Olahraga Untuk Membangun Bangsa Dan Karakter

DENGAN gembar-gembor Presiden SBY menegaskan target Indonesia untuk meraih gelar juara umum dalam Sea-Games XXI tahun depan. Target itu memang tidak muluk-muluk, apalagi Indonesia menjadi tuan rumah pertandingan olahraga terbesar di Asia Tenggara tersebut, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa olahraga nasional sedang terpuruk. Maklum, gelar juara sudah tidak pernah lagi di tangan Indonesia paska tahun 1997. Bahkan, SBY belum pernah sekalipun berhasil mengembalikan “penghargaan” itu ke pangkuan olahraga nasional.

Indonesia pernah mencatat “nama besar” dalam lembaran sejarah olahraga dunia. Pada pertandingan Asian Games ke-IV di Jakarta, tahun 1962, Indonesia menempati posisi kedua di bawah Jepang. Di bidang olahraga lain, khususnya sepak bola dan bulu tangkis, dua cabang olah-raga paling popular di mata rakyat, Indonesia juga pernah “diperhitungkan”.

Apa yang lebih penting, dan tidak pernah diperhatikan Presiden SBY, adalah menjadikan olahraga sebagai alat untuk membangun solidaritas antar bangsa dan persatuan nasional di kalangan rakyat. Olahraga bukan sekedar kompetisi dan pertandingan untuk mencari sang pemenang, tetapi lebih tinggi dari itu, adalah alat untuk membangun persaudaraan dan solidaritas.

Terlebih dalam situasi nasional sekarang ini, dimana bangsa kita terancam dirobek oleh menguatnya “fikiran sempit”, yang merasa agamanya paling unggul, sukunya paling hebat, daerahnya paling kuat, dan sebagainya. Boleh dikatakan, bahwa “Olahraga” telah absen sebagai alat pemersatu nasional.

Selain sebagai alat solidaritas dan persatuan, olahraga juga merupakan salah satu alat untuk membangun bangsa dan karakternya (nation and character building). Bung Karno pernah mengatakan, bahwa, selain olahraga sebagai alat pembentuk jasmani, olahraga adalah alat pembangun mental dan rohani yang efektif.

Namun, usaha untuk tujuan mulia itu telah kandas, karena olahraga sekarang ini banyak sekali dikelola di atas basis motif mencari “profit”,–keuntungan semata. Begitu banyak sekolah-sekolah olahraga dibangun, tetapi hanya sedikit anak-anak dan pemuda-pemuda Indonesia yang bisa didik dan dilatih tempat itu. Begitu pula nasib sarana dan fasilitas olahraga yang telah dikaplin oleh swasta, dan kita harus mengeluarkan uang untuk mengaksesnya.

Dan, sebelum berbicara gembar-gembor soal prestasi, seharusnya SBY tidak menutup mata atas nasib olahraga nasional yang dikungkungi oleh praktik korupsi dan nepotisme. Bukan prestasi dan nama harum atlet yang “menjulang tinggi”, melainkan korupsi dan nepotisme di kalangan pengurus cabang olahraga.

Indonesia pernah melaksanakan event olahraga bertajuk internasional, bahkan merupakan tandingan terhadap Olympiade itu sendiri, yaitu Games of New Emerging Forces (Ganefo). Ganefo, yang memiliki semboyan Onward! No Retreat (Maju Terus! Pantang Mundur), berlangsung 10 sampai 22 Nopember 1963. Diikuti 2.200 atlit dari 48 (versi lain menyebutkan, ada 51 negara) negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa (Timur).

Kita tidak mau sejarah menulis kita sebagai “bangsa besar tetapi berprestasi sangat kecil”, maka olahraga nasional harus dikembalikan kepada relnya, “sebagai alat membangun bangsa dan karakternya”; sebagai alat menjalin solidaritas dan memperkuat persatuan nasional di kalangan rakyat.

Pemerintah harus mulai kembali “menyingsingkan” lengan baju untuk membangun kembali olahraga nasional, misalnya memassalkan olahraga di kalangan anak sekolah, pekerja, dan masyarakat umum, memperluas saranan dan fasilitas olahraga, memberantas korupsi di kalangan pengurus olahraga, dan lain sebagainya.

Meskipun agak terlambat, kami mengucapkan selamat Hari Olahraga Nasional!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut