Negara Sebagai Alat Perjuangan

Pada bulan Juni 1958, di hadapan peserta kursus Pancasila, di Istana Negara, Bung Karno bicara soal negara. Salah satu pendapatnya: negara hanya alat. Ya, sebuah alat untuk mencapai cita-cita pendirian negara itu sendiri. Apa cita-cita nasional kita itu? Sudah jelas dan kita sudah menghafalnya sejak SD: masyarakat adil dan makmur.

Menariknya, terlepas dari mana Bung Karno menarik defenisi itu, pendapat beliau soal negara sangatlah progressif: kita pergunakan negara ini sebagai satu alat untuk mengubah susunan masyarakat, untuk merealiasikan masyarakat adil dan makmur. Jadi, bagi Bung Karno, negara adalah—tidak lebih dan tidak kurang—alat perjuangan untuk merealisasikan cita-cita.

Negara sebagai alat perjuangan ini, kata Bung Karno, punya dua tugas: menentang segala musuh yang berusaha menyerang dan mengganggu kemerdekaan kita; dan, memberantas segala penyakit di dalam pagar. Dua hal di atas dianggap dapat mengganggu, bahkan menghalangi, perjuangan mencapai cita-cita nasional.

Kami hendak mengajak pembaca merefleksikan pengertian Bung Karno itu dengan realitas bernegara saat ini. Apakah negara masih menjadi alat perjuangan untuk mencapai cita-cita nasional atau sudah tidak?

Sejak kolonialisme angkat kaki secara formal dari bumi nusantara, bukan berarti bahwa mereka sudah kehilangan “nafsu” untuk menjalankan tujuan-tujuan kolonialnya di Indonesia: menguasai bahan baku/mentah, penguasaan pasar, tempat penanaman modal, dan tenaga kerja murah.

Sejak itu pula, kolonialisme, dengan jubah barunya “imperialisme”, berusaha terus-menerus melakukan intervensi dan mencari peluang menjalankan proyek “neo-kolonialisme”. Dan, momentum itu didapatkan oleh kaum imperialis ketika sayap kanan di dalam negeri, yang didukung penuh oleh imperialis, berhasil melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Bung Karno. Sejak itu, tahun 1967, Indonesia kembali mengalami rekolonialisme.

Di bawah rejim orde baru, agenda neo-kolonialisme mengalir cukup deras. Sebagian besar kekayaam alam bangsa dikapling-kapling oleh perusahaan asing. Sementara itu, secara internal, rejim orde baru melakukan penghancuran terhadap bangsa (nation) itu sendiri. Korupsi, salah satu jenis penyakit yang menghalangi cita-cita nasional, ditumbuh-kembangkan dan disuburkan saat itu.

Lalu, pada tahun 1998, kekuasaan orde baru runtuh. Orde baru sebetulnya diruntuhkan oleh gerakan rakyat. Akan tetapi, karena gerakan rakyat saat itu gagal mengambil-alih kepemimpinan politik negara, dan malah menyerahkankannya kepada kaum reformis, maka Indonesia pun memasuki periode “neo-kolonialisme yang lebih hebat”—sering disebut Neoliberalisme.

Sudah satu dekade lebih neoliberal berkuasa di negeri ini, kita benar-benar kembali sebagai bangsa terjajah. Kepentingan asing yang sangat eksploitatif dan menghisap dengan telanjang menindas rakyat kita. Tetapi, ketika itu terjadi, negara tidak berfungsi melindungi rakyat (seperti dikehendaki pembukaan konstitusi), tetapi malah menjadi perpanjangan tangan dari kehendak kolonialis itu.

Secara internal, pengrusakan terhadap dasar-dasar kebangsaan kita juga makin parah: penyakit egosentrisme menguat, fundamentalisme kian merusak, korupsi merajalela, federalisme menguat, individualisme tumbuh subur, dan lain sebagainya. Rakyat pun tidak begitu berdaya melawan ekspansi neoliberal ini.

Satu hal yang perlu dicatat: sejak orde berkuasa, watak negara sudah berubah. negara tidak lagi berwatak progressif, yakni sebagai alat perjuangan, melainkan sudah berwatak reaksioner: sebagai pembela kepentingan kolonialis. Hal itu terjadi karena kekuasaan negara dipegang oleh kekuatan-kekuatan politik reaksioner dan pro-kolonialisme.

Dalam fikiran kami, jika ingin mengakhiri situasi keterjajahan saat ini, kita tidak punya pilihan lain selain merebut kekuasaan politik. Rakyat, sebagai kekuatan mayoritas di negeri ini, harus mengambil-alih kendali kekuasaan politik. Hanya dengan cara itu, rakyat bisa mengubah watak negara: mengembalikan watak progressifnya sebagai alat perjuangan menuju masyarakat adil dan makmur.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut