuanku dan suaminya. Kami dibawa ke kantor tentara. Setelah ditanya ini itu, aku dilepas dan dikenakan wajib lapor. Kakak perempuanku dan suaminya ditahan.

***

“Nanti pulang kampung bareng ya…” ajak Rustam teman satu kelasku di Sekolah Teknologi Negeri (STN) saat jam istirahat sekolah. Kami berteman sejak kanak-kanak. Dari SD sampai kelas 3 STN kami selalu sekelas. Sama sepertiku, di Pandeglang Rustam tinggal bersama familinya.

“Iya. Tapi aku harus lapor dulu ke kantor pak tentara.”

“Ya sudah nanti aku temenin.”

Besok tanggal 1 Ramadhan. Tiap kali bulan puasa sekolah kami libur sebulan penuh. Dan setiap libur sekolah aku selalu pulang kampung ke Citeureup. Aku sekolah di Kota Pandeglang karena di kampungku tak ada sekolah. Di Pandeglang aku tinggal bersama kakak yang kini ditahan oleh tentara.

Sepulang sekolah, didampingi Rustam, aku langsung mendatangi kantor tentara, tempat aku biasa melapor dua kali dalam seminggu. Siang itu kantor tentara yang jaraknya tak begitu jauh dari sekolah terlihat sepi, tidak seperti biasanya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam,” jawab pak tentara.

“Pak sekolahan kan libur sebulan nih. Jadi saya mau pulang kampung ke Citeureup. Saya mau pamit selama libur sebulan ini tidak bisa bisa memenuhi kewajiban melapor,” kataku.

“Mhhh…ayo ikut saya ke dalam,” ajak pak tentara. Saya ikut saja berharap didalam diberikan surat izin. Rupanya saya malah dimasukkan dalam penjara.

“Pak… saya mau pulang kampung… kangen sama ibu… sama ayah… kok malah dipenjara…!?” saya terus berteriak sekeras-kerasnya. Sementara pak tentara berlalu meninggalkan. Orang-orang di dalam penjara terus membujuk agar saya berhenti menangis.

***

Beberapa hari di penjara Pandeglang, bersama tahanan politik lainnya aku dipindahkan ke penjara di Serang untuk kemudian dioper lagi ke penjara Kebon Waru, Bandung.

Kehidupan di penjara Kebon Waru memprihatinkan. Awal masuk, para tapol hanya diberi makan bubur satu kali sehari. Malah, beberapa hari kemudian sama sekali tidak dikasih apa-apa.

Harapan makan dari besukan. Untuk mengganjal perut apapun dimakan, seperti merebus akar papaya, dedek buat makanan ayam, cicak, kalajengking, kelabang, tikus. Kalau nggak berani makan itu, ya kelaparan dan mati. Bila binatang-binatang itu sedang sulit ditemukan, kami merebus tanah. Ya, kami makan bubur tanah. Itu berlangsung selama dua tahun.

Di sana kami bertanam bayam dan membuat kerajinan tangan berupa tas, kap lampu dari batok kelapa, membuat kompor dari kaleng bekas dan membuat patung dari semen putih. Ilmu membuat kerajinan tangan kupelajari dari Hendra Gunawan, seorang maestro senirupa Indonesia yang pernah membuat lukisan berjudul ‘Pengantin Revolusi’ yang legendaris itu.

Hasilnya lumayam untuk dijual dan dibelikan beras. Makan nasi sesendok dengan bayam sebaskom menjadi menu utama.

Tentang Hendra Gunawan ini ada kisah menarik. Tahun 1947, bersama pelukis Affandi, dia mendirikan Sanggar Pelukis Rakyat. Selain melukis, dia juga mematung. Jadi, bila pernah ke Gedung DPRD Jogjakarta, Anda tentu melihat patung batu Jenderal Sudirman di halamannya. Itulah satu dari beberapa karya Hendra Gunawan.

Aku pernah dapat cerita dari seorang kawan. Katanya, saat merayakan Dirgahayu kemerdekaan Indonesia, Bung Karno selaku presiden diundang ke Bandung. Hendra yang menjadi panitia penyambutan Si Bung dari Blitar.

Mengetahui Hendra yang mengatur penyambutan dirinya, Bung Karno senangnya bukan main. Dia membayangkan akan disambut berbagai macam lukisan mengingat Hendra adalah pelukis revolusioner kenamaan kala itu.

Rupanya tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini memang usil. Dia memobilisasi anak-anak jalanan se-Kota Bandung. Kemudian mereka disuruh berjejer menyambut sang proklamator. Melihat itu Si Bung hanya geleng-geleng kepala. Namun karena naluri keberpihakan kepada rakyat miskin, Soekarno malah mengolah suasana itu menjadi mimbar bebas yang dahsyat.

***

Mulai April 1969, ada sedikit perbaikan makanan. Tahanan dapat jatah makan ikan asin yang sudah pahit. Kendati demikian aktivitas membuat kerajinan tangan untuk dijual keluar penjara dengan menitipkan kepada kerabat tahanan yang suka membesuk tetap berjalan. Soalnya, menu ikan asin itupun tak karuan, kadang ada, kadang nggak. Keluarga saya jauh di Banten, jadi jarang besuk. Nitipnya ke kerabat tahanan lain yang kebetulan tinggal di Bandung. Hasilnya lumayanlah buat beli cat dan perkakas merupa lainnya.

Tahun 1973, tahanan politik di penjara Kebon Waru dibuang ke Nusa Kambang. Di Nusa Kambangan, ada Sembilan lembaga pemasyarakatan. Tujuh untuk tahanan politik dua untuk tahanan kriminal.

Di tempat yang baru ini, jatah makanan tak ubah di penjara-penjara sebelumnya. Minim dan memprihatinkan. Kami dipaksa berkebun tapi tak punya hak memanen. Aku tak mau lapar, makanya aku mencuri. Yang kucuri tanaman yang kutanam dengan kedua tangan ini. Tanganku sendiri. Kebiasaan ini kupotret dalam sebuah lukisan yang kuberi judul: Mencuri Tanaman Sendiri.

Siang itu aku kedapatan mencuri satu biji buah kelapa. Sipir penjara yang memergoki marah bukan main. Hukuman bagi yang ketahuan mencuri kejam bukan kepalang. Jangankan merasakan, membayangkan saja aku tak sanggup.

“Woi, diam ditempat! Bergerak peluru ini akan mengantar kau ke neraka,” hardik Kapten Heng, sipir yang paling galak.

“Siap komandan…” teriakku tak kalah nyaring. Aku berdiri tegap laksana tentara yang sedang upacara.

“Perintah komandan…” sambungku, tetap dengan posisi siap grak. Pandangan lurus ke depan laksana pasukan baris berbaris. Buah kelapa yang baru saja kupetik masih kutenteng. Aku akting belagak seperti orang gila. Lebih tepatnya gila ABRI.

Dia terus menghardik, sementara aku terus melancarkan akting dengan berbagai trik berusaha meyakinkan Kapten Heng bahwa aku ini gila. Pucuk dicinta ulampun tiba. Semua berjalan sesuai harapan. Kapten Heng berpikir aku ini gila. Sukur aku lolos dari hukuman sadis yang membayangkannya saja aku tak berani.

Rupanya sejak itu ada sedikit kebebasan. Sejak itu aku mempertahankan kegilaan. Menjadi gila di Nusa Kambangan mendapat banyak kelonggaran. Sejak itu pula aku bebas mencuri buah-buahan tanpa takut ditangkap Kapten Heng. Hasil curian itu secara sembunyi-sembunyi kunikmati bersama kawan-kawan.

Mhhh…Bujang Parewa…Bujang Parewa…!? Sejak itu nama itu menempel di badanku. Para tahanan senang dengan perangaiku. Gara-gara belagak gila; gila ABRI, kami bisa mendapat menu tambahan untuk mengganjal perut.

“Dulu, di Pulau Buru ada tahanan yang dipanggil Bujang Parewa,” Kata Kak Jamil suatu ketika menjelaskan. Kak Jamil ini eks Digulis yang dibuang gara-gara pemberontakan 1926/1927 dan kembali dibuang ke Nusa Kambangan saat kemerdekaan yang ikut diperjuangkannya terkoyak.

“Bujang Parewa itu apa artinya?” tanyaku.

“Anak bandel yang banyak akal.”

“Bahasa mana itu?”

“Yang mendapat julukan Bujang Parewa itu tahanan dari Menes, Banten. Yang memberi julukan pertama kali haji Midun, tahanan dari tanah Minang.”

“Mhhh…Bujang Parewa itu bahasa Minang?”

“Setahuku iya. Katanya sih itu semacam istilah untuk menjuluki anak bandel yang banyak akal,” tutur Kak Jamil.

“Lah kok aku dijuluki demikian juga?”

“Perangai dan kisah kalian mirip.”

“Mirip gimana?”

“Orang yang dijuluki Bujang Parewa di Digul, Papua itu asalnya juga dari Banten. Jika kau dari Pandeglang dia dari Menes. Waktu ditangkap Belanda tahun 1927 dia berusia 15 tahun, sama sepertimu. Dan satu kemiripan lagi, kalian sama-sama banyak akal dan penuh gairah,” paparnya. Aku hanya manggut-manggut menyimak.

Ada juga yang menceritakan karena kecerdikannya, dia berhasil kabur dari Digul lalu ikut berlaga dalam piala dunia ketiga tahun 1938 di Perancis bersama tim Hindia Belanda. Kini namanya menempel padaku. Kisah Bujang Parewa di piala dunia nanti akan kuceritakan, sabar ya…

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • dasar budak budak imperialis .bangsa sendiri disiksa.bangsa yang baik pula.siapa pun yang membuat orang orang ini menderita akan dihukum seberat beratnya.
    agar keadilan tercipta.

  • bunxu

    menarik

  • Daya berdoa

    Sangat sedih sekali membacanya