Obituari Arisworo Sutomo: Patah Tumbuh Hilang Berganti

Akhir tahun 1995, pasca Pertemuan Organiser Nasional yang dikenal dengan: Kongres Kolektif Nasional, ada dua penugasan yang diberikan padaku: pertama, aku diberi tugas masuk dalam kepengurusan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker); dan kedua, untuk kerja-kerja pengorganisiran aku masuk dalam kolektif kerja pengorganisiran petani, membantu kerja-kerja Serikat Tani Nasional (STN).

Dalam konteks penugasan kedua inilah, aku kemudian dikenalkan dengan seorang kontak maju bernama Bapak Arisworo Sutomo, biasa dipanggil Pak Tomo, oleh seorang kawan yang ditugasi menjabat sebagai Sekretaris Jenderal STN bernama Siti Rubaidah.

Pak Tomo saat itu mungkin lebih tepat disebut sebagai seorang budayawan. Dia memiliki sanggar tari bernama: Sanggar Tiwikromo, di samping aktif menulis hal-hal berbau seni dan budaya. Beliau adalah salah satu tokoh masyarakat yang aktif dalam pergaulan budaya di sekitar lingkungan Candi Borobudur, Magelang. Bersama Romo Kirjito, aktif menghidupi komunitas yang menggagas pertanian Organik di lereng Merapi.

Pengetahuannya yang luas tergambar dari obrolannya yang tak putus-putus tentang apa saja. Itulah yang membuat pertemuan kami selalu padat dengan pengetahuan baru yang kemudian tersimpan dalam memoriku. Salah satu yang kuingat adalah prinsip: hidup yang menghidupi dari sebuah telur ayam kampung yang sebenarnya merupakan embrio ayam. Dia hidup, dan mampu memberikan energi lebih bagi orang yang mengkonsumsinya.

Pak Tomo adalah pribadi yang mengesankan. Latar belakang kehidupan politik sebelumnya membuatnya mampu menilai kelompok manakah yang yang menurutnya layak beliau dukung: Partai Rakyat Demokratik (PRD). Sebagaimana Pramudya Ananta Toer, dia sangat percaya pada kaum muda yang tergabung dalam organisasi yang pasca peristiwa kerusuhan 27 Juli dinyatakan sebagai organisasi terlarang itu. Ya, sebelumnya, beliau terlibat dalam sebuah peristiwa sejarah yang lebih dikenal sebagai Malapetaka Limabelas Januari (Malari) tahun 1974. Posisinya saat itu, kalau tidak salah, adalah sebagai kurir. Dan akibat keterlibatannya tersebut, beliau (menurut penuturannya) sempat menjadi penghuni penjara Orde Baru.

Beberapa kisah sempat beliau ceritakan dalam konteksnya ketika menjadi tahanan. Satu yang kuingat adalah kisah tentang kiriman yang dia minta pada keluarganya ketika menjenguknya. Beliau tidak minta kiriman enak-enak, tapi hanya minta dikirim olahan bekatul yang disangrai. Menurutnya, bekatul adalah zat penuh gizi yang justru tidak bakal diminati oleh para sipir penjara, sehingga akan sampai kepadanya dengan utuh.

Sekeluarnya dari penjara, beliau berpikir bahwa basis ekonomi perlu diperkuat, itulah mengapa kemudian beliau memilih profesi sebagai pengusaha. Dan salah satu usaha yang dikembangkannya adalah bisnis yang berkaitan dengan dunia pariwisata, sesuai lingkungan hidupnya di sekitar Candi Borobudur.

Selain sebagai penyetok kebutuhan hotel seperti sandal dalam hotel dan pernak-pernik lain, beliau membangun semacam homestay bernama: Penginapan Rajasa. Penginapan ini berjasa untuk gerakan karena beliau seringkali menampung tamu macam kami untuk sekedar bermalam atau pun dipinjamkannya kepada kami sebagai tempat untuk pendidikan politik, atau pun keperluan-keperluan koordinasi lain. Tidak hanya menyediakan tempat, beliau dan keluarganya akan menjamin keperluan konsumsi saat kami berada di situ.

Tidak hanya itu. Beliau adalah (istilah Jawanya) jujugan kami saat kami menghadapi masalah dalam pendanaan suatu acara, atau pun juga ongkos ketika kami harus pergi berkoordinasi antar kota. Beliau akan dengan sangat mudahnya memberikan sangu pada kami atau menyumbang dana dalam acara yang hendak kami selenggarakan.

Salah satu korban penculikan yang sampai saat ini belum kembali: Wiji Thukul, adalah pengunjung tetap Pak Tomo. Kabarnya, beberapa saat sebelum hilang, Pak Tomo sempat memberikan tumpangan baginya di rumahnya.

Karena pengaruhnya yang luas, kami pun bisa dengan mudah mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat lain bersamanya. Biasanya beliau akan mengajak kami dengan mobil untuk mengenalkan kami misalnya dengan Romo di seputar Magelang, atau pun pimpinan pesantren. Salah satu yang pernah kami kunjungi adalah pesantren NU dengan pimpinannya yang rock n roll berambut gondrong bernama: Gus Yusuf.

Pengenalan kepada tokoh-tokoh atau pemuka agama tersebut pastilah dalam rangka perluasan gerakan. Termasuk usaha pengenalan pimpinan massa mahasiswa di Yogyakarta waktu itu, ketua KPRP, Haris Rusli Moty.

Gelombang penangkapan dan penculikan para aktivis di Jakarta sekitar Maret-April 1998 berimbas ke daerah. Dari pengembangan kasus di Jakarta ini, tercatat nama-nama orang yang jadi Target Operasi, termasuk di Yogyakarta. Selain Sahanuddin Hamzah, saya adalah salah satu yang diburu oleh aparat yang khusus dikirim dari Polda Metro Jaya.

Sejak saat itulah saya tidak bebas lagi bergerak di Yogyakarta, sementara gelombang perlawanan sedang di puncak ketinggiannya. Kawan-kawan di kampus seringkali merasa khawatir jika saya berada di antara mereka di sana. Saya harus sering berpindah tempat agar menyulitkan aparat menemukan saya. Kost-kostan saya di Karangmalang 24 jam ditunggu aparat berbaju preman, jarak sekian ratus meter dari kost (dekat lembah UGM) juga ada intel yang mengawasi, menunggu dengan foto saya di tangan. Situasi ini berjalan bahkan sampai sekitar 1,5 bulan sehabis Soeharto jatuh.

Situasi sulit, bantuan dana untuk menyambung hidup dan ongkos ke sana ke mari menjadi sangat berarti. Dalam situasi sulit ini, Pak Tomo mengirimkan uang lewat seorang kawan. Katanya untuk ongkos berpindah-pindah. Beliau sangat paham dengan situasi “buron” yang sedang saya lakoni. Ya, beliau juga pernah mengalami situasi yang sama, kurang lebih.

Situasi politik bergerak cepat. Atmosfir politik begitu kondusifnya bagi massa rakyat untuk terdorong ikut berpartisipasi dalam proses perubahan yang mengerucut pada tuntutan penggulingan Soeharto. Massa rakyat berpartisipasi dan bergerak sesuai kemampuannya masing-masing mendukung gerakan. Dan puncak gerakan di Yogyakarta terjadi pada peringatan Kebangkitan Nasional tgl 20 Mei 1998. Ribuan massa bergerak dari seluruh penjuru kota menuju Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Sungguh peristiwa yang menggetarkan. Dari setiap kampung, massa rakyat membentuk barisannya masing-masing dengan segala macam atribut dan bunyi-bunyian yang diusungnya. Saya menyaksikannya. Sesekali terdengar tuntutan: Gulingkan Soeharto, meski tidak massif. Dan arak-arakan berjalan tertib tanpa kerusuhan.

Sehari kemudian, tanggal 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri dan menunjuk BJ Habibie sebagai penggantinya. Peristiwa yang cukup tak terduga. Saya termasuk sebagian yang limbung menghadapinya. Meski demikian, euforia massa kemudian kembali menguat. Rasa syukur diekspresikan massa rakyat dengan berbagai cara. Di Pekalongan, daerah yang sering saya kunjungi selain Magelang, massa rakyat membuat acara tasyakuran bergilir di rumah warga, dari kampung satu ke kampung lainnya menyambut turunnya Soeharto. Riuh, banyak makanan dibagikan.

Demikian juga di Magelang. Pak Tomo menanggap pentas wayang kulit khusus untuk menyambut turunnya Soeharto dari jabatan presiden. Itu sudah jadi nadzarnya barangkali.

Pasca turunnya Soeharto, dan setelah berkoordinasi secara nasional untuk mensikapi kondisi objektif yang ada, saya ditarik utk berkoordinasi di Jakarta. Sejak saat itu lah kesempatan untuk ke Borobudur berkurang dan semakin tak berkesempatan.

Tahun 2002, saya KKN di Dusun Tanen, Kelurahan Ngargomulyo, Kecamatan Dukun Magelang. Pak Tomo saya undang sebagai pembicara untuk memberikan pengetahuan soal pertanian organik. Beliau datang sendiri dengan sukarela, kami tidak bs memberikan apa-apa, justru beliau memberi kami uang bensin. Tentu saja kawan-kawan KKN saya heran dengan ini.

Pertemuan terakhir dengan Pak Tomo terjadi tahun 2004, ketika  saya hamil 8 bulan anak pertama, setelah itu tidak sama sekali. Kadang mendengar kabar dari kawan yang baru bertemu beliau, Pak Tomo menanyakan kabar saya. Tapi situasi benar-benar membuat saya sulit meluangkan waktu berkunjung untuk menemui beliau.

Sampai di sore tanggal 4 Desember kemarin (red: 2018), kubaca kabar duka meninggalnya Pak Tomo. Terbayang kembali segala tentang beliau, sekaligus rasa sesal, belum sempat bertemu kembali saat beliau masih hidup.

Satu hal perlu dicacat mengenai sikapnya. Meski punya pengalaman politik jauh lebih dulu dari kami, beliau jauh dari sikap feodal. Sebagaimana Pramudya Ananta Toer, Pak Tomo juga adalah kader PRD. Beliau menerima prinsip-prinsip dasar keanggotaan PRD dan pernah dilantik menjadi kader.

Selamat jalan, Kawan. Kau telah menjalani dan melaksanakan tugas kehidupanmu dengan penuh kehormatan dan harga diri. Dan kenangan akan hidupmu bagai api yang akan selalu hidup dan menghidupi hati dan pikiran kami.

Rest in Power…

Sleman, 8 Desember 2018

Sri Wahyuningsih (NINING), mantan aktivis mahasiswa dan aktivis PRD yang sekarang aktif sebagai pelukis.

Keterangan foto: Arisworo Sutomo atau Pak Tomo (kanan)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut