Nicolas Maduro, Sopir Bus Jadi Menteri Luar Negeri

Revolusi bisa mengubah segala-galanya. Sebelum Evo Morales menjadi Presiden, parlemen Bolivia banyak diisi oleh orang berdasi dan bergelar. Sekarang, sebagian besar anggota parlemen adalah petani pengunyah daun koka.

Hal semacam itu terjadi juga di Venezuela. Nicolas Maduro, menteri luar negeri Venezuela saat ini, pernah menjadi sopir bus di kota Caracas. Ia lahir di kota Caracas, Ibukota Venezuela, pada 23 November 1962. Profesi pernah jadi “sopir bus” ini sering jadi ejekan media mainstream di barat. Mereka meremehkan kualitas dan kapasitas Nicolas Maduro. Tetapi ejekan itu terbukti salah total. Dan, Maduro termasuk menteri terbaik Hugo Chavez.

Maduro pernah menjadi aktivis mahasiswa tahun 1970-an hingga 1980an. Setelah itu, ia mulai berkecimpung dalam gerakan buruh. Saat itulah ia menjadi seorang sopir bus dan sekaligus mengorganisir serikat buruh.

Saat itu, krisis neoliberal sedang parah-parahnya di Venezuela. Pada 28 April 1989, meletus peristiwa terkenal “El Caracazao”, sebuah pemberontakan rakyat yang disulut oleh kenaikan harga bahan bakar minyak. Nicolas Maduro bagian dari gerakan rakyat itu.

Sejak tahun 1980an, Caracas sudah mengenal rapid transit system, atau sering disebut “Metro Caracas”. Sistem ini digerakkan oleh dua model transportasi utama: Subway dan Metrobus. Kedua-duanya pernah dijalani oleh Nicolas Maduro.

Maduro adalah pendiri Serikat Pekerja Subway pertama di Caracas. Sekarang, serikat pekerja subway adalah pendukung UNT (gabungan serikat buruh yang mendukung revolusi Bolivarian).

Ia menjadi bagian dari Pergerakan Bolivarian Revolusioner (MBR-200). MBR-200 adalah organisasi politik yang dibentuk oleh Chavez pada tahun 1982. Pada tahun 1994, Maduro sudah menjadi biro nasional MBR-200. Ia menyertai kampanye MBR-200 dalam jajak-pendapat untuk mengetahui apakah rakyat menyetujui Chavez sebagai presiden.

Saat itu, Maduro tetap menjadi bagian dari gerakan buruh. Ia termasuk salah satu pendiri Angkatan Pekerja Bolivarian (FSBT). Ia juga sempat menjadi koordinator nasional dari serikat buruh ini.

Pada tahun 1997, seusai melakukan jajak pendapat dan berkampanye ke seluruh negeri, para aktivis MBR-200 sepakat membentuk mesin electoral: Pergerakan Republik Kelima (MVR). Ia aktif berjuang bersama MVR dalam memenangkan Chavez dalam pemilu 1998.

Dalam pemilu 1998 itu, Maduro terpilih dari kendaraan MVR sebagai anggota senat. Ia juga pernah menjadi anggota Majelis Konstituante pada tahun 1999, lalu menjadi anggota Majelis Nasional pada tahun 2001. Ia ditunjuk sebagai koordinator grup progressif di Majelis Nasional. Pada tahun 2006, ia dipercaya menjadi presiden Majelis Nasional.

Pada Agustus 2006, Presiden Hugo Chavez menunjuk Maduro sebagai Menteri Luar Negeri Republik Bolivarian Venezuela. Sejak itu, namanya pun melejit sebagai diplomat ulung di forum-forum regional maupun internasional.

Ia adalah terbilang politisi muda di jabatan itu. Begitu menempati jabatannya, ia berjanji akan mengubah kementerian luar negeri Venezuela menjadi “Kementerian luar negeri anti-imperialis”. Meski begitu, ia tidak memaksa karyawannya di Kemenlu untuk mengikuti atau menjadi pengikut partai tertentu.

Pada tahun 2006 itu pula, Maduro mendampingi Chavez saat menghadiri pertemuan Majelis Umum PBB ke-61 di New York, Amerika Serikat. Di tempat itu, Chavez mengecam nafsu imperialistis AS dan menyebut Bush sebagai “iblis”.

Pada saat itu juga terjadi insiden di bandara internasional John F Kennedy di New York. Petugas bandara menahan Nicolas Maduro selama 1,5 jam di bandara. “Mereka kira-kira menyerang saya dan memborgol saya,” kata Maduro saat menceritakan kejadian itu. AS pun harus meminta maaf atas kejadian memalukan itu.

Pada tahun 2009 lalu, Maduro juga terlihat sangat garang ketika mengusir dubes dan diplomat Israel keluar Venezuela. Tindakan Venezuela itu merupakan bentuk kecaman negara sosialis itu atas serangan Israel ke jalur gaza. Hanya Venezuela, Bolivia, dan sejumlah negara amerika latin yang melakukan itu, tapi tak satupun negara islam dan arab yang melakukanya.

Ketika Chavez menjalani perawatan kanker, Maduro dipercaya menggantikan Chavez dalam berbagai pertemuan penting internasional. Tak heran, sejumlah media mainstream di barat berusaha memunculkan rumor, bahwa Maduro adalah “salah satu calon pengganti Chavez”. Tapi, itu hanya rumor belaka. Chavez sendiri sudah pasti akan maju kembali sebagai kandidat dalam pemilu 2012 mendatang.

Di Indonesia, ada juga sopir angkot yang jadi menteri. Ya, konon Patrialis Akbar, yang pernah menjadi Menteri Hukum dan HAM, pernah menjadi sopir angkot jurusan Senen-Jatinegara. Ia juga sempat menjadi sopir taksi di Jakarta.

KUSNO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut