Nasib Ajaran Bung Karno

BK-111.jpg

Tahun ini, tepatnya 6 Juni 2013, kita merayakan kelahiran Bung Karno yang ke-112. Yang ironis, kendati Bung Karno berjasa besar dalam membidani kelahiran bangsa ini, tetapi tidak ada perayaan resmi oleh negara untuk mengingat kelahiran orang penting dalam sejarah kelahiran Republik ini.

Ini memang kejanggalan besar. Di satu sisi, Bung Karno menyandang banyak predikat penting, seperti Bapak Proklamator, Bapak Pendiri Bangsa (Founding Father), Penggali Dasar Negara (Pancasila), dan lain-lain. Namun, di sisi lain, pemikiran atau ajaran-ajaran Bung Karno kurang menghiasi ruang-ruang pemikiran bangsanya. Bahkan, penyelenggara negara mengabaikan pemikiran Bung Karno ketika merumuskan kebijakan ekonomi, politik, dan sosial-budaya di negeri ini.

Kalau ditelisik dari sejarah, memang sejak orde baru berkuasa ajaran Bung Karno banyak dijegal dan didistorsi. Pada tahun 1966, MPRS yang dikomando AH Nasution mengeluarkan TAP MPRS Nomor XXVI/1966 tentang Panitia Peneliti Ajaran-Ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Jelas sekali, bahwa Tap MPRS ini merupakan ‘pelecehan’ terhadap ajaran Bung Karno, seolah-olah ada ajaran beliau yang bertolak belakang dengan Pancasila dan UUD 1945.

Naiknya rezim Orde Baru menandai titik balik perjuangan revolusi Indonesia yang dipimpin oleh Bung Karno. Tak hanya kekuatan politik pendukung revolusi yang dimusnahkan, seperti PKI/ormasnya dan “PNI ASU” (PNI Ali Sastroamidjojo-Surachman), tetapi juga ide-ide atau pemikiran yang mendasari jalannya revolusi itu sendiri, seperti marxisme, marhaenisme, dan lain-lain, turut diberangus. Padahal, pemikiran-pemikiran itu punya kontribusi besar dalam menunjukkan jalan bagi pembebasan Indonesia dari kolonialisme dan sekaligus jalan menuju masyarakat adil dan makmur alias sosialisme Indonesia.

Dengan TAP MPRS nomor XXV/1966, Marxisme resmi diringkus. Lalu, seiring dengan itu, ajaran pokok Bung Karno, yakni marhaenisme, mulai dipisahkan dari marxisme. Pada bulan Desember 1967, Partai Nasionalis Indonesia (PNI) pimpinan  Osa Maliki dan Usep Ranawidjaja, yang disokong rezim Orde Baru, membuat Pernyataan Kebulatan Tekad untuk membersihkan marhaenisme dari marxisme. Padahal, pada kongres Partindo di Jakarta, 26 Desember 1961, Bung Karno sudah menegaskan bahwa marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia.

Yang lebih ironis, Partai Nasionalis Indonesia (PNI) juga mencabut gelar Bapak Marhenisme yang disandang Bung Karno. Sejak itu PNI sudah menjadi bagian dari ‘keluarga Orde Baru’. Sejak itu pula PNI bukan lagi partai pengikut garis ideologi Bung Karno. Ajaran Marhaenisme Bung Karno juga mulai disejajarkan dengan “komunisme”.

Penjegalan terhadap ajaran Marhaenisme Bung Karno berlanjut hingga pasca reformasi 1998 lalu. Pada bulan Mei 1999, Presiden BJ Habibie di hadapan pimpinan pusat Pemuda Muhammadiyah menuding adanya gerakan Komas, yakni komunisme, marhaenisme, dan sosialisme, yang berusaha memecah-belah bangsa. Pendek kata, di mata Habibie kala itu, marhaenisme masih ancaman bagi bangsa Indonesia. Coba bayangkan betapa kacaunya anggapan itu: Marhaenisme sebagai salah satu teori perjuangan dalam melawan kolonialisme dan memerdekakan Indonesia, eh, malah dianggap ancaman oleh Habibie.

Sebelum tahun 1965, tulisan-tulisan dan pidato Bung Karno banyak yang dibukukan dan dicetak secara massal. Namun, begitu orde baru berkuasa, tulisan-tulisan dan pidato Bung Karno seolah-olah menjadi “buku terlarang” seperti buku-buku kiri lainnya.

Tak hanya itu, sejak orde baru hingga sekarang ini, tulisan-tulisan dan pidato Bung Karno tidak pernah diajarkan secara resmi di sekolah-sekolah dan Universitas. Pancasila yang diajarkan di sekolah dan Universitas pun bukan Pancasila hasil ‘penggalian’ Bung Karno, yakni pidato 1 Juni 1945, melainkan Pancasila yang sudah ‘dipreteli’ oleh rezim Orde Baru.

Bandingkan dengan pejuang-pejuang pembebasan dari bangsa lain, seperti Mahatma Gandhi di India, Sun Yat Sen di China, Simon Bolivar di Venezuela, Kwame Nkrumah di Ghana, Jose Rizal di Philipina, dan lain-lain, pemikiran-pemikiran mereka tetap tersosialisasi secara massif baik melalui lembaga pendidikan maupun penerbitan.

Tak heran, banyak yang kurang memahami dengan baik ajaran Bung Karno. Kita tak perlu ‘ketawa geli’ bila masih banyak orang, termasuk akademisi dan media massa, sering menyamakan marhaen dengan petani (Baca pengertian Marhaen di sini). Jangankan itu, mereka yang mengaku “marhaenis” saja masih banyak yang tidak bisa menjelaskan esensi marhaenisme sebagai terobosan teoritik Bung Karno untuk memahami problem kelas dan struktur sosial masyarakat Indonesia.

Bung Karno menyusun pemikiran-pemikirannya dengan memakai analisa marxisme, sedangkan mereka yang mengklaim pengikutnya kini sengaja menjauhi marxisme. Padahal, di eranya Bung Karno, yakni dari tahun 1920-an hingga 1960-an, hampir semua pemikiran politik, ekonomi, dan sosial-budaya dipengaruhi marxisme. Artinya, bagaimana bisa menyelami pemikiran Bung Karno tanpa marxisme?

Kamis, 6 Juni yang lalu, kita merayakan kelahiran Bung Karno yang ke-112. Bulan Juli ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, kita rayakan sebagai Bulan Bung Karno. Saya kira, inilah momentum yang tepat untuk menghidupkan kembali ajaran-ajaran Bung Karno dan menjadikannya sebagai penunjuk jalan untuk membawa bangsa ini keluar dari ketertindasan menuju cita-cita awalnya, yakni masyarakat adil dan makmur.

Syukurlah, sekarang mulai banyak buku-buku tentang Bung Karno dan perjalanan hidupnya. Meskipun, kebanyakan buku-buku itu hanya sibuk menggosipkan kehidupan pribadi Bung Karno.

Namun, bagi saya, tugas kaum marhaenis saat ini adalah menuliskan dan mencetak sebanyak-banyaknya tulisan-tulisan atau buku mengenai ajaran-ajaran Bung Karno. Karya-karya Bung Karno, seperti Di Bawah Bendera Revolusi (DBR), Sarinah, Kepada Bangsaku (karya-karya Bung Karno dari 1926-1957), kumpulan pidato Bung Karno, pidato 1 Juni 1945 (Pancasila) dan lain-lain, perlu dicetak ulang dan didistrubusikan secara massal.

Sigit Budiarto, aktivis Marhaenis dan kontributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • onet

    Memang sepenuhnyalah Indonesia belum merdeka. Sedemikian kayanya negeri ini hingga mampu sodara sendiri menjajah sodaranya..