Napak Tilas Para Pembuat Sejarah

Sekelompok pemuda tersebut, yang dalam strata sosial dan ekonomi sangat diuntungkan jika dibandingkan dengan kelas sosial lainnya lebih memilih dan menanggalkan semua keasyikan dan kenikmatan Dunia Kampus hanya untuk berpihak pada mereka yang terpinggirkan oleh pembangunan.

Penemuan “huruf” sebagai simbol-lambang phonetik dalam sejarah peradaban manusia, merupakan salah satu penemuan terbesar dan terevolusioner dalam perjalanan sejarah perkembangan manusia purba. Penemuan simbol phonetik tersebut selayaknya penemuan “api” dalam masyarakat komunal primitif maupun penemuan mesin uap dalam revolusi industri di Eropa. Penemuan api dalam masyarakat homo saphiens –yang salah satu fungsinya adalah untuk memasak makanan hingga mampu membunuh bakteri-bakteri- sedikit banyak mampu memberikan sumbangsihnya bagi percepatan evolusi organ biologis tubuh manusia. Selain mampu mempercepat evolusi organ biologis manusia, penemuan api juga mampu merevolusi alat-alat produksi atau alat-alat kerja para manusia purba guna berburu maupun berocok tanam. Perubahan corak produksi/cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya berdampak pada perubahan relasi sosial yang terjadi. Perkembangan evolusi biologis manusia bebarengan dengan perkembangan alat-alat kerja manusia, memberikan kemampuan para homo saphiens untuk beradaptasi dengan keliaran dan keganasan alam dimana mereka tinggal. Demikian halnya dengan penemuan mesin uap di Eropa. Penemuan mesin uap berhasil memprovokasi bagi lahir dan berkembangnya masyarakat industri di Eopa sekaligus mereproduksi nilai-nilai dan budaya-budaya baru yang lebih progresif mendesak nilai dan budaya konservatifisme masyarakat feodal Eropa. Revolusi industri –yang ditandai dengan penemuan mesin uap- bukan hanya mampu memporakporandakan dan menjungkirbalikan konservatisme tatanan Masyarakat Eropa Abad Pertengahan, namun ia juga mampu merubah jalannya peradaban dan perkembangan masyarakat diluar Eropa.

Demikian juga halnya dengan lahirnya huruf sebagai simbul phonetik, yang terangkai menjadi kata dan kalimat, merupakan salah satu penemuan terbesar dan terpenting bagi sejarah peradaban umat manusia. Bagi peradaban komunitas masyarakat kuno maupun komunitas masyarakat modern, salah satu fungsi menulis/tulisan adalah untuk pengingat. Karena itu, tulisan seringkali diidentikan sebagai pengingat. Rangkaian simbul phonetik yang tertulis dan terpampang di dinding gua-gua manusia purba, maupun prasasti-prasasti warisan sejarah yang ditulis atas perintah para penguasa mengingatkan kita akan satu hal. Rangkaian simbul phonetik yang mewujud dalam kalimat yang tertera diatas batu nisan, tidak lain dan tidak bukan berfungsi untuk mengingat sekaligus mengabarkan pada dirinya sendiri maupun orang-orang diluar lingkup kesukuannya, bahwa si A atau si B yang tertera di batu nisan adalah individu penghuni tetap kuburan tersebut. Selain peninggalan dalam wujud Menhir maupun Batu Berundak, prasasti yang tertera didalamnya bisa mengingatkan pada siapapun yang kebetulan membacanya akan makna dan arti dari peninggalan tersebut. Dalam tahap selanjutnya tulisan bisa berfungsi untuk menjelaskan ataupun menarasikan sebuah event atau kejadian dalam satu kurun waktu tertentu. Ditemukannya prasasti-prasasti kuno bagi sejarawan, bukan hanya bermakna sebagai pengingat namun sekaligus berfungsi sebagai pengabaran. Pengabaran tentang situasi dan kondisi yang terjadi saat dimana prasasti-prasasti tersebut ditulis. Berkat ditemukannya huruf, para pendahulu bukan hanya telah meninggalkan jejak-jejak peradaban namun sekaligus telah mengabarkan pada generasi-generasi selanjutnya. Dalam kurun waktu tertentu –belajar dari lontar atau kakawin yang lahir dalam peradaban masa feodalisme Nusantara- tulisan bukan hanya berfungsi menarasikan sepak terjang pra elite bangsawan, namun seringkali berfungsi untuk mengabarkan tentang nilai-nilai yang hendaknya dianut oleh setiap warga yang tinggal dan bermukim diwilayah kekuasaannya. 

Demikianlah menurut hemat kami, novel berlatar sejarah “Lelaki Ditengah Hujan” karya Wenry Wanhar adalah sebuah karya sastra yang hendak mengingatkan sekaligus mengabarkan pada kita semua dan generasi-generasi berikutnya, bahwa pernah dalam rentang kurun waktu tertentu dalam perjalanan sejarah bangsa ini, muncul sekelompok pemuda -yang sebagian besar berasal dari dunia kampus- hadir hendak merobah dan mempengaruhi jalannya kebijakan pembangunan yang sedang dijalankan Soeharto. Sekelompok pemuda tersebut, yang dalam strata sosial dan ekonomi sangat diuntungkan jika dibandingkan dengan kelas sosial lainnya lebih memilih dan menanggalkan semua keasyikan dan kenikmatan Dunia Kampus hanya untuk berpihak pada mereka yang terpinggirkan oleh pembangunan. Sekelompok pemuda yang dengan kesadaran menggadaikan masa depan untuk berbaur dan manyatu dengan kelompok masyarakat diluar identitas dirinya, sekelompok pemuda yang merasa punya beban moral dikarenakan ketimpangan dan peminggiran akibat kebijakan pembangunan yang sedang dijalankan. Ilmu dan wacana kritis yang mereka dapatkan bukanlah hasil dari pembelajaran di Kampus, melainkan pembelajaran yang mereka dapatkan secara tersembunyi. Ancaman penjara akibat mengkonsumsi wacana alternatif bukan menjadi hambatan, melainkan menjadi pemicu untuk terus bergelut dengan wacana-wacana alternatif. Dunia Kampus dalam wacana masyarakat awam menjadi menara gading, diluluh lantahkan oleh sepak terjang mereka yang terus bergerak dan melawan dengan mengatasnamakan almamater pada awalnya. Seiring dengan perkembangan waktu, nama almamater mulai mereka tanggalkan untuk merubah dirinya memiliki identitas baru, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD). 3 B, singkatan dari Bunuh-Bui-Buang, secara sadar mereka terima sebagai konsekuensi logis dari sikap politik dan perbuatan yang mereka ambil.  

Sedikit banyak, novel ini berhasil meletakan dan menyajikan aroma dan aura perjuangan yang tengah terjadi. Menurut kami, kekuatan novel ini bukanlah terletak pada sajian catatan kronologis sejarah yang ada, namun pada kemampuan Wenry untuk mendisplay dan menyuguhkan pada para pembaca akan situasi yang terjadi pada saat kurun waktu dimana novel ini memperoleh inspirasinya. Meskipun sebagai salah satu penikmat novel sekaligus sebagai salah satu pelaku sejarah dimana Novel ini ditulis, masih banyak terjadi lompatan-lompatan cerita yang terputus dan terbata-bata –sehingga belum menjadi alur yang menyegarkan- ataupun munculnya lompatan-lompatan kronologis kejadian yang mungkin terlupakan, namun novel ini mampu memprovokasi dan menarik para pembaca generasi milenial untuk masuk dan merasakan situasi yang terjadi saat itu. Novel Sejarah Lelaki Ditengah Hujan sebagai sebuah karya sastra -demikian Wenry Wanhar suatu waktu menjelaskan- dia memiliki ruh sendiri, dia memiliki kehendak sendiri, yang mungkin tidak bersesuaian dengan kehendak dan keinginan penulis itu sendiri. Novel ini telah jalannya sendiri untuk memilih kapan ia harus lahirkan dan dimana ia harus diluncurkan. Mungkin situasi demikianlah yang sedari awal disadari oleh Wenry bahwa Novel ini tidaklah sempurna untuk menarasikan dan mendeliveri kepada pembaca akan situasi dan kondisi pergerakan mahasiswa di tahun 90 an. Fungsi Novel ini, menurut hemat kami sebagai “provokator” bagi lahirnya novel-novel sejenis untuk lebih menyempurnakan untuk lebih menjelaskan kepada pembaca secara detail situasi dan kondisi saat itu. Meskipun telah banyak karya-karya ilmiah sebagai prasarat untuk menyelesaikan jenjang pendidikan dari S1 hingga S3 yang mengupas sepak terjang PRD melawan Tirani, namun dikarenakan terbatasnya segmen pembaca menjadikan sejarah PRD dan Gerakan Mahasiswa 1990 an seakan terlupakan dalam narasi sejarah perjalanan bangsa ini.

Apalagi bila mengingat bahwa hegemoni dan narasi resmi sejarah yang diajarkan dunia pendidikan sama sekali tidak pernah menempatkan dan memposisikan sejarah gerakan sebagai bagian penting dari perubahan bangsa ini, novel ini sedikit banyak mampu menghadirkan alternatif bacaan dan wacana sebagai kontra-hegemoni sejarah resmi negara. Manipulasi dan hegemoni narasi wacana sejarah resmi negara memang harus disanggah, memang harus diluruskan dengan wacana dan narasi sejarah serupa namun dengan sudut pandang yang berbeda. Sebuah loncatan dan terobosan besar menurut hemat kami dengan apa yang dituliskan oleh Wenry ini. Dialah pelopor untuk memecah kebekuan dan kekakuan pendekatan sejarah yang dilakukan oleh penguasa, siapapun itu penguasanya.

Tinjauan kritis atas kelemahan dan kekurangan Novel Sejarah Lelaki Ditengah Hujan, bukan akan menjadi pelemah namun malah sebaliknya, dia akan menjadi penguat sekaligus menjadi inspirasi bagi lahirnya novel-novel sejenis. Dengan caranya sendiri, Pramoedya Ananta Toer mampu menyajikan wacana alternatif serta wacana kritis dalam memandang sejarah Pergerakan di Indonesia. 

Kelik Ismunanto, pengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Keterangan buku:

Judul buku: Lelaki di Tengah Hujan

Pengarang: Wenri Wanhar

Penerbit: Milestone

Tahun terbit: 2019

Tebal buku: 364 hal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut