Nobel Liu Xiaobo, Perang Ideologis Tanpa Akhir Terhadap Tiongkok

BEIJING: Kontroversi mengenai pemberian nobel perdamaian 2010 kepada Liu Xiaobo belum berakhir. Setelah pemerintah AS, dengan Presiden Obama secara lansung, meminta pembebasan Liu Xiaobo, kini giliran media tiongkok yang melakukan serangan balik.

Dalam editorial 14 oktober 2010, media ‘global times’ menyatakan bahwa Jumlah 1,4 juta dollar adalah harga yang cukup bagus bagi barat untuk memulai perang ideologi melawan Tiongkok, ketika memberikan penghargaan nobel perdamaian terhadap Liu Xiaobo.

Koran itu menjelaskan, barat akan terus menargetkan Tionkok sebagai sasaran perang ideologisnya. “tampaknya, cara barat harus menjadi satu-satunya cara dan rakyat di seluruh dunia harus mengadopsi sikap barat.”

Dijelaskan, Demokrasi dari barat coba diekspor ke negara-negara lain untuk mengadvokasi kebebasan memilih.

“Tetapi mengapa barat begitu bersemangat menggembor-gemborkan kebebasan individu, tetapi melarang keragaman politik di banyak negara berbeda?” tanya editorial itu kepada pembaca.

Editorial ini menegaskan bahwa Tiongkok telah banyak mengadopsi pengetahuan barat dengan terbuka. Tetapi mereka menolak baratisasi (westernisasi). Peremajaan peradaban adalah mimpi mereka. semakin banyak Tiongkok belajar pada barat, semakin tinggi penghargaan terhadap kebudayaan sendiri.

Mendiskreditkan Tiongkok adalah cara mempertahankan keunggulan moral negara-negara maju dan konsekuensinya menjaga hak istimewa mereka di timur, yang membantu memaksimalkan kepentingan negara-negara maju, katanya.

Lebih lanjut, artikel ini menuding pemberian nobel ini sebagai bagian dari konser yang dinyanyikan bersama oleh berbagai LSM, identitas ekonomi, dan organisasi internasional yang diatur oleh negara maju.

“Mereka berharap menggangu pertumbuhan Tiongkok, dan menekan tiongok di bawah kepentingan ekonomi mereka, mereka berharap suatu hari Tiongkok akan runtuh di bawah perang ideologi barat.”

Sebelumnya, menurut editorial itu, barat telah mengancam Tiongkok melalui google yang hendak menarik diri. Ini menandakan bahwa perang ideologis untuk melawan tiongkok masih jauh dari selesai.

Sebenarnya, jika Liu tidak terpilih, beberapa orang Tiongkok lainnya masih ada dalam penjaringan calon, termasuk Rebia Kadeer, Hu Jia dan Wei Jingshen, akan menjadi penerima.

Liu Xiaobo, di mata barat dan medianya, adalah seorang pejuang HAM dan demokrasi, tetapi di negerinya dia dianggap pembangkan. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut